Muslimah News, KISAH INSPIRATIF — Diriwayatkan oleh hakim Mosul, yaitu Yahya bin Yahya al-Ghassani, ia menuturkan, “Ketika suatu hari Umar bin Abdul Aziz berkeliling pasar-pasar Homs untuk mengontrol perdagangan dan mengetahui harga-harga, tiba-tiba seseorang berdiri. Ia memakai dua pakaian bergaris yang berwarna merah dari Qatar, lalu berkata, ‘Wahai Amirulmukminin, sungguh aku telah mendengarmu memerintahkan orang yang terzalimi untuk datang kepadamu.’ ‘Ya,’ jawab Umar. Ia berkata, ‘Dan kini telah datang kepadamu seseorang yang terzalimi dari tempat yang jauh.’ ‘Di manakah keluargamu?’ tanya Umar. Orang tersebut menjawab, ‘Di ‘Adan.’ Umar berkata, ‘Demi Allah, sesungguhnya tempatmu dari tempat Umar amatlah jauh.’
Kemudian, Umar turun dari kendaraannya. Ia berdiri di hadapannya, lalu berkata, ‘Kezaliman apa yang menimpamu?’ Ia menjawab, ‘Tanah milikku direbut dan dirampas oleh orang bawahan Anda.’ Umar segera menulis surat kepada Urwah bin Muhammad, wali kota atas daerah ‘Adan. Ia berkata kepadanya, ‘Amma ba’du. Apabila surat ini sampai kepadamu, maka dengarlah argumen orang yang membawanya. Apabila telah nyata hak untuknya, berikanlah haknya kepadanya.’ Kemudian, Umar menstempel suratnya dan memberikannya kepada orang tersebut.
Saat orang itu hendak pergi, Umar berkata kepadanya, ‘Jangan tergesa-gesa. Sesungguhnya kamu telah mendatangi kami dari negeri yang jauh. Tidak diragukan lagi bahwa kamu telah menghabiskan bekal yang banyak untuk perjalananmu ini. Kamu telah membuat lusuh baju-baju baru dan mungkin saja tungganganmu mati.’
Setelah itu, Umar mengalkulasi seluruh pengeluaran orang tersebut hingga jumlahnya sebelas dinar. Umar memberikan kompensasi tersebut kepadanya. Ia berkata, ‘Sebarkanlah hal ini di antara manusia sehingga orang yang terzalimi tidak merasa berat untuk mengadukan kezaliman yang menimpanya setelah hari ini, walaupun tempat tinggalnya jauh.’
Hikmah
Demikianlah, karakter pemimpin ideal adalah layaknya Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia menjadi perisai bagi rakyatnya tatkala mereka terzalimi. Ia juga menjadi pelindung serta pembela ketika rakyatnya mengalami kesusahan. Setidaknya ada tiga pelajaran yang bisa kita jadikan teladan dari kisah Umar bin Abdul Aziz.
Pertama, pemimpin harus takut dan khawatir jika ia berbuat zalim. Ini karena sifat zalim sangat dekat dengan dosa dan jauh dari surga. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sepeninggalku akan ada para pemimpin yang berdusta dan berbuat zalim. Barang siapa membenarkan kebohongan mereka dan membantu kezalimannya, ia bukan dari golonganku dan aku pun bukan dari golongannya dan ia tidak akan datang ke Al-Haudh (telaga surga).” (HR Nasa’i dan Tirmidzi)
Kedua, seorang pemimpin harus peka dengan kondisi rakyat yang dipimpinnya. Kepekaan ini akan membuatnya dicintai rakyat. Kepekaan seorang pemimpin juga tecermin dari sikapnya yang tidak antikritik, mau menerima masukan dari siapa pun tanpa melihat latar belakang atau status sosialnya, dan tidak mudah terbawa perasaan manakala dihujat atau dicecar atas kebijakannya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik pejabat negara kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian. Mereka mendoakan kalian dan kalian pun mendoakan mereka. Seburuk-buruk pejabat negara kalian adalah mereka yang kalian benci dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian.” (HR Muslim).
Ketiga, seorang pemimpin seharusnya menjadikan ketaatan kepada Allah sebagai prioritas utama. Dengan ketaatan itu, ia akan senantiasa berhati-hati dalam menetapkan kebijakan. Jangan sampai kebijakannya menyusahkan sehingga merampas hak rakyat. Di sistem sekuler hari ini, pemimpin dan pejabat negeri ini sangat jauh dari kriteria pemimpin ideal. Hanya untuk mengamini ambisi dan kepentingan oligarki kapitalis, mereka rela menetapkan kebijakan zalim, semisal penggusuran tanah warga dengan dalih proyek strategis nasional. Ganjaran mengerikan telah menanti bagi siapa saja, baik penguasa ataupun pejabat negara yang merampas hak rakyat secara zalim. Nabi ﷺ bersabda, “Siapa yang merampas tanah orang lain dengan cara zalim, walaupun hanya sejengkal, maka Allah akan mengalunginya kelak di hari kiamat dengan tujuh lapis bumi.” (HR Muslim).
Kisah teladan pemimpin yang amanah akan banyak kita temukan dalam lembaran sejarah peradaban Islam yang agung. Ini karena sistem Islam kala itu benar-benar menjadikan setiap aspek kehidupan diatur dengan syariat Islam. Sungguh, kita tentu merindukan sosok pemimpin mulia dengan sistem Islam kafah yang paripurna sebagai landasan dalam membangun masyarakat dan negara. [MNews/CJ-YG]
Sumber: Al-Basya, A.R. (2021). Jejak Perjuangan dan Keteladanan Para Tabi’in. Jakarta: Darul Haq.
