Muslimah News, NAFSIYAH — Setan kerap kali mengelabui manusia, termasuk para juru dakwah. Tidak ada yang aman dari gangguannya. Ulama mengingatkan kita untuk berhati-hati dan senantiasa meminta perlindungan Allah Swt. dari gangguan setan.
Sesungguhnya hati manusia ibarat sebuah benteng. Sebagai musuh kita, setan selalu ingin memasuki, memiliki, dan menguasai benteng tersebut. Tidak mungkin benteng tersebut bisa terjaga, kecuali dengan penjagaan ketat pada pintu-pintunya. Apa saja pintu-pintu setan yang harus kita waspadai?
Mewaspadai Pintu-Pintu Setan
Pintu pertama ialah pintu terbesar yang akan dimasuki setan, yaitu hasad (dengki) dan tamak. Jika seseorang tamak pada sesuatu, ketamakan itu akan membuatnya buta, tuli, dan gelap dari cahaya kebenaran. Orang tersebut tidak lagi mengenal jalan masuknya setan. Jika ia memiliki sifat hasad, setan akan menghiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik, padahal itu sesuatu yang mungkar.
Hasad bisa terjadi di antara sesama muslim, aktivis dakwah, bahkan ulama, tetapi dengan kondisi yang berbeda-beda sesuai kadar keimanan mereka.
Pintu kedua ialah pintu terbesar, yaitu marah. Marah dapat merusak akal manusia. Jika akal manusia lemah, saat itu tentara setan akan melakukan serangan dan menertawakannya. Rasulullah saw. bersabda, “Jika seseorang marah, lalu ia mengatakan, ‘A’udzu billah (aku berlindung kepada Allah),’ akan redalah marahnya.” (As-Silsilah ash-Shahihah).
Pintu ketiga adalah pintu yang sangat disukai setan, yakni menghiasi tempat tinggal, pakaian, dan segala perabotan yang ada. Seseorang yang perhatiannya hanya tertuju untuk mengumpulkan harta dunia, ia akan sangat merugi karena umurnya dihabiskan untuk tujuan ini saja.
Pintu keempat, yakni kekenyangan karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan semangat untuk melakukan ketaatan kepada Allah Taala. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia, ialah yang akan sering lapar pada hari kiamat nanti.” (HR Tirmidzi).
Pintu kelima, yakni tamak. Tamak merupakan kehinaan karena ia merasa tidak pernah cukup. Barang siapa lebih mementingkan hawa nafsunya dibandingkan kemuliaan dirinya, berarti ia adalah orang yang lemah akalnya dan tipis imannya.
Sabda Rasulullah saw., “Lihatlah orang yang di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang di atas kalian karena yang demikian itu lebih layak bagi kalian untuk tidak memandang hina nikmat yang Allah limpahkan kepada kalian.” (HR Muslim).
Pintu keenam, yakni sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk melakukan sesuatu secara perlahan-lahan. Rasul saw. bersabda, “Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah, sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (HR Abu Ya’la).
Pintu ketujuh, yakni cinta harta. Ia akan berusaha mencari harta bagaimanapun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin, dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta, misalnya berinfak atau mengeluarkan sedekah.
Pintu kedelapan, yaitu mengajak orang awam supaya taasub pada mazhab atau golongan tertentu sehingga ia tidak mau beramal selain dari yang diajarkan mazhab atau golongannya.
Pintu kesembilan, yaitu mengajak orang awam untuk memikirkan hakikat Zat dan Sifat Allah yang sulit diraih oleh akal mereka sehingga membuat mereka ragu terhadap masalah paling penting dalam agama, yakni masalah akidah.
Terakhir, pintu kesepuluh, yaitu selalu buruk sangka kepada sesama muslim. Jika seseorang memiliki sifat ini, ia akan selalu merendahkan dan merasa lebih baik dari orang lain. Seharusnya seorang mukmin selalu mencari uzur (alasan) dari saudaranya. Berbeda dengan orang munafik yang selalu mencari-cari aib orang lain.
—
Itulah sepuluh pintu setan yang harus kita waspadai. Selayaknya kita selalu mohon perlindungan Allah Swt. agar dijauhkan dari semua pintu tersebut. Jika kita sedang berada di salah satu pintu setan tersebut, segeralah keluar dan bertobat pada-Nya. Namun, yang paling dahsyat saat ini ialah ketika sistem sekularisme membuka semua pintu setan untuk menjauhkan umat dari ketaatan pada Allah Taala.
Induk kemaksiatan saat ini ialah demokrasi-sekularisme. Artinya, berjuang untuk menggantikan sistem fasad yang diterapkan saat ini dengan sistem Islam kafah merupakan salah satu cara kita untuk menutup semua pintu setan (pintu kemaksiatan). Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]
