[Sur’atul Badihah] Pentingnya Sur’atul Badihah

[Sur’atul Badihah] Pentingnya Sur’atul Badihah

Penulis: Syekh Taqiyudin an-Nabhani

Muslimah News, FIKRUL ISLAM —  Sur’atul badihah berlawanan dengan berpikir lambat, tetapi tidak berlawanan dengan berpikir mendalam, berpikir mustanir, maupun berpikir biasa, karena yang penting adalah kecepatan berpikir.

Sur’atul badihah merupakan sesuatu yang sangat urgen bagi bangsa-bangsa dan umat-umat, juga penting untuk individu-individu, jemaah-jemaah, dan kelompok-kelompok, karena sur’atul badihah merupakan suatu keharusan dalam mengarungi kehidupan, apakah itu dengan individu-individu lainnya atau dengan bangsa-bangsa dan umat-umat lainnya, atau dalam mengurusi urusan-urusan, karena keberhasilan dalam mengarungi kehidupan ini memerlukan dua hal, yaitu:

Pertama, kecepatan dalam menghakimi segala sesuatu dan mengambil langkah-langkah yang perlu terhadapnya, dan apabila hal itu tidak dilakukan, akan terlewatkan dan akan membebani dan makin lama beban itu akan makin berat dan akan makin menambah kendala sehingga menjadikannya gagal dalam mengarungi kehidupan.

Kedua, bahwa kesempatan yang diperoleh seseorang dalam kehidupan merupakan sesuatu yang akan mentransformasi dirinya dari satu tingkatan kepada tingkatan yang lebih tinggi dengan cepat sehingga dapat memperpendek jarak. Apabila ia tidak memanfaatkan kesempatan itu, kesempatan itu akan hilang dan mungkin tidak akan pernah datang lagi sehingga terhalangi dari mendapatkan manfaat dan kesempatan ini. Apabila hilangnya kesempatan terjadi secara terus-menerus, dia telah kehilangan untuk kecepatan untuk berpindah dari satu kondisi kepada kondisi lainnya sehingga dia hanya berjalan di tempat kemudian tidak bergerak dari situ lalu gagal dalam kehidupan dan semua itu disebabkan oleh tidak adanya sur’atul badihah.

Oleh karena itu, sesungguhnya sur’atul badihah merupakan sesuatu yang harus ada dalam memperoleh kesuksesan hidup. Apabila pendidikan dan berpikir tentangnya, persiapan, penemuan, industri, perdagangan, pertanian, dll. dilakukan untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan, sesungguhnya semua ini dan yang semisalnya tidak ada nilainya apabila tidak disertai dengan sur’atul badihah.

Oleh karena itu, di antara tujuan negara-negara, bangsa-bangsa, dan umat-umat dalam berperang melawan musuhnya adalah untuk menjadikan musuhnya lumpuh aktivitasnya dan tidak ada hal yang lebih penting dari sur’atul badihah dalam masalah ini. Oleh karena itu, sesungguhnya negara-negara, bangsa-bangsa, dan umat-umat akan berusaha untuk menghilangkan sur’atul badihah dari musuhnya sehingga mengalami kelumpuhan dan hilanglah kemampuan produktivitas kerja dan menyi-nyiakan kesempatan satu demi satu sehingga mudah untuk menghancurkannya, kemudian menjajahnya dan mendudukinya, setelah itu meluaskan kekuasaannya di wilayah tersebut.

Pihak barat meskipun dalam melawan negeri-negeri Islam telah memulainya dengan ghazwu tsaqafi (perang pemikiran) dan melawan rakyat Daulah Islamiah, tetapi ketika barat meluaskan kekuasaannya atas negeri-negeri Islam itu dia memulainya dengan rayuan yang masuk akal dan pemikiran dengan tujuan agar negeri-negeri Islam itu kehilangan sur’atul badihah-nya dan menyibukkannya dengan berpikir.

