[Kabar] Mubaligah: “PeaceSantren” Tidak Sesuai dengan Jati Diri Santri

[Kabar] Mubaligah: “PeaceSantren” Tidak Sesuai dengan Jati Diri Santri

Muslimah News, NASIONAL — Selama Ramadan 1445 H/2024 M, Kementerian Agama (Kemenag) menggelar PeaceSantren di lima pesantren di Indonesia, yakni di Pesantren Az-Ziyadah Jakarta Timur (16-3-2024), Pesantren Bahrul Ulum Jombang (20-3-2024), Pesantren Al-Musaddadiyah Garut (23-3-2024), Pesantren Sunan Pandanaran Yogyakarta (27-3-2024), dan Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang (30-3-2024).

Acara ini digelar Kemenag untuk siar Ramadan dalam menebar pesan perdamaian dan semangat persaudaraan. PeaceSantren yang berarti pesantren yang damai dikemas seperti roadshow “Ngabuburit Ramadan 1445 Hijriah” dengan melibatkan para santri, masyarakat pondok pesantren, serta grup musik ternama Tanah Air.

Wamenag Saiful Rahmat Dasuki menyampaikan bahwa alasan diselenggarakan acara tersebut di pesantren karena pesantren adalah sebuah entitas yang menjunjung perdamaian dan santai.

Tidak Sesuai

Namun, mubaligah Endah Siti Muwahidah menyayangkan penyelenggaraan acara ini. Menurutnya, PeaceSantren justru tidak sesuai dengan jati diri santri.

“Jelas kegiatan syiar Ramadan PeaceSantren yang terwujud dalam pagelaran musik di pondok pesantren dengan melibatkan santri, tentu sangat tidak sesuai dengan jati diri santri dan lembaga pesantren,” ungkapnya kepada MNews, Selasa (26-3-2024).

Alasannya, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam tempat santri menimba ilmu, berperan strategis sebagai basis pendidikan dan pengajaran Islam untuk mencetak ulama pewaris para nabi, mencetak generasi saleh yang berkepribadian Islam, mencetak generasi pejuang, pembela, dan penjaga Islam yang amanah, serta mencetak generasi pemimpin yang cerdas, pembangun peradaban Islam masa depan.

“Tentu sangat tidak relevan pernyataan yang menyebutkan bahwa pesantren adalah entitas yang santai, dengan wujud gelaran musik dalam kegiatan PeaceSantren tersebut. Jelas pernyataan dan kegiatan ini meremehkan institusi pesantren,” kritiknya.

Keliru

Menurutnya, jika pesan perdamaian dalam kegiatan PeaceSantren itu dimaksudkan untuk melawan seruan penerapan Islam kafah yang dinilai radikal dan dianggap membawa permusuhan bagi umat manusia, maka itu pun tudingan yang keliru.

“Mengapa? Sebabnya, Islam sebagai din yang sempurna, diturunkan oleh Allah Taala kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur segala aspek kehidupan manusia,” ujarnya.

Bukan hanya hubungan manusia dengan Allah Taala, tambahnya, tetapi juga hubungan manusia dengan dirinya sendiri serta hubungan sesama manusia, seperti muamalah dalam aspek politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, pemerintahan, dan politik internasional.

“Artinya, Islam mengatur secara kafah seluruh aspek kehidupan manusia di dunia ini. Bahkan Allah Taala telah menyeru setiap muslim untuk menerapkan Islam secara kafah atau menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan sebagai konsekuensi keimanannya,” jelasnya sembari mengutip QS Al-Baqarah ayat 208, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Oleh karenanya, menjadi sesuatu yang ironis ketika seruan penerapan Islam kafah yang seharusnya didukung oleh seluruh komponen umat karena merupakan kewajiban, malah dihalangi. “Apalagi dituduh radikal ataupun bagian aktivitas terorisme,” sesalnya.

Perilaku Santri

Kemudian ia mengutip penjelasan K.H. Hasani Nawawi, ulama besar Jawa Timur sekaligus pengasuh Ponpes Sidogiri Pasuruan, Jawa Timur, bahwa perilaku santri adalah yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan mengikuti Sunah Rasulullah saw., serta teguh pendirian.

“Artinya, santri bukanlah orang yang santai dan mudah mengikuti pemikiran baru di luar ajaran yang dibawa Rasulullah saw.. Justru, santri merupakan pejuang Islam untuk menegakkan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw., “ tukasnya.

Oleh karenanya, ia menegaskan, kondisi tersebut menuntut santri untuk tekun dan gigih belajar secara serius di pesantren.

“Mereka mesti mengkaji berbagai ilmu keislaman, mulai dari akidah, akhlak, ulumul Qur’an, ulumul hadis, bahasa Arab, fikih, dan ilmu keislaman lainnya yang bisa mengantarkan dirinya menjadi pribadi yang tafaqquh fi ad-din,” pungkasnya. [MNews/Ruh]

Foto: Kemenag RI

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *