Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.
Muslimah News, TAPAK TILAS — Siapa tidak kenal Labuan Bajo? Destinasi wisata bertaraf internasional ini dikenal dengan keindahannya yang luar biasa. Para wisatawan bahkan menyebutnya sebagai sepetak surga di timur Indonesia. Tepatnya, ia ada di kawasan Flobamora.
Flobamora sendiri adalah akronim dari Pulau Flores, Sumba, Timor, dan Alor. Nama ini digunakan sebagai sebutan lain untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan provinsi paling selatan di Indonesia, dan berbatasan dengan Timor Timur.
Provinsi NTT sendiri sebetulnya tidak hanya terdiri dari empat pulau itu saja. Ada sekitar 500 pulau yang secara administratif masuk dalam wilayahnya. Hanya saja Flobamora ini merupakan empat pulau yang paling besar sehingga digunakanlah sebagai sebutan untuk NTT secara keseluruhan.
Sementara itu Labuan Bajo adalah sebuah kawasan yang meliputi ujung barat pulau Flores, beserta pulau-pulau yang ada di sekelilingnya, seperti pulau Komodo, Pulau Padar, Pink Beach, Pulau Bidadari, dll.. Kawasan ini terus meluas ke pulau-pulau lainnya, sejalan dengan kian derasnya kucuran modal investasi untuk pengembangan sektor pariwisata yang digenjot pemerintah dengan melibatkan pihak swasta.
Jejak Islam
Berbeda dengan provinsi lainnya, penduduk muslim di NTT jumlahnya sangat sedikit alias menjadi minoritas. Provinsi ini bahkan dikenal sebagai provinsi Katolik Roma, dikarenakan mayoritas penduduknya beragama Katolik Roma.
Meski demikian, jika dilihat per daerah, 9 dari 22 kabupaten kota yang ada di NTT mayoritas penduduknya justru menganut agama protestan, seperti di Sumba, Rote Ndao, Sabu Raijua, dll.. Bahkan di ibu kota provinsinya sendiri, yakni kota Kupang, mayoritas penduduknya beragama Protestan.
Adapun sejarah kekristenan di NTT sendiri sebetulnya berjalan cukup panjang, yakni sejalan dengan sejarah penjajahan bangsa Portugis dan Belanda di Indonesia. Sebelum menjadi kristen, agama Islam sudah masuk ke wilayah NTT sejak abad ke-13.
Ajaran Islam ini dibawa oleh seorang ulama asal Hadramaut bernama Sayyid Rifaduddin Al-Fatih atau biasa dikenal dengan nama Jou Imam Patiduri. Makam beliau ditemukan di pulau Solor yang terletak di timur Pulau Flores dan dipelihara dengan baik oleh anak keturunannya hingga sekarang.
Meski Islam sudah masuk sejak abad ke-13, kekuasaan Islamnya sendiri baru tegak sekira abad ke-16. Hal ini terkait dakwah masif yang dilakukan oleh seorang ulama sekaligus seorang pedagang bernama Syekh Syahbudin bin Salman Al-Faris yang datang ke Pulau Solor dan kemudian dikenal sebagai Sultan Mananga.
Terkait hal ini ada catatan yang menyebut, masuknya pengaruh politik Islam di Solor terkait dengan dakwah masif yang dilakukan Sutan Ternate Baabullah (berkuasa 1570—1583) yang dikenal sebagai Penguasa 72 pulau. Bahkan dalam penelitan Muhamad Murtadlo dari Puslitbang Agama dan Keagamaan yang berjudul Situs Mananga Solor Pulau Flores Timur: Jejak Islam di NTT menyebut bahwa Sultan Mananga alias Syekh Syahbudin adalah utusan dari Ternate ini. Hanya saja, ada catatan lain yang menyebut bahwa wilayah-wilayah di NTT juga menjadi sasaran dakwah politik para penguasa Demak pada era kejayaannya.
