[Nafsiyah] Membiasakan Tafakur

[Nafsiyah] Membiasakan Tafakur

Penulis: Ustaz M. Taufik N.T.

Muslimah News, NAFSIYAH — Membiasakan tafakur adalah tradisi seorang mukmin. Allah menyebut kegiatan bertafakur sebagai kebiasaan orang-orang yang berakal, yakni Ulil Albab. Dia Swt. berfirman,

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآَيَاتٍ ِلأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring. Mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (QS Ali Imran: 190—191).

Imam Al Qurthubi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kita untuk memperhatikan dan mencari bukti-bukti dari ayat-ayat-Nya. Ini karena ayat-ayat itu tidak bersumber, kecuali dari Zat yang Maha Hidup (Hayyun), Maha Berdiri (Qayyuum), Maha Kuasa (Qadiir), Maha Suci (Qudduus), Maha Selamat (Salaam), dan Zat yang tidak butuh kepada seluruh alam. Dengan demikian, iman yang kita peroleh didasarkan pada keyakinan, bukan sekadar taklid.

Diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ia ra. mengatakan, “Tatkala turun ayat ini kepada Nabi saw., beliau lalu salat. Kemudian datanglah bilal yang hendak mengumandangkan azan untuk salat Subuh. Bilal melihat Nabi saw. sedang menangis, lalu ia berkata,

يا رسول الله ، لم تبكي وقد غفر الله لك ما تقدم وما تأخر ؟

“Wahai Rasulullah, kenapa anda menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu, maupun yang kemudian?” Kemudian, Nabi saw. berkata,

يَا بِلاَلُ, أَفَلاَ أَكُوْنُ عَبْداً شَكُوْراً وَلَقَدْ أَنْزَلَ اللهُ عَلَىَ اللَّيْلَةَ آيةَ “إِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ َلآيَاتٍ ِلأُولِي اْلأَلْبَابِ” – ثُمَّ قاَلَ:وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ يَتَفَكَّرْ فِيْهَا

“Wahai Bilal, apakah tidak boleh aku menjadi hamba yang bersyukur? Sungguh, Allah telah menurunkan kepadaku tadi malam ayat, ‘Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” Kemudian beliau bersabda,  “Celakalah orang yang membaca ayat itu tetapi tidak pernah bertafakur di dalamnya.” (Sahih Ibnu Hibban, Sanadnya Sahih menurut Muslim).

As Shabuni dalam Shafwatut Tafaasiir Juz I/230 mengatakan bahwa orang-orang yang berakal (Ulil Albab) itu mendapatkan tanda-tanda yang jelas–dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian siang dan malam—tentang pembuatnya dan kecemerlangan hikmahnya. Hal itu tidak akan jelas, kecuali bagi orang yang berakal, yakni yang memperhatikan alam semesta dengan jalan berpikir (tafakur) dan mencari bukti (istidlal). Tidak seperti melihatnya binatang-binatang yang tidak memiliki kemampuan berpikir dan menalar. Sifat-sifat Ulil Albab itu digambarkan oleh Allah Swt. sebagai orang yang senantiasa mengingat Allah dengan lisan dan hati mereka dalam segala keadaan (berdiri, duduk, maupun berbaring). Mereka tidak melalaikan diri dari mengingat-Nya pada umumnya waktunya untuk mendapatkan ketenangan dengan mengingat-Nya. Mereka menghabiskan kesendiriannya dengan muroqobah kepada-Nya, yakni introspeksi diri dengan menyadari pengawasan-Nya.

As Shabuni menambahkan, bahwa selain senantiasa mengingatnya, Ulil Albab memiliki ciri khas, yaitu senantiasa memperhatikan dan meneliti langit dan bumi, dalam penciptaan keduanya. Mereka memperhatikan adanya planet-planet, bintang-bintang yang besar, dan berbagai keajaiban yang diciptakan di langit maupun di bumi, serta berbagai keanehan yang sangat kreatif. Kemudian mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, tiadalah yang Engkau ciptakan itu sia-sia! Tidak ada di antara ciptaan-Mu yang ada di alam semesta ini yang sia-sia tanpa suatu hikmah. Maha Suci Engkau, ya Allah dari berbagai kesia-siaan. Selamatkanlah kami –dengan rahmat-Mu– dari siksa neraka jahanam. Itulah kesimpulan dan sikap yang akan diambil oleh orang-orang yang berakal setiap kali bertafakur, memperhatikan dan memikirkan ciptaan-ciptaan Allah yang ada di jagad raya ini, baik yang dekat maupun yang jauh.

Tafakur, Ajakan Al-Qur’an

Allah Swt. telah menurunkan sejumlah ayat kepada Rasulullah saw. yang mengajak kaum musyrikin Quraisy –dan manusia secara umum—untuk bertafakur. Dengan demikian, mereka bisa mencapai keimanan kepada Allah Swt., Sang Khalik, mengimani kerasulan Muhammad saw., dan mengimani apa yang dibawanya. Allah Swt. berfirman,

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (QS Al Jatsiyah: 3).

Juga firman-Nya,

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya, maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS Az Zumar: 42).

Al-Qur’an memotivasi manusia untuk memperhatikan dirinya dan alam sekitarnya untuk memperkuat kesadaran hubungan dirinya dengan Allah Sang Pencipta. Dia Swt berfirman,

وَفِي الْأَرْضِ ءَايَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ(20)وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ(21)

“Di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS Ad Dzariat: 21).

Juga firman-Nya,

أَفَلاَ يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ(17)وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ(18)وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ(19)وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ(20)

“Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Langit, bagaimana ia ditinggikan? Gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Bumi, bagaimana ia dihamparkan?” (QS Al Ghasyiyah: 17—20).

