Muslimah News, DUNIA REMAJA — Alhamdulillah, Sobat, bahagianya bertemu Ramadan lagi. Hati-hati dengan godaan gaya hidup generasi rebahan. Sahur kesiangan enggak bisa jadi alasan untuk tiduran seharian. Cuma bangun untuk tunaikan kewajiban. Pakai dalil kalau tidurnya orang puasa itu berpahala, padahal sudah bawaan orok, tuh, gampang tidur tetapi lupa bangun. Puasa atau enggak puasa, tetap saja.
Ramadan Bulan Menabung Pahala
Ini bukan bohongan, lo, bahwaRamadan selalu dinanti kehadirannya. Pada bulan ini, kita berkesempatan gede banget untuk mendongkrak tabungan pahala kita. Coba simak cuplikan khotbah Rasulullah saw. menjelang Ramadan yang diriwayatkan oleh Imam Ali ra.,
“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat, dan magfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama, malam-malam saat Ramadan adalah malam-malam yang paling utama, waktu demi waktu adalah waktu yang paling utama.”
Kemudian, Amirulmukminin, Ali bin Abi Thalib berdiri dan berkata, “Ya Rasulallah, amal apa yang paling utama pada bulan ini?” Rasul yang mulia menjawab, “Ya Abal Hasan, amal yang paling utama pada bulan ini adalah menjaga diri dari apa yang diharamkan Allah Taala.”
“Inilah bulan yang ketika engkau diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Pada bulan ini, nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima, dan Allah ijabah doa-doamu. Bermohonlah kepada Allah Swt. dengan hati yang tulus dan suci agar Allah membimbingmu melakukan saum dan membaca kitab-Nya. Sungguh celakalah orang yang tidak mendapatkan ampunan Allah pada bulan yang agung ini.”
“Wahai manusia! Barang siapa yang membaguskan akhlaknya pada bulan ini, ia akan berhasil melewati siratalmustakim pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Barang siapa yang meringankan pekerjaan orang-orang yang dimiliki tangan kanannya dan membantunya pada bulan ini, Allah akan meringankan pemeriksaannya pada hari kiamat.”
“Barang siapa yang menahan kejelekannya pada bulan ini, Allah akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa yang memuliakan anak yatim pada bulan ini, Allah akan memuliakannya pada hari berjumpa dengan-Nya. Barang siapa yang menyambungkan tali silaturahmi pada bulan ini, Allah akan menghubungkan ia dengan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya. Barang siapa yang memutuskan silaturahmi pada bulan ini, Allah akan memutuskan ia dari rahmat-Nya.”
“Siapa yang melakukan salat sunah saat Ramadan, Allah akan menuliskan baginya kebebasan dari api neraka. Barang siapa yang melakukan salat fardu, baginya ganjaran seperti 70 salat fardu pada bulan yang lain. Barang siapa yang memperbanyak selawat kepadaku pada bulan ini, Allah akan memberatkan timbangan-Nya pada hari ketika timbangan menjadi ringan. Barang siapa yang pada bulan ini membaca satu ayat Al-Qur’an, ganjarannya sama dengan mengkhatamkan Al-Qur’an pada bulan-bulan yang lain. Wahai manusia! Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka bagimu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah menutupnya bagimu. Pintu-pintu neraka tertutup, maka mohonlah kepada Tuhanmu agar tidak akan pernah dibukakan bagimu. Setan-setan terbelenggu, maka mintalah kepada Tuhanmu agar mereka tidak pernah lagi menguasaimu.”
Banyak banget amal kebaikan yang berbuah pahala berlipat ganda saat Ramadan. So, sayang kalau kita cuma bengong seperti sapi ompong menunggu bedug magrib dipukul. Meskipun tidurnya orang puasa berpahala, tetap saja masih lebih baik ikut kajian online, tilawah Al-Qur’an, atau sedekah makanan berbuka kepada orang yang berpuasa Ramadan. Jadi, jangan biarkan Ramadan cuma berakhir di pelaminan, eh peraduan. Rugi!
Para Sahabat, Teladan Ramadan
Sebaik-baiknya teladan kita dalam berperilaku mulia, tentu Rasulullah saw. dan para Sahabat. Seperti yang mereka tunjukkan saat Ramadan tiba. Para Sahabat sangat menanti kedatangan Ramadan setiap tahunnya. Kerinduan mereka, bak calon pengantin menantikan hari pernikahannya. Begitu menggebu.
Ketika memasuki Ramadan, para Sahabat makin gereget. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khaththab menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk ibadah dan membaca Al-Qur’an.
Konon, Umar adalah orang pertama yang memberi penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Pada malam pertama Ramadan, ia datang ke masjid. Mendapati masjid yang terang itu, ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu, wahai Ibnul Khaththab, sebagaimana engkau menerangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”
Sebagaimana Nabi saw., saat Ramadan, kedermawanan mereka meningkat. Pada bulan agung ini, mereka makin rajin bersedekah. Mereka melakukan demikian karena meneladan Rasulullah saw. seperti digambarkan Ibnu Abbas, “Beliau lebih dermawan saat Ramadan melebihi angin yang berhembus.” (HR Bukhari, Muslim). Bentuk sedekah yang sering mereka berikan saat Ramadan ialah memberi makan dan menyiapkan makanan berbuka atau takjil bagi orang-orang yang berpuasa.
Sahabat semisal Abdullah bin Umar ra., setiap kali berbuka, beliau selalu menyertakan orang miskin dan anak yatim. Anda bisa membayangkan betapa besarnya sedekah mereka saat Ramadan. Mereka terinspirasi dari hadis Nabi saw., “Siapa yang memberi berbuka orang puasa, baginya pahala seperti pahala orang berpuasa tadi tanpa dikurangi sedikit pun dari pahalanya.” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, An-Nasai, dan dishahihkan Al-Albani).
Hal lain yang dilakukan para Sahabat ialah tadarus Al-Qur’an. Pada momen agung ini, mereka bersungguh-sungguh membacanya. Utsman bin Affan misalnya, menyelesaikan bacaan Al-Qur’an setiap hari sekali. Abdullah bin Amru bin ‘Ash mampu mengkhatamkan Al-Qur’an seharian (walaupun diperintah Rasul minimal tiga hari). Ada yang mengkhatamkannya selama tiga malam sekali, ada yang tujuh malam sekali, sampai ada juga yang sepuluh malam sekali baru bisa mengkhatamkan. Itu semua menggambarkan betapa semangatnya mereka membaca Al-Qur’an demi meraih pahala berlimpah.
Agar Ramadan Makin Produktif
Kita bisa belajar banyak dari “keperkasaan” orang-orang yang tetap produktif walaupun berpuasa. Mereka bukan termasuk orang yang berbadan kekar seperti binaragawan. Bukan juga orang yang punya ilmu kekebalan tubuh. Bukan keturunan gatotkaca yang berurat kawat dan bertulang besi. Mereka sama seperti kita, kok. Punya rasa lapar dan haus. Cuma mungkin, mereka lebih bisa mengendalikan hawa nafsunya. Jadi enggak gampang tergoda untuk memanjakan dirinya. Mentang-mentang puasa, jadi lemah enggak berdaya. Enggak, lah yauw!
Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada mukmin yang lemah. Pada masing-masing ada kebaikan. Berusahalah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu. Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah.” (HR Imam Muslim).
Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa gereget dan semangat beramal saleh seperti para Sahabat?
1. Bangun dan perkuat benteng akidah sebagai pertahanan untuk menaklukkan hawa nafsu.
Ini karena hawa nafsu kalau enggak dikendalikan bisa menginjak-injak harga diri kita sebagai hamba Allah. Itu yang bikin kita lemah bin letoi. Ini seperti diingatkan dalam firman-Nya,
“Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS Shâd [38]: 26).
Jalan yang paling pas untuk memperkuat benteng akidah adalah dengan mengenal Islam lebih dalam. Plus getol beribadah dan berdakwah. Biar lebih ngejoss, banyak deh bergaul dengan orang alim dan takwa agar keimanan tetap terjaga. Kalau keimanan kita sudah tangguh, insyaallah hawa nafsu juga bakal tunduk. Fisik kita pun lebih siap menghadapi tantangan demi meraih rida Allah Taala. Enggak peduli meski badan tinggal tulang dan dosa. Yang penting, pantang menyerah meraih berkah!
2. Jangan tidur melulu.
Sayidina Ali bin Abi Thalib mengingatkan kita, “Manusia itu tidur, jika mati ia terjaga.” Artinya, selama hidup, manusia kadang terlena dengan kenikmatan dunia. Seolah hidup cuma untuk bersenang-senang. Giliran ajal menghampiri, baru menyadari bahwa kenikmatan dunia yang selama hidup ia kejar itu halu dan enggak berbekas untuk kebaikannya di akhirat.
“Tidak ada seseorang yang meninggal, kecuali ia pasti menyesal.“ Sahabat bertanya, “Apa yang ia sesalkan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Jika pelaku kebaikan, ia akan menyesal karena tidak melakukan lebih banyak lagi kebaikan. Jika pelaku keburukan, ia akan menyesal karena tidak sejak awal berhenti melakukan keburukan.” (HR Tirmidzi).
Biar Ramadan makin gereget, jangan tidur melulu. Bangun, lalu kejar sebanyak mungkin pahala untuk bekal di akhirat.
3. Renungkan, andai tahun ini Ramadan terakhir kita.
Tentu sudah terbayang ajal di depan mata. Waktu untuk bertobat dan menabung pahala tinggal menghitung hari. Apa yang akan kita lakukan?
Sebagai seorang muslim, tentu bukan menghabiskan waktu bersama keluarga, menghambur-hamburkan harta, atau bersenang-senang selagi masih hidup. Akan tetapi justru bakal habis-habisan beramal saleh selama Ramadan. Dikejar waktu untuk menabung pahala dan mengejar ampunan-Nya agar bisa mengurangi dosa. Hanya ini kesempatan untuk mempersiapkan bekal akhirat yang berlipat ganda.
Rasulullah saw. bersabda, “Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga. Dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta, dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR Bukhari no. 6514 dan Muslim, no. 2960).
Seperti itulah sikap yang seharusnya kita tanamkan dalam diri setiap kali berjumpa Ramadan. Biar saat Ramadan, kita selalu gereget penuh ketaatan.
Nah, mumpung Ramadan, jangan sampai waktu terbuang percuma. Show up gereget Ramadanmu. Ikuti kajian online Ramadan demi menimba ilmu. Luangkan waktu untuk tilawah Al-Qur’an setiap saat. Upayakan bisa khatam 30 juz Al-Qur’an minimal satu kali selama Ramadan. Jangan lupa, sisihkan uang jajan untuk bersedekah.
Yang ini juga enggak boleh terlewat, yakni salat tarawih sebulan penuh. Tetaplah beraktivitas seperti biasa, meskipun porsinya dikurangi. Semoga Allah Swt. memasukkan kita ke dalam golongan mukmin kuat yang dicintai-Nya. Amin. Meskipun puasa, tetap perkasa dan selalu gereget mengejar pahala, ya. Enggak pakai lama. Gaspol, Sobat! [MNews/YG]
Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 158