Lepas dari perbedaan narasi itu, Pulau Solor sendiri dipercaya sebagai pintu masuk bagi penyebaran Islam karena letaknya yang sangat strategis sebagai pelabuhan dagang. Di sana terdapat bandar penting yang sejak lama sering disinggahi para pedagang, yakni bandar di Pamakayo, Lohayong, Menanga, dan Labala. Bandar-bandar itu biasa disinggahi kapal-kapal yang menunggu angin untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Timor dan Maluku.
Konon pada saat kedatangannya, Syekh Syahbudin berhasil mengislamkan beberapa tokoh kunci di Solor, di antaranya adalah Raja Sangaji Dasi. Keislaman sang raja ini akhirnya diikuti oleh seluruh keluarga dan rakyatnya. Bahkan Syekh Syahbudin akhirnya menikahi putri raja. Lalu Mananga pun menjadi kampung muslim pertama di NTT dan Syekh Syahbudin menjadi sultan pertamanya.
Dari Mananga inilah Islam menyebar ke wilayah-wilayah lainnya, seperti Alor, Flores, Timor, Sumba, Ende, dll.. Bahkan di tiga pulau di antaranya, yakni Solor, Adonara, dan Lembata akhirnya berdiri pula kesultanan-kesultanan Islam lainnya yang dikenal dengan nama Kesultanan Lohayong (Solor Tengah), Lamahala dan Terong (Pulau Adonara), Lamakera (Solor bagian Timur), dan Labala (Pulau Lembata).
Melawan Penjajahan
Sejalan dengan itu, penjajah Portugis mulai menjelajah ke wilayah NTT sekira tahun 1515 atas nama perdagangan, terutama demi menguasai kayu cendana terbaik yang diproduksi di Pulau Solor. Namun, selain untuk berdagang, kedatangan Portugis pun disertai para misionaris yang hendak menyebarkan agama Kristen Katolik di NTT. Pengaruh Portugis di Nusantara bagian timur ini memang makin kuat ketika di Maluku mereka berhasil mendirikan kekuasaan boneka di bawah Sultan Tabariji yang berhasil dikristenkan.
Di NTT sendiri Portugis berhasil membangun beberapa benteng, antara lain benteng pertahanan di Lohayong pada 1566. Usaha inilah yang mendorong Sultan Mananga melakukan perlawanan. Ia bahkan menginisiasi persekutuan/aliansi di antara lima kesultanan di NTT yang kemudian dikenal dengan nama Solor Watanlema atau persekutuan lima negeri pantai.
Namun, tidak hanya Portugis, Belanda pun ternyata mengincar sumber daya di NTT. Keduanya memang saling bersaing untuk memperebutkan hegemoni politik dan ekonomi di nusantara, termasuk bagian timur yang kaya dengan rempah-rempah dan hasil kayu ternama, terutama kayu cendana.
Inilah yang mewarnai konstelasi politik di NTT, termasuk memengaruhi perlawanan umat Islam yang dipimpin kesultanan. Diketahui, pada akhirnya Belanda pun terlibat dalam upaya persekutuan lima kesultanan menyerang benteng Portugis tahun 1613 di Lahayong.
Meski persekutuan tersebut berdiri atas dasar spirit agama Islam dan spirit jihad, tetapi dengan kelicikannya, Belanda berhasil masuk dan melakukan intervensi karena ada kepentingan mengusir Portugis yang menjadi pesaingnya. Persekutuan melawan penjajahan Portugis ini terus berlangsung hingga tahun 1645 di bawah pengaruh Belanda tentu dengan kompensasi yang sangat mahal.
Selain membawa sekte Kristen baru, yakni misionarisme Protestan, Belanda pun tak kalah rakus membawa misi penjajahan yang tidak kalah kejam. Persaingan di antara kedua negara penjajah di NTT ini terus mengalami pasang surut hingga pertengahan abad ke-18. Pada abad ini Belanda benar-benar berhasil mengusir Portugis dari NTT sebagaimana di wilayah Nusantara lainnya.
Hal itu sejalan dengan keberhasilan para misionaris melakukan pemurtadan di NTT yang justru mendekatkan hubungan masyarakatnya dengan penjajah. Lalu berkat peran diplomat VOC, Johannes Andreas Paravicini, Belanda pada 1756 berhasil melakukan gebrakan politik, yakni menarik 48 penguasa dari Solor, Rote, Sawu, Sumba, dan sebagian besar Timor bagian barat untuk bersekutu dengan VOC. Hal tersebut menandai awal kekuasaan Belanda secara politik dan ekonomi di wilayah NTT hingga abad kemerdekaan.
Eksploitasi Sosial Budaya
Saat ini, NTT sudah menjadi bagian negara kesatuan Indonesia yang katanya sudah merdeka tahun 1945. Namun, hingga saat ini NTT masih dikenal sebagai provinsi termiskin ketiga di Indonesia setelah provinsi Papua dan Papua Barat. Padahal ketiga wilayah tersebut dikenal sangat melimpah ruah dengan berbagai sumber daya alam, mulai dari cadangan gas dan mineral, termasuk logam emas, mangan, tembaga dan nikel, hingga sumber kehutanan dan kelautan.
Pemerintah sendiri memang tampak memberi perhatian lebih kepada wilayah di timur Indonesia, terutama pada dekade terakhir ini. Namun, paradigma pembangunan ala kapitalisme yang diterapkan pemerintah selama ini nyatanya hanya melihat NTT sebagai salah satu objek eksploitasi ekonomi. Keunikan geografis alias keindahan bentang alam di NTT dipandang layak untuk dijual demi menutup kekurangan pos pemasukan APBN setelah potensi sumber daya strategisnya habis diberikan kepada asing.
Salah satu proyek nasional untuk NTT adalah menetapkan Labuan Bajo menjadi salah satu daerah pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) untuk bidang pariwisata. Labuan Bajo bahkan menjadi salah satu dari 5 Destinasi Super Prioritas (DSP) sekaligus 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) di Indonesia.
Banyak investor yang telah mengucurkan dananya di tempat ini. Tahun 2023 saja tercatat raihan PMDN mencapai angka US$28,91 juta, sedangkan PMA-nya mencapai US$ 70,86 juta.
Lalu apa yang diperoleh oleh penduduk NTT sendiri? Nyatanya mereka tetap saja pada posisi miskin. Bahkan para pemerhati lingkungan mengkritik habis proyek KEK Labuan Bajo dikarenakan dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya pada masa depan. Mereka menyebut proyek ambisius ini bukan hanya membawa dampak kerusakan lingkungan, melainkan juga mengancam ruang hidup yang meliputi aspek sosial, ekonomi, ekologi, dan budaya warga NTT.
Kehidupan umat muslim di NTT hari ini juga tak bisa dikatakan mudah. Selain problem kemiskinan yang terus membayang, ancaman dampak sekularisasi dan liberalisasi yang berjalan seiring dengan masifnya pembangunan membuat mereka tidak bisa merasa aman. Bayang-bayang kerusakan generasi pada masa depan, di tengah habitat yang tidak mendukung keimanan, membuat mereka harus berpikir panjang tentang hal yang harus dilakukan untuk melakukan penyelamatan.
Sungguh kaum muslim di NTT harus berjuang keras untuk menjaga ketaatan dan memelihara identitas keislaman mereka. Meski penjajahan fisik dan militer sudah hengkang, penjajahan pemikiran, politik, dan ekonomi sejatinya masih terus berlanjut atas nama pembangunan. Jika bukan dengan memperkuat ketahanan ideologi Islam pada diri mereka, dengan apa mereka bisa bertahan bahkan melawan hingga bisa kembali menang memegang kendali kekuasaan? [MNews/Rg].
*) Dinarasikan ulang dari berbagai tulisan.
