Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.
Muslimah News, NAFSIYAH — Sudah menjadi pemandangan yang biasa setiap Ramadan berbagai ketaatan nampak lebih dari biasanya. Para artis yang biasanya tampil seronok berubah menjadi begitu islami penampilannya. Namun sayangnya, setelah Ramadan berlalu, ia tanggalkan semuanya dan kembali ke “selera” asalnya.
Tidak sedikit pula remaja putri dan para ibu salat tarawih di masjid, dengan mukena indah dan rapi menutup aurat. Akan tetapi sepulang dari mesjid, ia tanggalkan mukena itu, yang tersisa baju kaos ketat dan celana pendek di atas lutut. Saat Ramadan sebagian tempat maksiat dilarang beroperasi atau dibatasi, tetapi setelah Ramadan berlalu, mereka kembali bebas merdeka.
Sesungguhnya penerapan syariat Islam tidak terbatas pada waktu tertentu, yakni saat Ramadan saja. Islam tidak terbatas di tempat tertentu, yakni di mesjid saja. Namun, Islam berlaku pada segala zaman dan di semua tempat.
Satu masalah kecil saja, seperti masuk WC, diatur oleh syariat Allah Swt. yang mulia. Untuk masuk WC, kita diperintahkan membaca doa, memasukinya dengan kaki kiri, ada adab di dalam WC, keluar WC baca doa lagi, dan keluar dengan kaki kanan. Kalau urusan masuk WC saja diatur dengan syariat Allah, seharusnya seorang muslim juga sadar bahwa untuk urusan yang lebih besar tentu juga diatur. Bahkan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah Taala.
Allah mewajibkan umat Islam untuk mengambil dan menerapkan seluruh aturan Islam tanpa kecuali, di mana pun dan kapan pun ia berada. Menerapkan Islam tidak boleh hanya “part time” saat Ramadan atau ketika berada di masjid saja. Allah Swt. berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah: 208).
Ayat ini diturunkan mengenai Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya tatkala masuk Islam. Mereka masih ingin membesarkan hari Sabtu dan membaca (mengagungkan) Taurat.
Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menyatakan,
“Allah Swt. memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin dan mempercayai Rasul-Nya, untuk mengambil seluruh ikatan dan syariat Islam, mengerjakan seluruh perintah-Nya, serta meninggalkan seluruh laranga-Nya dengan segenap kemampuan mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir, Juz I, hal. 247)
Imam At-Thabariy (w. 310 H) menyatakan,
“Wahai orang yang beriman, laksanakanlah semua syariat Islam. Masuklah kedalam Islam dengan membenarkannya secara perkataan dan perbuatan. Tinggalkan mengikuti jalan-jalan setan dan bekas-bekasnya. (Tafsir At-Thabariy, Juz 4, hal.258). Beliau kemudian menjelaskan, yang dimaksud dengan jalan-jalan setan adalah mengikuti apa-apa yang berbeda dan bertentangan dengan hukum Islam dan syariat-Nya.
Setiap amal, baik kecil, apalagi besar, tampak, maupun tidak tampak, dahulu, maupun sekarang, akan diperhitungkan pada hari akhir nanti. Sebesar atom kebaikan atau kejahatan (penyimpangan dari hukum syarak) akan kita lihat hasilnya kelak.
Oleh karenanya, siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya akan melihat (balasan)nya. Sebaliknya, siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula (QS Al-Zalzalah 7–8). Wallahualam. [MNews/YG]
Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com
