[Ath-Thariq] Berbagai Macam Bahaya yang Merintangi Partai Ideologis (Bagian 1/2)

[Ath-Thariq] Berbagai Macam Bahaya yang Merintangi Partai Ideologis (Bagian 1/2)

Penulis: Syekh Ahmad Athiyat

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Berkaitan dengan bahaya-bahaya yang mengadang partai ideologis dalam usahanya merealisasikan tujuan yang ia ada hanya untuk tujuan itu, bisa kita ringkas menjadi dua bahaya utama, yakni bahaya yang bersifat ideologis dan bahaya kelas (kastaisme).

1. Bahaya yang Bersifat Ideologis

Maksud dari bahaya ideologis ini adalah bahaya yang timbul ketika partai meninggalkan ideologinya atau sesuatu dari ideologi tersebut karena partai sangat menginginkan persahabatan, dukungan, dan sokongan dari umat. Ini merupakan bahaya terbesar yang mungkin saja harus dihadapi oleh partai ideologis. Hal ini bisa terjadi tiada lain karena sulitnya perjalanan, banyaknya kesulitan, serta besarnya pengorbanan yang harus diberikan partai sehingga semua itu kadang memikat partai dan anggotanya untuk menyerahkan atau melepaskan apa pun. Jika hal itu terjadi, niscaya menjadi batu sandungan bagi partai.

Bahaya dalam perkara ini bisa datang dari musuh atau dari teman, keduanya dalam tingkatan yang sama.  Adapun jika datang  dari  musuh, tiada lain karena sistem yang tegak berkuasa di masyarakat dan penganut tsaqafah yang menyalahi tsaqafah partai serta orang yang berkepentingan, yang kepentingannya itu ikut terganggu oleh bahaya yang ditimbulkan ideologi partai pada mereka, mereka semua akan mengerahkan segenap daya upaya dengan berbagai cara untuk memaksa partai agar mau mengubah ideologinya yang bertentangan dengan mereka atau sedikitnya melepaskan sesuatu dari ideologinya untuk menyenangkan mereka.

Jika partai melakukan hal itu, mereka akan menyukai partai, dan jika tidak, mereka akan berlindung pada kekuatan fisik dan kekejaman untuk memaksanya. Jika partai melepaskan sesuatu (mundur) walau hanya sedikit, hal itu telah merugikan segalanya, tetapi jika partai tetap bersikukuh pada ideologinya, hal itu akan menguntungkan segalanya.

Walaupun jalan ini masih panjang dan berbagai kesukaran begitu besar, partai ideologis dan para anggotanya harus menjadikan sikap bersiteguh pada ideologi di satu sisi dan kehidupan mereka di sisi lain, apakah ia akan terus hidup dengan berkuasanya ideologi ataukah ia harus mati?

Di sisi lain, keberpalingan dan sikap menjauh umat dari ide-ide partai, walau hanya sesaat, memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membujuk partai untuk mau meninggalkan sesuatu dari ideologinya itu demi menarik simpati umat dan mengambil alih kepemimpinannya. Partai pun kemudian berbicara pada dirinya sendiri untuk mundur perlahan, walau hanya sedikit sebagai penghormatan atas keinginan umat atau perangsang yang menjadikan  umat mau mendukung partai.

Jika partai melakukan hal itu, sungguh ia telah turun posisinya setaraf dengan umat dan merugilah segalanya, padahal umat belum memperoleh sesuatu. Jika tidak, kesabaran, keteguhan, ketabahan, serta keuletan dalam uslub dakwah dan propaganda, menjadi jaminan—walaupun setelah beberapa saat berselang—atas terangkatnya umat ke tingkat ideologi partai, dan berjalannya umat bersama partai, dan ketundukan umat terhadap partai yang semua itu akan berpijak pada ideologi partai, bukan pada keinginan, watak, perasaan, emosi, dan angan-angan kosong belaka.

Bahwasanya sebuah partai berusaha untuk menundukkan umat bukan atas dasar rasa suka, keinginan, dan watak umat, tetapi berdasarkan pemikiran ideologi. Partai harus berusaha mengambil kepemimpinan umat berdasarkan pada adanya opini umum yang terlahir dari kesadaran dan pemahaman umum yang ada pada umat.

Ketika partai  telah memimpin, umat telah memahami apa yang diinginkan dan yang harus diupayakan oleh umat. Jika partai rela memimpin umat sebelum adanya opini umum ini, partai tersebut memimpin umat hanya berdasar pada perasaan dan keinginan umat. Sebagaimana telah diketahui bahwa perasaan dan keinginan itu sangat cepat berbelok dan berubah.

Jika partai rela dengan hal itu, dia telah mengalami kerugian besar tanpa bisa merealisasikan apa pun. Ketika suatu hari menoleh ke belakang, ia tidak akan mendapati seorang pun dari umatnya. Oleh karena itu, partai dan anggotanya jangan mau memimpin umat sebelum sempurnanya pemahaman dan kesadaran umat.

Partai serta anggotanya juga jangan sedikit pun meremehkan ideologinya, meskipun sesuatu yang sedikit itu menyalahi umat. Ingatlah bahwasanya cepat atau lambat umat akan berjalan di belakang partai dan mendukung partai, karena ideologi yang diemban partai merupakan ideologi yang benar sebagaimana telah dikatakan: sesungguhnya tidak akan menang di akhir nanti, kecuali yang benar.

Satu-satunya jaminan untuk meraih umat dan memimpinnya dengan metode yang benar, yakni dengan adanya opini umum yang terlahir dari kesadaran umum, adalah dengan terus bertahan di tengah-tengah umat dan memberikan tegukan “obat” pemikiran untuk menyembuhkan umat dari sakitnya secara berkelanjutan.

Selanjutnya terus berjaga mengadopsi kemaslahatannya dan berupaya meleburkannya di dalam tanur (tempat peleburan logam) partai bersamaan dengan upaya untuk senantiasa menyingkap berbagai garis langkah penjajah secara teliti dan menelanjangi budak-budaknya yang berwujud penguasa sejelas mungkin, tanpa ada kesamaran, persahabatan, dan kepura-puraan.

Yang terpenting dari semua ini adalah hendaknya para anggota partai menjadi “seperti tahi lalat” di tengah manusia sehingga partai senantiasa bisa membersihkan ide-ide dan tubuhnya (para manajer dan anggotanya) dan anggota partai pun senantiasa bisa menjadi contoh terbaik untuk menjadi pemimpin intelek dan muslim ideal.

Tampak darinya jiwa kepemimpinan, keberanian, kecemerlangan pemikiran, dan keteguhan. Jika semua ini bisa terealisasi secara nyata, kepemimpinan umat telah berhasil diraih oleh partai, kapan pun dan bagaimanapun juga. Akan tetapi, jika  tidak, hilangnya satu syarat dari partai menjadi penjamin akan bertambah panjangnya perjalanan dan makin lamanya waktu meraih tujuan yang tidak bisa diketahui siapa pun kecuali hanya oleh Allah Swt..

Berdasarkan paparan tadi, disimpulkan bahwa partai tidak boleh bersikap ramah (bersahabat) pada umat (opini umum) dengan mempertaruhkan ideologi. Barang siapa yang menyenangkan Allah dalam kebencian manusia, maka Allah akan senang padanya dan menjadikan manusia senang padanya. Cukuplah pernyataan Rasulullah saw.,

“Demi Allah, wahai Pamanda, sekiranya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini, niscaya aku tidak akan pernah meninggalkannya sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya.” sebagai dalil yang pasti akan kebenaran pendapat kami ini. [MNews/Rgl]

Bersambung ke halaman 2/2

Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *