Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, KELUARGA — Gabut bagi kaum milenial dan Gen-Z adalah ekspresi rasa bosan yang bisa berujung bad mood. Ia bingung ingin melakukan sesuatu, terlihat malas, atau tidak ingin melakukan apa pun. Gabut awalnya adalah singkatan dari “gaji buta”. Kondisi ketika seseorang tidak melaksanakan tugasnya tetapi tetap menerima gaji.
Sesungguhnya keadaan yang wajar jika sesekali seseorang merasa malas beraktivitas. Ini adalah bagian dari perasaan alami yang bisa muncul setelah lelah menyelesaikan banyak tugas. Akan tetapi, jika gabut mendadak muncul dan terjadi berulang kali, tentu ini harus diwaspadai. Berarti perasaannya selama ini belum tertata dengan baik atau belum memiliki panduan jelas ketika mengekspresikan sesuatu yang ada di dalam hati dan pikiran. Gabut yang terus berulang tentu tidak berkontribusi positif bagi remaja, padahal usia muda para milenial dan Gen-Z adalah masa emas. Mereka bisa melakukan banyak hal yang bermanfaat, tidak hanya bagi diri dan keluarganya, tetapi juga bagi bangsa dan umat manusia.
Remaja Muslim Terbina dengan Islam
Remaja muslim tentu akan menjadikan Islam sebagai bagian dari kehidupannya. Akidah Islam akan menjadi landasan bagi pemikiran dan perasaannya. Untuk menjadikan Islam sebagai way of life, remaja muslim hari ini butuh dukungan dari orang tua dan lingkungan sekitarnya.
Mengagendakan pembinaan Islam bagi remaja hari ini harus menjadi perhatian semua pihak. Dengan demikian, generasi muda akan paham akidah dan syariat Islam. Akan tertanam dalam diri remaja bahwa Islam adalah panduan jalan hidup setiap remaja muslim.
Jangan pernah menganggap remeh gabut yang berulang dan menjadi kebiasaan atau lifestyle remaja muslim. Mereka adalah generasi yang memiliki semangat bergelora, dinamis, aktif, dan kreatif. Sudah seharusnya masa muda mereka dipenuhi berbagai aktivitas positif. Bukan aktivitas yang sia-sia, apalagi yang memperturutkan hawa nafsu semata. Nabi Muhammad saw. bersabda, “Tidak akan bergeser kaki manusia pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya sehingga ditanya tentang lima hal. Tentang umurnya untuk apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam hal apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia memperolehnya dan dalam hal apa ia belanjakan, serta tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmunya).” (HR At Tirmidzi).
Akan ada pertanggungjawaban kelak terkait umur dan masa muda. Remaja akan paham, bertanggung jawab dengan usia emasnya, dan tidak gabut terus jika ia telah terbina dengan Islam. Akan terbentuk keimanan yang kukuh dan keterikatan dengan Islam kala berpikir dan bersikap sebagai hasil dari proses pembinaan remaja.
Libatkan Remaja dalam Kegiatan Bernilai Ibadah
Rasulullah saw. bersabda, “Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan (Arsy-Nya) pada hari yang tidak ada naungan (sama sekali), kecuali naungan-Nya, yakni pemimpin yang adil, seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah, …” (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah saw. juga bersabda, “Sesungguhnya Allah Swt. benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memiliki shabwah.” (HR Ahmad). Maksud “shabwah” adalah pemuda yang tidak mengikuti hawa nafsunya. Ia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan. Ia melaksanakan berbagai ketaatan, seperti salat berjemaah, membaca Al-Qur’an bersama, menuntut ilmu agama, dan saling mengingatkan untuk salat Duha, qiamulail, dan ibadah mahdhah lainnya. Semua ini seharusnya dikerjakan juga oleh remaja muslim, tidak hanya menjadi aktivitas orang tuanya.
Remaja juga bisa diajak melakukan tugas-tugas di rumah yang biasanya hanya dikerjakan oleh orang tuanya. Mereka dapat membantu membersihkan rumah, menata ruangan, mencuci, memasak, dll. Bahkan mendampingi adiknya belajar juga dapat menjadi agenda rutin remaja di rumah. Orang tua sambil mengiatkan bahwa semua aktivitas tersebut harus dilakukan remaja semata karena Allah Taala. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata, “Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang lain.” (Al Jawabul Kaafi).
Senantiasa Berikhtiar dan Berdoa
Di antara upaya yang bisa dilakukan remaja muslim agar tidak gabut terus adalah melakukan salat malam. Dengan demikian, pada pagi hari ia akan bangun dalam keadaan penuh semangat, pikiran jernih, dan hati yang cerah. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Setan mengikat pada tengkuk kepala seorang dari kalian manakala ia tidur dengan tiga ikatan. Ia buat tempatnya pada setiap ikatan (dengan mengatakan), ‘Bagimu malam yang panjang, maka tidurlah.’ Jika ia bangun lantas berzikir kepada Allah, terbukalah satu ikatan. Kemudian, jika ia berwudu, terbukalah satu ikatan lagi. Kemudian, jika ia salat, terbukalah seluruh ikatan itu. Ia pun pada pagi hari (akan bangun) dalam keadaan bersemangat dan baik jiwanya. Kalau tidak demikian, ia pada pagi hari (bangun) dalam keadaan jelek jiwanya, lagi pemalas.” (HR Bukhari).
Rasulullah saw. juga mengajarkan berdoa agar tidak dihinggapi rasa gabut. “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Aku berlindung kepada Engkau dari lilitan utang dan kesewenang-wenangan manusia.” (HR Bukhari). Semoga remaja kita menjadi generasi hebat, penuh semangat, dan pastinya anti-gabut. [MNews/YG]

Gabut adalah salah satu buah dr diterapkanx sistem kapitalisme sekularisme. Dalam sejarah Islam belum pernah dengar kisah gabut terutama d kalangan remaja, Krn hakikatnya remaja Islam adalah remaja yg produktif hasil didikan sistem pendidikan Islam kaffah.