Dalam hal ini Barat saat berhasil sehingga negeri-negeri itu praktis telah lumpuh, manusia seluruhnya disibukkan dengan detail, kedalaman berpikir dan merenung, menunggu hingga mereka gagal dalam kehidupan, bahkan juga gagal dalam mengusir kekuasaan penjajahan dan penguasaannya, bagaimanapun pemberontakan dan peperangan yang dilakukannya.

Sesungguhnya dalam setiap masalah, baik besar maupun kecil, salah seorang dari mereka melakukan aktivitas perenungan dan pemikiran sampai waktunya habis dan hilanglah kesempatan yang diperoleh dan betapa banyaknya kesempatan yang hilang, sedangkan mereka tidak memanfaatkannya maka hilang pulalah kesempatan mereka untuk berpindah secara cepat dari satu keadaan kepada keadaan yang lain dalam falsafah aliyah.

Keadaan mereka sedemikian parahnya sehingga mereka tenggelam dalam falsafah aliyah (memberikan filosofi pada hal-hal yang sederhana) dan hal itu menyibukkan mereka sehingga masalah menjadi samar bagi mereka. Mereka kehilangan kejelasan dan hal ini disebabkan oleh kesibukan mereka dengan falsafah aliyah.

Memang ada perkara-perkara yang harus ada filosofinya dan perkara-perkara ini adalah perkara yang mendalam dan bukan masalah yang sederhana, seperti kebangkitan, pembebasan, manuver-manuver, dan hal-hal semacam itu. Perkara-perkara ini harus ada filosofinya dan mendalam dalam pembahasannya serta tidak cukup di permukaannya saja.

Adapun perkara-perkara yang sudah jelas yang tidak membutuhkan pemikiran maka pemikiran hanya akan menambah kesamaran dan ketidakjelasan seperti kursi, gelas piring, dan yang semisalnya, hal-hal ini atau benda-benda ini tidak perlu proses pemikiran maupun memberikannya filosofi, tetapi diambil apa adanya dan cukup dengan menyebutnya atau sekadar menyebut nama-namanya.

Inilah yang dinamakan dengan falsafah aliyah (filsafat otomatis) atau berpikir spontan yaitu memberikan filosofi pada sesuatu yang tampak yang tidak memiliki sesuatu yang tersembunyi, meskipun hanya sedikit dan dapat dipahami apa adanya hanya dengan menyebutkannya. Dengan demikian, kursi adalah kursi, jika Anda memikirkannya maka akan menambah kekaburannya sehingga anda tidak dapat memahaminya. Makin banyak filosofinya akan makin mengaburkannya.

Barat telah mendorong kita untuk berpikir, berhati-hati, dan melakukan pendalaman, pengujian, dan sebagainya sehingga kita kehilangan sur’atul badihah, bahkan hal itu menyampaikan kita pada filsafat otomatis. Dikatakan kepada sebagian mereka, “Lakukanlah petualangan, dan kenapa kalian tidak melakukan petualangan?” Karena kata petualangan berarti berarti melakukan aktivitas tanpa perhitungan. Akan tetapi kaum ini memberikan filosofi pada kata “petualangan” dengan filsafat otomatis. Lalu mereka mengatakan, “Kita tidak melakukan petualangan yang gegabah, tetapi kami siap melakukan petualangan penuh perhitungan atau yang telah dipelajari terlebih dahulu. Pendapat mereka ini merupakan filosofi untuk petualangan termasuk dalam filsafat otomatis.

Hal ini karena sebuah petualangan jika telah Anda lakukan perhitungan atau apabila anda telah melakukan penelitian terhadapnya, tidak lagi dikatakan petualangan. Jadi memberikan filosofi pada kata “petualangan” akan menjauhkannya dari gambaran yang sebenarnya dan justru akan mengeluarkan dari hakikat yang sebenarnya. Demikianlah yang disebut dengan falsafah aliyah (filsafat otomatis). Jika manusia menjadikan diri mereka berjalan dengan filsafat otomatis, mereka akan terjauh dari sur’atul badihah. [MNews/Rgl]

Sumber artikel: Syekh Taqiyudin an-Nabhani, Sur’atul Badihah (Berpikir Cepat dan Produktif)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *