[Nafsiyah] Taat atau Maksiat Itu Tumbuh dan Berkembang

[Nafsiyah] Taat atau Maksiat Itu Tumbuh dan Berkembang

Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar

Muslimah News, NAFSIYAH — Ketaatan kepada Allah Swt. sesungguhnya akan melahirkan ketaatan-ketaatan yang lain.

Awalnya, seorang muslim, misalnya, mungkin sekadar belajar agama (tafaqquh fii ad-diin) untuk mengamalkan kewajiban thalab al-‘ilmi (mencari ilmu). Lalu, ia terdorong melakukan ketaatan lain, yakni mengamalkan semua  ilmu yang dapatnya. Selanjutnya, ia pun terdorong melakukan kewajiban lain, yakni menyebarluaskan atau mendakwahkan ilmunya kepada orang lain.

Awalnya, seorang muslimah mungkin ingin berhijrah. Ia awali dengan bertobat dari segala dosa. Ia lalu mulai menjalankan ketaatan dengan melaksanakan kewajiban menutup aurat, memakai kerudung dan jilbab. Kemudian, ia terdorong melakukan ketaatan lain. Ia mulai mendalami agama dengan rajin mendatangi majelis-majelis ilmu. Berikutnya, ia berusaha mengamalkan ilmu yang diperolehnya. Selanjutnya, ia pun boleh jadi terdorong mengajak banyak orang untuk sama-sama berhijrah.

Demikian pula sebaliknya. Saat seorang muslim pertama kali melakukan suatu kemaksiatan, boleh jadi hal itu juga akan melahirkan kemaksiatan-kemaksiatan lain.

Betapa banyak kasus perzinaan, misalnya, diawali dengan maksiat dalam bentuk sering khalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis). Seringnya khalwat boleh jadi diawali maksiat berupa seringnya berkomunikasi dengan lawan jenis yang melanggar syariat, seperti chatting-an mesra di media sosial.

Boleh jadi juga zina diawali oleh maksiat berupa kegemaran menonton gambar-gambar atau video-video porno.

Contoh lain, betapa banyak maling kelas kakap, dahulunya hanyalah maling kelas teri. Betapa banyak gembong narkoba dengan omset miliaran rupiah, dahulunya hanyalah penjual miras seharga recehan. Betapa banyak koruptor besar, dahulunya hanya melakukan korupsi kecil-kecilan.

Demikianlah, sebagaimana kata Imam Ibnu al-Qaayim rahimahulLaah, “Lahir, tumbuh, dan berkembangnya ketaatan (kepada Allah) adalah seperti biji (benih) yang Anda tanam, lalu menjadi pohon, kemudian berbuah, dan buahnya Anda makan. Selanjutnya, Anda tanam kembali biji (benihnya.) Setiap kali pohon itu berbuah, Anda panen buahnya, lalu Anda tanam kembali biji (benihnya). Demikian juga, kemaksiatan, (ia lahir, tumbuh, berkembang, dan menghasilkan buah, dst). Oleh karena itu, renungkanlah, wahai orang yang berakal! (Ibnu al-Qayyim, Al-Fawaa-id, hlm. 35).

Alhasil, yuk, segera lakukan ketaatan kepada Allah Swt. dan jangan ditunda-tunda. Semoga saja hal itu akan mendorong kita untuk melakukan banyak ketaatan yang lain.

Sebaliknya, jangan pernah melakukan satu pun kemaksiatan kepada Allah Taala. Ini karena, boleh jadi satu kemaksiatan yang kita lakukan akan mendorong kita melakukan banyak kemaksiatan yang lain. Na’uudzu bilLaah min dzaalik.

Wa maa tawfiiqii illaa bilLaah ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi uniib. [MNews/YG]

Sumber: ariefbiskandar[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *