Muslimah News, DUNIA REMAJA — Bicara soal pemuda itu seru! Enggak ada habisnya. Banyak hal yang bisa diulik dari sosok pemuda. Mau zaman apa saja, sama. Dari zamannya Nabi Adam sampai akhir zaman saat ini, si pemuda tetap segar untuk diperbincangkan.
Nah Sobat, kali ini kita akan berbincang tentang sosok pemuda yang luar biasa. Kisahnya menjadi inspirasi kebaikan bagi segenap manusia, padahal kisahnya sudah berlalu ribuan tahun yang lalu, lo. Akan tetapi keviralannya tetap riuh hingga detik ini. Terutama pada setiap Zulhijah seperti sekarang. Siapakah ia?
Pemuda Penuh Cinta
Namanya Ismail. Kehadirnnya di muka bumi sangat lama dinantikan. Ia adalah keturunan dari seorang Nabi yakni Nabi Ibrahim as. dan kelak dirinya pun menjadi seorang Nabi.
Lamanya penantian akhirnya terbalas. Ismail lahir ke muka bumi sebagai hadiah terindah dari Allah Swt. atas kesabaran Nabi Ibrahim beserta istrinya dalam menantikan keturunan. Ismail kecil disambut penuh suka cita dan kehangatan oleh kedua orang tuanya.
Ismail pun tumbuh menjadi pemuda yang tidak biasa. Dirinya memiliki kesabaran dan ketakwaan yang sangat besar. Ia santun dan hormat kepada kedua orang tuanya, serta taat kepada Rabb-nya. Tidak heran jika kedua orang tuanya pun begitu mengasihi dan menyayanginya. Keluarga ini hidup dengan berlimpah kebahagiaan dan keberkahan. Masyaallah!
Hingga tibalah ujian yang Allah Swt. turunkan untuk keluarga yang berbahagia ini. Berkali-kali Nabi Ibrahim as. bermimpi. Dalam mimpi tersebut, Allah Swt. memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as. agar menyembelih anak semata wayangnya, Ismail. Kegundahan pun merajai jiwa sang Nabi. Namun berbekal takwa, Nabi Ibrahim pun menyampaikan mimpi tersebut kepada anaknya.
Sungguh di luar jangkauan akal. Ismail yang kala itu baru beranjak remaja memberikan jawaban yang begitu menggetarkan. Dirinya mengaminkan mimpi sang ayah, lalu meyakinkan agar perintah Allah Swt. tersebut segera ditunaikan. Beraneka rasa berkecamuk di hati Nabi Ibrahim as., terlebih lagi istrinya.
Hingga tibalah hari yang ditentukan. Seluruh anggota keluarga Nabi Ibrahim telah siap menaati perintah Allah Taala. Demikian pula Ismail yang akan segera disembelih, hatinya tenang tiada gundah sedikit pun. Dadanya dipenuhi rasa cinta kepada Allah Taala. Hidup dan matinya benar-benar ia persembahkan hanya untuk-Nya. Masyaallah!
Keimanan keluarga beserta keturunan Nabi Ibrahim as. sungguh telah teruji. Allah Swt. menyaksikan semua itu dan mengganjarnya dengan sesuatu yang tidak terduga. Ganjaran yang sukses melipatgandakan bahagia beserta takwa. Ya, Allah Swt. menggantikan Ismail dengan hewan kurban terbaik. Akhirnya, hewan tersebutlah yang disyariatkan untuk disembelih, bukan lagi Ismail. Allahuakbar!
Demikianlah kisah seorang pemuda yang masih tetap viral hingga sekarang. Sudah ribuan tahun peristiwanya berlalu, tetapi manusia dari masa ke masa tetap saja tahu. Tidak kehilangan jejak sama sekali. Ini karena kisah tersebut telah Allah Swt. abadikan di dalam Al-Qur’an yang mulia. Bagaimana mungkin manusia akan melupakannya. Hehehe!
Lantas, apa sih pelajaran yang bisa kita ambil dari sosok pemuda bernama Ismail? Yes, takwanya yang begitu istimewa. Tandai!
Pemuda, Harapan pada Setiap Masa
Hai, kamu yang masih muda! Hari-harimu sudah digunakan untuk apa saja? Coba kilas balik sejak beberapa tahun lalu. Bagaimana kondisimu saat itu? Bandingkan dengan yang sekarang. Apakah kondisi sekarang jauh lebih baik, sama saja, atau justru jauh memburuk?
Bagaimana salatmu yang lima waktu? Cek! Gimana tilawah dan tadabur Al-Qur’anmu? Cek! Seriuskah kamu mengikuti pembelajaran? Cek! Apakah makin respek kepada orang tua? Cek! Dari segelintir aktivitas ini, bagaimana kira-kira? Sudahkah mendapatkan jawaban dari kondisi terbarumu? Cukup jawabnya dalam hati ya, Guys!
Waktu terus melaju. Tidak terasa, tiba-tiba kamu sudah naik kelas. Bahkan mungkin ada juga yang sudah lulus sekolah. Hari-hari berlalu tanpa mau menunggu. Jika kita tidak bergegas, bersiaplah menjadi pecundang di dunia yang fana ini. Terkatung-katung dalam amalan yang sia-sia, bahkan juga membinasakan. Astagfirullah!
