[Nafsiyah] Generasi Pemenang Akhir Zaman

[Nafsiyah] Generasi Pemenang Akhir Zaman

Penulis: Ustaz Irfan Abu Naveed

Muslimah News, NAFSIYAH — Umat ini adalah umat yang dimuliakan dengan Islam (lihat QS Al-Maidah [3]: 5). Umat ini dijanjikan memimpin bumi untuk menegakkan din yang Allah ridai (lihat QS An-Nur [24]: 55). Umat ini disifati sebagai umat terbaik (lihat QS Ali ’Imran [3]: 110), serta tidak layak terhina (lihat QS Ali ’Imran [3]: 139).

Itu semua akan diraih tatkala umat beriman dengan akidah Islam dan beramal dengan syariat Islam. Predikat-predikat unggul inilah yang seharusnya mengantarkan umat yang besar ini memimpin dunia, mengantarkan petunjuk dan rahmat Islam ke seluruh penjuru alam semesta, sekaligus mencegah kejahatan kaum durjana.

Tidaklah Allah Swt. menurunkan nushrah-Nya kepada suatu umat untuk menegakkan kekuasaan Islam, Al-Khilafah, melainkan sifat keimanan dan amal saleh melekat pada mereka. Mereka berkeyakinan dengan akidah Islam dan beramal dengan syariat Islam. Allah Swt. berfirman,

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi.” (QS An-Nur [24]: 55).

Al-Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam At-Tafsîr al-Kabîr (XXIV/412) menyifati, “Itulah mereka yang menyatukan antara keimanan dan amal saleh.”

Menafsirkan frasa wa ’amilû al-shâlihât, Al-Hafizh Ibnu Jarir ath-Thabari (w. 310 H) menjelaskan, yakni orang-orang yang menaati Allah dan Rasul-Nya dalam hal-hal yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan dan larang. Hal ini menegaskan mereka yang beramal saleh, yakni mereka yang menegakkan syariat Islam.

Ini karena, kata ash-shâlihât dalam ayat ini diungkapkan dengan alif lâm ta’rîf yang bermakna khusus atau spesifik, yakni syariat Islam, bukan sembarang syariat, yang juga dilandasi oleh keimanan, yakni akidah Islam. Merekalah golongan yang Allah sifati sebagai golongan yang mengimani Rasulullah saw., memberikan pertolongan terhadap dakwahnya, dan meniti jalan Islam.

Ini sebagaimana firman-Nya, “Orang-orang yang beriman kepadanya (Muhammad saw.), memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepada dirinya (Al-Qur’an), mereka itulah kaum yang beruntung.” (QS Al-A’raf [7]: 157).

Mereka adalah golongan yang berdakwah, menyampaikan hidayah Islam kepada umat manusia, dan menegakkan keadilan Islam di tengah-tengah mereka.

Allah Swt. berfirman, “Di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberikan petunjuk dengan hak dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan.” (QS Al-A’raf [7]: 181).

Becermin dari Generasi Pemenang

Becermin dari kisah teladan yang terukir dalam sejarah besar umat Islam, akan didapati cerita dari masa ke masa yang tidak pernah lengang dari teladan. Tinta-tinta emas sejarah tidak pernah kering dari kisah sejuta kebaikan. Rasulullah saw. dan para sahabatnya adalah generasi terunggul umat ini. Keunggulannya disaksikan sejarah umat manusia.

Bahkan, Allah Swt. menggambarkan keadaan mereka melalui firman-Nya, “Berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali ‘Imran [3]: 146).

Tidak sedikit sahabat hasil didikan Rasulullah saw., seorang sahabat bisa dinilai setara dengan seribu orang. Baik dari segi kualitas keimanan, keberanian, keikhlasan, maupun ketepatan cara berpikirnya layak untuk dijadikan teladan.

Al-Imam Al-Alusi (w. 1270 H) dalam Rûh al-Ma’âni (I/92) bertutur, “Meskipun kalian belum seperti mereka, serupailah mereka. Sungguh menyerupai orang-orang mulia itu adalah keberuntungan.”

Tercatat dalam sejarah penaklukan Mesir dari penjajahan Romawi, Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab ra. menulis surat untuk ‘Amr bin al-‘Ash ra., “Ammâ ba’d. Aku heran atas keterlambatan kalian menaklukkan Mesir. Sungguh kalian telah memerangi Mesir bertahun-tahun lamanya. Tidaklah hal yang demikian terjadi, melainkan karena apa yang telah kalian perbuat dan kecintaan kalian pada dunia, sama seperti kecintaan musuh kalian. Sungguh Allah Swt. tidak akan memberikan pertolongan-Nya, melainkan dengan sebab lurusnya niat mereka.”

Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab ra. mengirimkan empat orang sahabat. Mereka adalah Al-Zubair bin al-‘Awwam, Al-Miqdad bin al-Aswad, ‘Ubadah bin al-Shamit, Maslamah bin Mukhallad radhiyalLâhu ‘anhum. Mereka dinilai oleh Khalifah setara dengan 4000 orang. Mereka dikirim untuk membantu ’Amr bin al-’Ash ra. dalam menaklukkan Mesir yang telah berlangsung bertahun-tahun lamanya.

Dalam Kanz al-‘Ummal (V/706) dan lainnya dikisahkan, Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab ra. pun bertutur dalam suratnya, “Sungguh aku telah mengirimkan bantuan kepada kamu (‘Amr bin al-‘Ash ra.) sebanyak empat ribu orang. Untuk seribu orang diwakili satu orang. Satu orang di antara mereka setara dengan seribu orang.”

Ketika surat tersebut datang, ‘Amr mengumpulkan orang-orang. Ia membacakan surat tersebut kepada mereka, lalu memanggil keempat sahabat yang dikirim tersebut untuk maju berdiri di depan orang-orang. Selanjutnya, ia memerintahkan mereka bersuci, salat dua rakaat, lalu berdoa bersama meminta pertolongan Allah Taala. Akhirnya, mereka bi idznilLâh wa bi nashrihi berhasil merangkul Mesir ke dalam pangkuan Islam.

Apa syarat meraih pertolongan-Nya? Berjuang dengan keimanan yang lurus dan amal perbuatan yang benar. Dengan kata lain, dengan kelurusan fikrah dan tharîqah.

Menariknya, generasi seperti ini tidak akan pernah sirna dan akan senantiasa ada hingga Allah Swt. menutup masa umat ini dengan akhir kejayaannya.

Rasulullah saw. bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran. Tidak membahayakan mereka siapa pun yang mencela mereka atau menyelisihi mereka, hingga tiba keputusan Allah dan mereka senantiasa dalam keadaan demikian.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Mereka adalah golongan yang senantiasa bertawakal kepada Allah Taala. Tatkala Allah memberikan pertolongan kepada mereka, tidak ada satu makhluk-Nya pun yang mampu mengadang dan mengalahkan mereka.

Ini dinyatakan dalam firman-Nya, “Jika Allah menolong kalian, tidak akan ada orang yang dapat mengalahkan kalian. Jika Allah membiarkan kalian (tidak memberi kalian pertolongan), siapakah gerangan yang dapat menolong kalian (selain) dari Allah sesudah itu? Oleh karena itu, hendaklah kepada Allah saja kaum mukmin bertawakal.” (QS Ali ‘Imran [3]: 160).

Sudahkah kita memantaskan diri menjadi generasi pemenang, penjemput nashrulLâh yang setara dengan seribu orang? AlLâh al-Musta’ân. [MNews YG]

Sumber: alwaie[dot]net

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *