[Kabar] Tanggul Jebol dan Bangunan Liar Memperparah Banjir Cirebon

[Kabar] Tanggul Jebol dan Bangunan Liar Memperparah Banjir Cirebon

Muslimah News, LENSA DAERAH — Banjir menggenangi sebagian wilayah Cirebon setelah hujan mengguyur sejak Sabtu hingga Ahad (6—7 Juli 2024). Akibatnya, 4.269 unit rumah, tiga tempat ibadah, satu sarana, 15 hektare persawahan terendam, dan 16.310 jiwa atau 5.443 kepala keluarga terdampak banjir sehari setelah bencana alam itu melanda.

Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jawa Barat Hadi Rahmat mengatakan, banjir terjadi di tujuh desa yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Cirebon. “Desa Arjawinangun (Kecamatan Arjawinangun), Desa Bayalangu Lor, Desa Bayalangu Kidul, Desa Jagapura Kulon, Desa Jagapura Kidul, Desa Jagapura Lor (Kecamatan Gegesik), Desa Bunder (Kecamatan Susukan),” katanya.

Banjir terparah dialami tiga desa di Kecamatan Gegesik dengan ketinggian mencapai satu meter. Bahkan, merendam jalur provinsi penghubung Cirebon-Indramayu dengan ketinggian mencapai 50 sentimeter.

Hadi mengutarakan, banjir ini dipicu hujan deras. “Dipicu curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi yang lama, baik di wilayah Cirebon maupun di wilayah Majalengka,” ucapnya.

Tingginya curah hujan mengakibatkan lima sungai meluap, lanjutnya, dan diperparah buruknya drainase serta saluran irigasi yang semuanya mengalami sedimentasi dan penyempitan.

Paling Parah

Tidak hanya itu, banjir paling parah dalam lima tahun terakhir ini juga disebabkan jebolnya tanggul Sungai Songket yang merupakan aliran sekunder. Pemerintah setempat akan mempercepat proses perbaikan tanggul guna mencegah tingginya debit air sungai terus mengalir ke pemukiman warga.

Di sisi lain, aktivis lingkungan pedesaan H. Ikhsan Abdullah mengatakan, hujan lebat yang turun di tengah musim kemarau harus menjadi kajian serius pemerintah.

“Ini salah satu contoh dampak buruk yang terjadi akibat Pemdes setempat, Pemkab, serta Pemprov belum serius memitigasi persoalan perubahan iklim dengan baik. Sehingga banjir terjadi di musim kemarau dan melanda beberapa wilayah di Kabupaten Cirebon,” ujarnya.

Menurutnya, keadaan saat ini benar-benar darurat. “Sungai mati dan air hujan tidak bisa mengalir akibat atas aliran sungai dibangun tempat usaha dengan beton permanen. Sungai betul-betul mati tidak berfungsi, maka bangunan liar di atas sungai, di atas saluran air bahu jalan provinsi harus segera dibongkar,” katanya.

Apabila terlambat, ungkapnya, petaka pasti lebih besar lagi. “Jangan gara-gara ulah segelintir warga yang menikmati keuntungan dengan mengambil objek vital penting, maka seluruh warga rumahnya tenggelam,” ucapnya.

Tentu saja diharapkan banjir ini segera surut dan penanganan tuntas yang mencapai akar persoalan dapat dilakukan. [MNews/RA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *