Muslimah News, NAFSIYAH — Setiap muslim yang berkesempatan bertemu kembali dengan Ramadan, berarti ia mendapatkan peluang emas untuk meraih ampunan dari Allah Taala. Ampunan tersebut luasnya melebihi langit dan bumi. Nabi saw. bersabda, “Di antara salat yang lima waktu, di antara Jumat yang satu menuju Jumat lainnya, di antara Ramadan yang satu menuju Ramadan lainnya, semua itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya selama seseorang menjauhi dosa-dosa besar.” (HR Muslim).
Agar meraih ampunan dari Allah Swt. atas dosa-dosa besar, seorang muslim harus bertobat kepada-Nya. Ramadan menjadi waktu yang tepat dan dinanti untuk bertobat. Para sahabat sangat berharap bertemu kembali dengan Ramadan. Mualla’ bin Fadhl rahimahullah berkata, “Dahulu para salaf berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah mengantarkan mereka bisa mendapati Ramadan. Kemudian mereka berdoa kembali selama enam bulan agar Allah menerima amal-amal mereka (selama Ramadan).” (Latha’if al–Ma’arif, hlm. 148).
Nabi saw. bersabda, “Barang siapa berdiri salat (Tarawih) saat Ramadan karena didorong keimanan dan keinginan memperoleh keridaan Allah, diampunkan untuknya dosa-dosanya yang terdahulu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Pada hadis yang lain, “Barang siapa berpuasa Ramadan (dalam kondisi) beriman dan mengharapkan (pahala) akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu. Barang siapa yang menghidupkan malam lailatulqadar dengan iman dan mengharap (pahala), dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dari kedua hadis di atas, Nabi saw. menyebutkan dua syarat yang harus dipenuhi seorang muslim agar amalannya bisa mendatangkan ampunan dari Allah Taala.
Pertama, mengerjakannya dalam kondisi beriman. Para ulama menjelaskan, seorang muslim saat mengerjakan amalan-amalan yang disebutkan dalam hadis, semestinya diiringi keyakinan bahwa amalan tersebut merupakan perintah dari Allah Taala.
Saat Ramadan, kita berpuasa, salat tarawih, dan bangun pada malam lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir. Semua itu harus dilakukan dengan keikhlasan dan ketaatan terhadap perintah-Nya.
Kedua, seorang muslim harus mengerjakan segala amal dengan berharap pahala dan balasan dari Allah Taala. Mengharapkan amalannya dapat menjadi pemberat timbangannya di akhirat kelak.
Ulama mengatakan, ada beberapa penyebab turunnya ampunan Allah Swt. kepada hamba-Nya, yakni melaksanakan puasa Ramadan, mendirikan salat tarawih dan tahajud, serta beribadah pada malam lailatulqadar. “Barang siapa menegakkan salat pada malam lailatulqadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Selain itu, memperbanyak istigfar juga menyebabkan turunnya ampunan Allah Swt. kepada hamba-Nya. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya senantiasa membasahi lisannya dengan zikir, doa, dan istigfar selama Ramadan. Doa orang yang berpuasa sangat mustajab, khususnya ketika sedang berpuasa, berbuka, dan makan sahur.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad, Rasulullah saw. bersabda bahwa ada tiga orang yang doanya tidak tertolak oleh Allah Taala. Mereka adalah pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan orang yang terzalimi.
Inilah sebab-sebab datangnya ampunan Allah Swt. saat Ramadan. Jika ada seorang muslim yang tidak meraih ampunan-Nya pada bulan mulia ini, sungguh ia merupakan orang yang paling buruk keadaannya. Kapan lagi ia meraih ampunan-Nya jika tidak pada bulan suci ini? Kapan lagi ia berharap doanya dikabulkan jika tidak pada lailatulqadar? Kapan lagi melatih diri agar menjadi hamba-Nya yang bertakwa jika tidak saat Ramadan? Masihkah akan terus bergumul dengan dosa dan kemaksiatan?
Astagfirullah, benar-benar merugi orang yang tidak meraih ampunan dari Allah Swt. saat Ramadan. Oleh karenanya, jangan sia-siakan setiap detik, menit, dan jam dalam Ramadan. Sepanjang waktu pada bulan suci ini penuh keberkahan. Gunakan waktu untuk beramal saleh, beribadah kepada-Nya, dan berdakwah demi mengembalikan kemuliaan umat Islam. Semoga pada akhir Ramadan, kita bisa menjadi “pemenang” yang meraih ampunan, hidayah, dan rida Allah Taala. Wallahu musta’an. [Mnews/Rndy-YG]