As Shaabuni dalam Shafwatut Tafaasiir Juz III/526 menafsirkan, “Hai Muhammad, nasihatilah mereka dan peringatilah mereka agar takut kepada Allah. Janganlah memprihatinkan kamu apabila mereka tidak memperhatikan dan memikirkan kejadian-kejadian alam yang ada.” Ibnu Katsir, yang dikutip As Shabuni, mengatakan bahwa Allah memberikan peringatan kepada orang Baduwi agar mengambil bukti-bukti dari yang disaksikannya, yaitu unta yang ia tunggangi, langit yang ada di atas kepalanya, gunung yang ada di depannya, dan bumi yang ada di bawahnya. Atas kekuasaan pencipta dan pembuatnya, yaitu Tuhan yang Maha Agung (ar Rabbul Azhiim), Sang Pencipta, Pemilik dan Pengatur jagad raya ini yang tidak layak ibadah dilakukan kepada selain Dia. (Mukhtashor Ibnu Katsir Juz 3/634).

Oleh karena itu, seorang Baduwi, ketika ditanya bagaimana Anda membuktikan adanya Allah? Ia menjawab, “Mudah saja, adanya unta bisa diketahui dari bekas telapak kakinya.” Nyatalah bahwa siapa pun, termasuk orang Baduwi (Arab desa/gunung) bisa berpikir cemerlang terhadap ciptaan-ciptaan Allah. Dengan demikian dapat mencapai kesimpulan yang tepat dalam bermakrifat kepada Allah Swt., Pencipta Langit dan Bumi dengan seluruh isinya.

Tradisi yang Perlu Ditumbuhkan Kembali

Oleh karena itu, untuk beriman kepada Allah, memperkuat keimanan, serta makrifat kepada-Nya, kebiasaan bertafakur perlu ditradisikan. Para sahabat yang langsung menyaksikan dan merasakan Rasulullah saw. menerima dan menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an adalah orang-orang yang telah memiliki tradisi berpikir yang baik sekali. Hasilnya, mereka yang sebelum Islam itu umumnya buta huruf, lalu menjadi kaum pelopor yang menjadi guru dunia. Bahkan di antara mereka, Abu Darda ra. menjadikan kegiatan berpikir adalah ibadah utama. Ketika ibunya ditanya tentang amal apa yang sangat disukai putranya, sang ibu menjawab, “Tafakur dan mengambil iktibar atau pelajaran.” Sahabat Nabi ini selalu mendorong para sahabatnya untuk merenung dan berpikir. Ia berkata, “Berpikir (tafakur) satu jam lebih baik daripada ibadah satu malam.” (Lihat Khalid Muhammad Khalid, Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah saw.).

Tradisi itulah yang membuat Al-Qur’an, Sunah, serta seluruh hukum dan ideologi Islam terpelihara. Tsaqafah Islamiyah (ilmu-ilmu keislaman) yang menjadi poin kelebihan umat Islam daripada umat-umat lain yang pada masa Rasul dan para sahabat terbatas pada riwayat-riwayat yang memuat Al-Qur’an dan Sunah beserta penjelasannya, berkembang menjadi Al-Qur’an dan ulumul Qur’an, Tafsir, Hadis dan Ulumul Hadis dengan berbagai cabang ilmunya, Sirah, Fikih, Ushul Fikih, Nahu, Saraf, Balagah, dan sebagainya. Bahkan umat Islam selalu unggul dalam berbagai lapangan kehidupan. Secara politik maupun militer, negara Islam (Khilafah Islamiah) menjadi negara nomor satu di dunia setelah melengserkan hegemoni dua negara super power saat itu, yakni Rumawi dan Persia. Tsaqafah dan peradaban Islam menjadi pusat ilmu dan peradaban dunia. Dalam bidang matematika dan ilmu pengetahuan, kaum muslim tidak hanya menerjemahkan khazanah klasik Yunani, tetapi juga meneliti dan mengembangkannya. Dengan demikian, dunia matematika dan sains berutang budi kepada kaum muslim. Tradisi berpikir dan keilmuan kaum muslim inilah yang mengilhami renaisans bangsa-bangsa Barat setelah para pemuda mereka menuntut ilmu di universitas-universitas Islam di kota-kota Granadha, Sevilla, dan Kordoba di bumi Islam Andalusia.

Namun umat Islam ini mengalami kemunduran ketika tradisi bertafakur dan berpikir yang merupakan bimbingan Al-Qur’an ini memudar dan berhenti. Islam pun makin tidak dipahami sehingga tidak dijadikan pedoman hidup dalam mengatur diri umat ini, baik secara pribadi, jemaah, maupun kenegaraan. Kehidupan umat pun makin merosot. Sistem negara yang dibangun oleh Rasulullah saw. bersama generasi para sahabat pun melemah dan ambruk. Islam makin dijauhkan dari kehidupan dan makin disamarkan pada diri umat Islam.

Khatimah

Oleh karena itu, untuk membangkitkan umat Islam kembali, kebiasaan tafakur ini harus dihidupkan lagi. Apalagi bagi para pengemban dakwah. Memikirkan realitas dirinya, alam semesta, dan kehidupan yang dirasakannya adalah suatu keharusan. Juga memikirkan realitas masyarakat kaum muslim yang ada dan berbagai faktor yang memengaruhi sikap dan tanggung jawab mereka terhadap Islam, merupakan suatu keharusan. Terlebih memikirkan cara agar pola hidup Islam yang diwariskan Rasulullah saw. diadopsi kembali oleh kaum muslim adalah suatu perkara yang sangat urgen. Wallahualam. [MNews/YG]

Sumber: mtaufiknt[dot]wordpress[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *