Penulis: Wiwing Noeraini
Muslimah News, KELUARGA — Ayah-Bunda, anak adalah amanah dari Allah Swt. yang sangat berharga dan patut kita syukuri. Anak wajib kita asuh dan didik hingga akhirnya kita pertanggungjawabkan di hadapan-Nya. Kita wajib menjaga dan memastikan tidak ada satu pun bahaya yang mengancam anak kita, baik bahaya fisik, maupun bahaya pemikiran.
Saat ini, banyak pemikiran rusak dan berbahaya mengancam anak-anak kita. Salah satunya adalah moderasi beragama atau sering disebut dengan moderasi Islam. Moderasi Islam dibuat sebagai bagian dari rencana busuk Barat untuk “mendeideologisasi” Islam. Mereka berupaya menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam sebagai ideologi. Islam jelas tidak hanya ajaran ritual, tetapi juga memancarkan berbagai aturan hidup yang disertai metode penerapannya.
Masifnya moderasi ini diaruskan telah membuat sebagian umat Islam terjebak. Banyak yang akhirnya mengadopsi pemikiran ini dan menganggapnya sebagai ajaran Islam. Padahal moderasi Islam adalah ajaran kufur. Ajaran ini mengajak kaum muslim bersikap moderat, yaitu sikap kompromistis dan jalan tengah.
Atas nama toleransi dan moderasi, umat Islam harus mengakui bahwa semua agama adalah benar. Sesungguhnya, ini jelas menyalahi akidah Islam. (Lihat QS Ali Imran [3]: 19).
Atas nama toleransi dan moderasi pula, sekolah-sekolah negeri tidak boleh menetapkan seragam muslimah bagi para siswinya. Larangan ini makin membuktikan bahwa moderasi Islam adalah ancaman bagi umat Islam untuk menerapkan ajaran agamanya sendiri.
Demikianlah, atas nama toleransi dan moderasi, umat Islam perlahan namun pasti dipaksa agar mau berkompromi dengan pemikiran, aturan, dan sistem kufur. Ini sama saja mencampurkan al-haq (kebenaran) dengan al-bathil (kebatilan). Perbuatan ini jelas melanggar larangan Allah Taala. (Lihat QS al-Baqarah [2]: 42).
Bagaimana Anak Terpapar Moderasi Agama?
Ayah-Bunda, anak-anak kita terpapar pemikiran moderasi setidaknya dari dua jalan, yaitu rumah dan sekolah. Ketika di rumah, pemikiran moderasi masuk melalui berbagai acara televisi yang dikemas dalam bentuk film, sinetron, acara anak-anak, program belajar dll. Bisa juga dari berbagai buku bacaan, baik majalah, komik, novel, dll. Juga bisa masuk melalui gadget, yang selalu setia menyertai anak-anak kita.
Ada pun di sekolah, moderasi agama masuk melalui pembelajaran di kelas, yakni dari buku atau modul-modul yang harus dibaca anak, berbagai tayangan saat pembelajaran, bahkan masuk juga di kegiatan Rohis, ekstrakurikuler seperti pramuka, dll.
Tidak aneh jika moderasi beragama sangat masif diaruskan di sekolah-sekolah. Pasalnya, Pemerintah Indonesia memang telah memasukkannya ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Berbagai program moderasi beragama pun dibuat. Moderasi masuk menjadi kurikulum wajib, baik di sekolah umum, sekolah agama (madrasah), serta di pondok-pondok pesantren.
Anak Berkarakter Moderat
Moderasi akan melahirkan anak-anak berkarakter moderat, yaitu inklusif, toleran, dan sekuler. Anak yang inklusif tidak mau atau enggan menampakkan keislamannya karena tidak ingin dianggap berbeda dengan lingkungan sekitarnya. Jika berkerudung akan membuat tampak berbeda dengan teman-temannya, mereka akan melepas kerudungnya. Kalaupun memakai kerudung, ia akan memilih kerudung “ala kadarnya” seperti yang dikenakan teman-temannya. Bukan kerudung yang menutup aurat dengan benar.
Anak yang moderat akan sangat toleran terhadap kemaksiatan, yang diwujudkan dengan sikap tidak peduli. Bisa jadi ia anak yang taat ibadah. Salat fardu tidak pernah ia tinggalkan. Namun, ia akan membiarkan teman-temannya tidak salat. Ia akan membiarkan temannya atau siapa pun melanggar syariat. Ia bisa menerima semua itu. Ini karena baginya, semua orang bisa punya pendapat yang berbeda sehingga tidak perlu mencampurinya.
Tidak hanya itu, anak yang moderat juga sangat toleran dan menghormati nonmuslim, tetapi dengan toleransi yang kebablasan. Ia akan mengucapkan selamat hari raya ke teman-temannya yang nonmuslim. Ia juga ikut acara-acara keagamaan mereka. Bahkan, bisa jadi ia pun ikut masuk ke tempat-tempat peribadatan mereka.
Tidak kalah berbahayanya, anak yang moderat hanya mau taat pada sebagian syariat dan menolak sebagian lainnya. Bisa jadi ia taat menjalankan ibadah ritual seperti salat, puasa, serta menghiasi diri dengan berbagai akhlak mulia (seperti dermawan, baik hati, jujur, dsb). Namun, ia menolak taat pada aturan-aturan Islam lainnya yang berkaitan dengan masalah ekonomi, politik, pergaulan, dll.
Mereka pun dijadikan agen moderasi. Anak-anak yang seharusnya menjadi pejuang dan pembela Islam, akhirnya terjerumus menjadi pembela dan pejuang pemikiran kufur, menjadi pejuang moderasi. Bahkan, anak-anak ini dibentuk menjadi penghadang kebangkitan Islam dan tegaknya Khilafah.
Menjaga Anak dari Bahaya Moderasi Agama
Ada beberapa hal yang bisa Ayah-Bunda lakukan untuk menjaga anak-anak agar tidak terpapar moderasi agama.
Pertama, membentengi anak-anak dengan Islam yang sahih (benar), baik akidah, maupun syariat. Ayah-Bunda harus berusaha menghunjamkan keimanan bahwa Islam adalah agama yang paripurna. Islam mengatur urusan dunia dan akhirat, bukan sekadar spiritual. Hanya Islam agama dan sistem kehidupan terbaik. Siapa pun yang mencari selain Islam, amalnya akan sia-sia dan di akhirat pun akan merugi. (Lihat QS Ali Imran [3]: 85).
Kemudian, ajak anak mengkaji Islam sebagai ideologi, bukan sekadar ilmu pengetahuan. Ajari mereka agar terpikat syariat Islam secara keseluruhan (kafah). Dengan terikat pada syariat Islam, mereka akan mampu menilai baik dan buruk berdasarkan ajaran Islam. Mereka pun lambat laun akan mampu membentengi dirinya sendiri dari moderasi Islam, ataupun pemikiran berbahaya lainnya.
Kedua, menyiapkan anak menjadi agen Islam kafah, penghancur moderasi agama. Ayah-Bunda harus membangun kesadaran anak tentang pentingnya dakwah menyampaikan kebenaran Islam. Kita bisa memulainya dengan membiasakan anak berani berbicara dan menyampaikan pendapat mereka kepada kita, lalu menyampaikan kepada teman-temannya. Pupuk terus keimanan anak dan bangun kepeduliannya. Dengan demikian, ia tidak akan berdiam diri terhadap kemaksiatan. Ia akan terdorong menyampaikan kebenaran, sekalipun bisa jadi tidak semua orang menyukainya. Ajarkan cara menyampaikannya dengan bahasa yang ahsan dan mudah dimengerti.
Dengan bertambahnya usia, ajarkan pula cara berdakwah melalui tulisan, video, maupun sarana-sarana lainnya di berbagai media massa, terutama media sosial yang saat ini menjadi sarana yang sangat efektif untuk mendakwahkan Islam. Ajak dan pahamkan anak agar mau menyampaikan Islam kafah, bukan Islam moderat. Terus tanamkan kepada anak-anak sikap berpihak pada Islam dan membela Islam. Ajak dan libatkan mereka dalam dakwah Islam demi tegaknya syariat dan khilafah.
Ketiga, jauhkan anak dari ajaran moderasi. Ayah-Bunda harus mengawal agar semua pintu masuk moderasi tertutup rapat. Pilih program TV yang aman bagi anak, dampingi saat mereka menonton, seleksi buku buku atau bacaan lainnya yang ada di rumah, dst. Demikian juga dalam penggunaan gadget, harus terus dalam pengawasan orang tua.
Ayah-Bunda yang beraktivitas di luar rumah harus memastikan ada yang mendampingi anak di rumah. Seseorang yang bisa dipercaya dan memiliki pemahaman Islam yang benar. Dengan demikian, ia bisa menjalankan tugas-tugas pendampingan selama Ayah-Bunda tidak di rumah.
Tentu yang agak sulit ketika moderasi ini masuk melalui pembelajaran di sekolah. Ketika ananda belajar dari rumah selama masa pandemi lalu justru lebih memudahkan Ayah-Bunda mengontrol materi pelajaran yang disampaikan. Ketika kita tahu ada materi yang tidak benar karena mengajarkan moderasi, kita bisa menjelaskan letak kesalahannya dan ketidakbolehan kita mengambilnya.
Namun, ketika anak-anak kembali sekolah offline, memang lebih sulit menutup pintu masuk pemikiran ini. Yang bisa dilakukan adalah membentengi mereka dengan ajaran Islam yang sahih sebagaimana yang dijelaskan di poin pertama. Ini jika anak-anak sudah besar. Adapun untuk anak-anak yang masih kecil, Ayah-Bunda bisa terus mengontrol mereka dengan sering bertanya tentang berbagai pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah. Jika ada yang tidak sesuai dengan Islam, kita bisa langsung meluruskannya.
Sebenarnya, upaya ini akan lebih efektif jika Ayah-Bunda sudah mengantisipasi sejak awal masuknya moderasi, yaitu ketika memilihkan sekolah untuk anak. Pilihlah sekolah yang menerapkan kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam. Sekalipun tetap saja ada celah masuknya moderasi di sekolah tersebut, pastinya lebih kecil peluang masuknya dibandingkan di sekolah-sekolah lainnya.
Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