Tidak dimungkiri bahwa aneka rupa kesenangan dunia begitu menggoda, utamanya bagi para pemuda. Jika salah melangkah, kaki akan tergelincir dan tubuh pun berkubang dalam lumpur dosa yang menyengsarakan. Oleh karenanya, pemuda harus waspada. Jangan terlena dan berfoya-foya dengan tipu daya dunia.
Pemuda harus mengingat kembali hakikat tujuan hidupnya di dunia, terlebih sebagai seorang muslim. Pemuda muslim semestinya sudah memahami bahwa tujuan hidupnya di dunia bukanlah sekadar riuh dalam canda tawa. Dirinya juga tahu, bahwa hidup di dunia sejatinya hanyalah jembatan untuk mencapai pada tujuan yang sesungguhnya, yakni surga. Dengan demikian, hidupnya di dunia ditujukan tidak lain adalah untuk beribadah kepada Allah Taala. Zat Yang Maha Menggenggam dunia dan seisinya. Zat yang Maha Menghidupkan dan Mematikan. Zat yang Maha Memiliki surga dan neraka.
Dengan demikian, tidaklah seorang pemuda muslim akan menghabiskan waktunya pada hal yang sia-sia. Apalagi masa muda adalah masa yang singkat dan terbatas. Usainya masa muda juga tidak lagi dapat diulangi. Oleh karenanya, sungguh merugilah pemuda yang tidak memanfaatkan masa mudanya dalam ketaatan. Sungguh kerugian yang teramat besar.
Tidak ada pilihan yang lebih baik bagi para pemuda, kecuali terus mempertebal imannya, mengasah takwanya, dan mempertajam ilmunya. Inilah bekal terbaik baginya di dunia dan akan menghantarkan pada derajat istimewa kelak di surga. Bahkan, bukan hanya memberikan maslahat bagi dirinya, tetapi juga bagi segenap manusia dan alam semesta pada masanya. Sungguh istimewa!
Tidakkah ingin menjadi pemuda yang istimewa? Ayo, perjuangkan segera!
Agar Menjadi Istimewa
Menjadi sosok yang istimewa tentu tidaklah bisa didapat begitu saja. Butuh usaha dan perjuangan untuk bisa memperolehnya. Sebagaimana Ismail muda yang merelakan lehernya untuk disembelih, maka demikianlah gambaran sebenar-benarnya takwa yang melahirkan sosok istimewa.
”Apakah harus disembelih dulu baru disebut takwa?” Bukan begitu juga maksudnya, Guys. Esensi dari kisah keluarga Nabi Ibrahim as., itulah yang harus kita pahami dan amalkan dalam konteks saat ini, yakni iman dan takwa yang totalitas kepada Allah Taala. Dengan demikian, apa pun yang diperintahkan oleh Allah Swt., semua akan dilaksanakan. Betul-betul mendengar dan taat. Inilah esensinya yang mesti kita aplikasikan dalam kehidupan. Begitu!
Jadi, iman dan takwa itulah kata kuncinya. Bagaimana cara mendapatkannya? Mari kita bedah bersama!
Pertama, kita harus mengerti bahwa iman dan takwa ini harus dicari. Tidak bisa jika sekadar faktor keturunan. Ini karena, iman dan takwa adalah rasa dan amal yang muncul karena adanya pemahaman. So, pastikan bahwa pemahaman yang kita miliki adalah pemahaman yang benar. Pemahaman yang bersumber pada sesuatu yang terjamin kebenarannya yakni Al-Qur’an dan Sunah.
Oleh karena itu, penting untuk mengkaji sumber pemahaman tersebut. Wajib bagi setiap muslim untuk mengkaji Islam secara menyeluruh. Dengan langkah awal ini, maka dipastikan iman dan takwa akan didapatkan dan kukuh bersemayam di dalam jiwa.
Kedua, tidak cukup jika hanya berjuang untuk mendapatkan iman dan takwa. Hal penting lainnya adalah upaya agar kunci ini tetap ada dalam genggaman. Ya, kita harus berjuang agar tetap istikamah dalam keimanan dan ketakwaan sehingga memperoleh gelar husnulkhatimah pada akhir cerita kehidupan.
Caranya adalah dengan senantiasa bergaul dengan orang-orang saleh. Senantiasa bersama para pemburu kebaikan. Selalu duduk bersama orang-orang berilmu. Ingat, jangan sekali-kali menyendiri. Godaan setan itu tidak akan pernah berhenti, baik dari golongan jin ataupun manusia. Bisikan untuk berbuat kemaksiatan itu selalu tajam mengintai. Sedikit saja kita lengah, maka mereka siap menerkam. Waspadalah!
Wahai pemuda, jangan sampai lunglai dengan kesenangan dunia yang menipu. Fokuskan pandangan pada tujuanmu diciptakan. Jadilah pemuda istimewa sebagaimana Nabi Ismai as. dengan iman dan takwa. Sungguh indah yang telah Allah Swt. janjikan bagi para pemuda yang beriman dan bertakwa. So, ambil keistimewaan tersebut, jangan sia-siakan!
Rasulullah saw. bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah Swt. di bawah naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang senatiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan cantik dan berkedudukan untuk berzina, tetapi ia berkata, ”Aku takut kepada Allah!”, seseorang yang memberi sedekah, tetapi ia merahasiakannya seolah-olah tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kirinya, dan seseorang yang mengingat Allah pada waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya. (HR Al-Bukhari dan Muslim). [MNews/YG]
Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 167
