[Dunia Remaja] Semangat Taat, Jangan Kasih Kendor!

[Dunia Remaja] Semangat Taat, Jangan Kasih Kendor!

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Suasana Lebaran di negeri ini bisa sebulan penuh. Apalagi momen halal bi halal sekaligus temu kangen digeber di setiap tempat. Halal bi halal dengan rekan kerja, teman sekolah, lingkungan RW, kelurahan, tempat kursus, komunitas mobil, kawan maen futsal, teman nongkrong di cafe, dan lain sebagainya.

Ya, kita, sih, maklum aja. Temu kangen demi menyambung silaturahmi memang amazing banget. Orang bela-belain untuk mudik atau berbondong-bondong piknik yang penting asyik.

Seru juga kalau ngeyelnya kita saat memaksimalkan ngisi liburan Lebaran dengan silah ukhuah sama ngototnya dengan semangat taat kita yang pantang kendur pasca-Ramadan. Tanpa tetapi, tanpa nanti. Kita kejar deh rida Allah dalam keseharaian. Enggak cuma yang wajib aja ditunaikan, tetapi amalan sunahnya juga enggak ketinggalan. Mantul!

Tantangan Pasca-Ramadan

Sobat, bulan mulia sudah berlalu. Suasana Ramadan nan syahdu dan religius perlahan hilang ditelan hiruk pikuk euforia Lebaran dan bulan kemenangan. Imbasnya, semangat taat kita mulai menghadapi banyak tantangan. Kalau enggak siap, bisa-bisa bekal Ramadan kita tergerus godaan setan dalam keseharian. Waspadalah!

Kita enggak bisa menutup mata bahwa lingkungan di sekitar kita setelah Ramadan berlalu kembali seperti habitat awalnya. Kehidupan yang jauh dari  nilai-nilai Islam. Kebiasaan-kebiasaan baik selama Ramadan mulai memudar.

Al-Qur’an kembali menempati rak-rak buku yang mungkin akan dicari lagi kalau ketemu Ramadan tahun berikutnya. Kotak infak kembali penuh terisi angin, tidak seperti saat Ramadan yang dipadati lembaran-lembaran rupiah.

Masjid dan majelis taklim kembali lengang. Remaja muslimah yang tampil menawan dengan busana yang menutupi auratnya, tidak sedikit yang kembali menanggalkan kerudung dan jilbabnya. Seiring berakhirnya bulan mulia, kemaksiatan perlahan mulai menyeruak ke permukaan. Setelah sebulan sebelumnya enggak begitu terlihat karena setan dibelenggu.

Setelah menggembleng diri untuk menguatkan akidah dan keimanan selama Ramadan, idealnya pada Syawal dan seterusnya kita sudah punya benteng pertahanan. Walaupun godaan setan datang dari segala arah, kini saatnya kita buktikan buah ketakwaan hasil puasa Ramadan. Istikamah dalam ketaatan. Pertanyaannya, gimana caranya agar tetap istikamah?

Kuatkan Sinyal Ketaatanmu

Becermin dari para pengemban dakwah yang tetap istikamah hingga ajal menjemput, kita bisa mengambil banyak hikmah. Salah satunya dari perjalanan hidup almarhum Ustaz Khair Hari Moekti. Semoga Allah Swt. menempatkan beliau di surga bersama para pejuang Islam lainnya. Beliau adalah dai mantan rocker era 80-an yang hijrah meninggalkan dunia keartisan, lalu terjun ke dalam dunia dakwah hingga akhir hayatnya.

Dalam suatu kesempatan, beliau ngasih satu kunci agar kita bisa tetap istikamah menjadi pribadi taat meskipun Ramadan sudah lewat.

Kuncinya, Mengaji!

Mengaji. Kunci istikamah ini yang beliau pegang hingga maut menjemputnya. Ini karena, mengaji setidaknya ngasih tiga kekuatan dalam menjalani proses hijrah.

Pertama, menguatkan pondasi keimanan. Setiap ikut pengajian, kita diingatkan sifat-sifat Allah yang Mulia. Allah Swt. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Penolong, Maha Kaya dan Mengayakan, serta Yang Menghidupkan dan Mematikan. Jadi, kita pantang menyerah untuk menjadikan halal-haram sebagai standar perbuatan. Meskipun banyak tantangan, yakinlah Allah pasti tidak akan berlepas tangan.

Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allâh,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati. Bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’” (QS Fushshilat: 30).

Kedua, dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang saling mengingatkan dan menguatkan. Dalam forum pengajian, kita bisa bergabung dengan komunitas dakwah. Mereka tidak sungkan saling mengingatkan jika ada kawan yang menyerempet kemaksiatan dan menguatkan saat temannya terpuruk ditimpa masalah.

Rasulullah saw. bersabda, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu. Kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tidak sedap.” (HR Bukhari dan Muslim).

Umar bin Khaththab ra. berkata, “Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh, peganglah erat-erat.” (Quutul Qulub 2/17)

Ketiga, takarub menjadi kebiasaan. Hanya Allah Swt. tempat kita mengadu dan meminta pertolongan. Dengan aktif mengaji, kita diajak membiasakan diri untuk mendekati-Nya. Getol menunaikan berbagai amalan sunah sehingga rida Allah Swt. membersamai kita dalam suka dan duka.

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, Rasûlullâh saw. bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barang siapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’” (HR Bukhari).

So, semangat taat kita jangan kasih kendor, ya Sobat. Jagain biar sinyal ketaatannya tetap full bar. Enggak blank spot, meskipun banyak godaan menghadang. Kuncinya, mengaji dan dakwah. Kuy! [MNews/YG]

Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 192

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *