Menyoal Fenomena Buka-Tutup Hijab di Kalangan Remaja

Menyoal Fenomena Buka-Tutup Hijab di Kalangan Remaja

Penulis: Kanti Rahmillah, M.Si.

Muslimah News, OPINI — Baru-baru ini, publik dihebohkan dengan putri Ridwan Kamil, Camillia Laetitia Azzahra yang akrab disapa Zara, yang memutuskan untuk melepas kerudungnya. Pemberitaan tersebut ia umumkan sendiri melalu akun media sosial pribadinya.

Banyak warganet yang menyayangkan keputusannya. Selain telah jelas melanggar syariat, Zara pun merupakan figur publik yang sosoknya bisa saja dicontoh banyak kawula muda.

“Hai semuanya, setelah banyak pertimbangan dan diskusi yang amat sangat panjang dengan keluarga aku, aku memutuskan untuk melepas kerudungku. Karena bagi aku, secara personal, seorang muslim yang baik adalah mereka yang melakukan syariat ajaran agama dari hati. Bukan soal penampilan tapi soal hati yang bersih,” tulisnya.

Fenomena buka-tutup kerudung memang tengah menggejala di kalangan remaja. Pemberitaan figur publik melepas hijabnya dan meminta agar publik menghormati keputusannya pun berseliweran di media. Mengapa fenomena ini bisa terjadi dan bagaimana pandangan Islam terkait yang demikian?

Tren Mode dan Fenomena FOMO

Buka-tutup hijab di kalangan remaja menjadi perhatian banyak kalangan, terlebih setelah banyak figur publik yang melakukan hal demikian. Bukan tidak mungkin para pengikutnya akan melakukan hal yang sama. Setidaknya ada beberapa faktor yang memicu makin maraknya pemudi melepas kerudungnya.

Pertama, fenomena FOMO (fearing of missing out) atau sering kita sebut takut ketinggalan tren, menjadi salah satu faktor banyaknya para remaja yang mudah untuk melepas kerudungnya. Fenomena FOMO mengungkap betapa orang-orang, khususnya remaja, merasa cemas dan gelisah jika tidak mengikuti atau melakukan hal-hal yang sedang tren.

Misalnya, tren makanan Cromboloni menjadikan muda-mudi merasa cemas jika tidak memburunya. Begitu pun dengan mode atau tren apa pun yang sedang viral, seperti joget di TikTok atau dance cover K-Pop. Banyak para remaja yang merasa harus melakukannya sehingga jika kerudung menghambat kebebasan berekspresinya, mereka tidak segan-segan untuk membukanya.

Perasaan gelisah, tidak puas, menganggap dirinya tidak keren, dan tidak gaul, yang muncul hanya karena tidak mengikuti tren, dianggap sangat mengganggu psikisnya. Daripada stres, mereka merasa lebih baik bebas melakukan apa pun demi mencapai kebahagiaan versi mereka. Tentu saja fenomena ini berbahaya, bahkan mendapatkan pandangan serius dari segi medis.

Kedua, dewasa ini, makna penggunaan kerudung telah bergeser. Dari yang asalnya sebagai penutup aurat dalam syariat Islam, kini menjadi sekedar mode di tengah kawula muda. Tren mode kerudung yang beraneka ragam dan penggunaannya yang bisa dipadupadankan dengan pakaian lain yang juga tren, menjadikan kerudung bak aksesori sekadar agar terlihat modis. Tren “jilboobs”, misalnya, istilah untuk outfit muslimah yang berkerudung, tetapi pakaiannya sangat ketat sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.

Dari situ, bisa dipahami bahwa para perempuan hari ini banyak yang tidak memahami dengan utuh fungsi kerudung dan jilbab. Mereka menutup kepalanya lebih karena tren. Jika paham, tentu mereka akan menutup seluruh auratnya dengan sempurna, tidak terpengaruh tren yang justru memalingkannya dari syariat.

Itulah sebabnya muda-mudi mudah sekali melepas kerudungnya. Bagi mereka, melepas kerudung seperti sedang melepas salah satu aksesori semata.

Sekularisme Liberalisme

Fenomena FOMO dan kerudung sebagai sekadar mode yang memengaruhi tren buka-tutup hijab ini tidak terlepas dari pengaruh sekularisme dan liberalisme, yaitu sistem kehidupan yang membuang agama dari kehidupan, serta merasa bebas berbuat tanpa batasan agama. Masyarakat, terutama remaja, juga tidak paham akan hakikat kehidupan. Tujuan hidup dan standar kebahagiaan tampak begitu abstrak bagi mereka.

Akibat sekularisme, kaum muslim terjebak dengan pemahaman yang mengajarkan bahwa tujuan hidup manusia hanyalah materi dan makna kebahagiaannya hanyalah kepuasan jasadi. Mereka tidak mengenal bahwa agama adalah tuntunan hidup. Alhasil, dalam bertingkah laku, mereka tidak mengenal aturan agama.

Kehidupan sekuler pun begitu sistematis diterapkan dalam setiap inci kehidupan. Mulai dari keluarga, lingkungan, masyarakat, hingga negara. Lihatlah betapa para orang tua tidak bisa berkutik saat anaknya ingin melepas kerudungnya. Bahkan, mereka “menghormati” keputusan anaknya dengan alasan sebagai bentuk proses pencarian jati diri. Sedangkan sejatinya, ia sedang membiarkan anaknya masuk jurang api neraka.

Begitu pun lingkungan dan masyarakat. Tidak sedikit muslimah yang hidup di Barat yang terpengaruh kehidupan sekuler yang memang begitu kental. Alhasil, ia merasa harus melepas kerudung agar bisa diterima oleh masyarakat di sana. Keimanan yang lemah dan ketakwaan “setipis tisu” menjadikan mereka mudah mengikuti kebiasaan masyarakat Barat meskipun harus bertentangan dengan syariat.

Ditambah berbicara tentang negara sekuler yang telah jelas mencampakkan aturan Allah Taala, makin menjadikan masyarakat dengan mudahnya tidak mau terikat aturan-Nya. Misalnya, sistem pendidikan di negara sekuler yang mengabaikan agama dalam pembentukan kepribadian anak-anak, padahal seharusnya yang utama diajarkan kepada anak adalah pendidikan agama agar kelak saat dewasa mereka paham tujuan hidupnya.

Oleh karenanya, sekularisme adalah hal yang paling bertanggung jawab terhadap tercampakkannya syariat Islam. Bukan hanya kerudung yang dilepas, pergaulan bebas hingga kejahatan akan kian marak dalam sistem kehidupan sekuler yang mendewakan kebebasan ini. Berlepas dari sistem ini dan beralih pada sistem Islam adalah sesuatu yang harus segera dilakukan.

Sistem kehidupan Islam

Hanya kehidupan Islam yang akan menjamin masyarakat, termasuk anak mudanya, untuk teguh pada agama.

Pertama, sistem kehidupan Islam menempatkan keluarga sebagai entitas utama dan pertama dalam pembentukan akidah seseorang. Keluarga Islam akan menjadikan seorang ibu berperan optimal sebagai madrasatul ‘ula bagi anak-anak mereka.

Seorang ibu dan ayah akan gigih membentuk akidah pada anak-anak mereka sedari dini agar kelak mereka siap menyelesaikan segala permasalahan. Ayah dan ibu tidak akan pernah membiarkan anak-anak mereka melakukan kemaksiatan, termasuk melepas kerudungnya. Masa remaja yang digadang-gadang sebagai “proses pencarian jati diri” sejatinya hanyalah kamuflase pemikiran Barat yang mendewakan kebebasan.

Sedangkan dalam Islam, penancapan akidah sedari kecil akan bisa menyelesaikan persoalan galaunya mereka dengan kehidupan. Kelak saat mereka dewasa, mereka akan fokus pada menciptakan karya untuk kemaslahatan umat tanpa dipusingkan dengan “pencarian jati diri”, apalagi ala Barat.

Kedua, lingkungan atau masyarakat sebagai pilar dalam mewujudkan kehidupan Islam. Bagaimanapun, interaksi sangat memengaruhi preferensi perilaku seseorang. Kita akan bisa mendapati perilaku orang Barat yang serba bebas sangat berbeda dengan perilaku muslim yang senantiasa taat pada Allah Taala. Mulai dari tutur kata hingga perbuatannya senantiasa sesuai dengan ajaran agama. Inilah pentingnya hidup di lingkungan dan masyarakat islami agar keimanan dan ketakwaan individu dapat terjaga.

Ketiga, negara. Sistem pemerintahan menjadi pilar yang sangat penting dalam menghadirkan jawil-imani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Seluruh kehidupan umat ada di bawah tanggung jawab negara. Salah satunya, negara akan menerapkan sistem pendidikan berdasarkan akidah Islam sehingga anak-anak sedari dini sudah diberikan pemahaman akan hakikat dan tujuan hidup mereka.

Jika iman dan takwa yang teguh sudah terbentuk dalam diri mereka, fenomena semacam FOMO tidak akan terjadi dalam masyarakat muslim. Tren dari Barat akan difilter oleh negara, begitu pun hijab sebagai sekadar tren mode. Masyarakat, juga para remajanya, akan paham bahwa menutup aurat secara benar adalah kewajiban, bukan mode semata.

Khatimah

Sangat jelas bahwa fenomena buka-tutup hijab di kalangan remaja merupakan buah dari penerapan kehidupan sekularisme. Fenomena yang problematik ini hanya bisa selesai tuntas dengan menghadirkan kehidupan Islam yang akan menjamin para remaja taat agama dan fokus berkarya untuk umat.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *