Penulis: Ibnu al-Jauzy
Muslimah News, NAFSIYAH — Diri bagaikan seorang kekasih yang sangat dicintai sehingga kekurangannya tidak akan tampak jelas bagi yang mencintainya. Di antara manusia ada yang kuat perhatian dan perlawanannya terhadap diri. Diri ditempatkan di posisi musuh yang harus dilawan sehingga kekurangannya menjadi tampak jelas.
Iyas Ibnu Muawiyah pernah berkata, “Manusia yang tidak mengenali kekurangan dirinya adalah manusia bodoh.” Kemudian, ia ditanya, “Kekurangan dirimu apa?” Ia menjawab, “Banyak bicara.” Pernyataan semacam ini jarang terjadi karena pada umumnya manusia akan senantiasa menyembunyikan kekurangan dirinya. Namun, tidak berarti ia buta terhadap kekurangannya tersebut. Manusia yang berakal akan mengetahui kekurangan setiap kekurangan yang dilakukannya. Kekurangan yang akan dibahas di sini adalah kekurangan yang bersifat batiniah atau samar.
Kekurangan yang bersifat batiniah tidak ubahnya seperti penyakit karena samar sehingga sulit diketahui oleh seorang dokter. Namun, dokter tetap memberikan resep obat, meskipun penyakit itu tidak menunjukkan gejala-gejalanya.
Kecintaan manusia terhadap dirinya akan menghalanginya dari kemampuan melihat kekurangannya yang samar sebagai kekurangan. Ini sebagaimana perkataan seorang penyair,
“Mata kepuasan suram atas segala kekurangan, tetapi mata kebencian awas terhadap kekurangan.”
Ada cerita tentang dua orang sahabat. Pada suatu hari, ketika mereka akan berpisah, salah seorang bertanya kepada sahabatnya, “Katakan kepadaku, apa kekuranganku?” Sahabatnya menjawab, “Tanyakan saja kepada orang lain, karena aku selalu melihatmu dengan mata kepuasan.”
Ada tujuh cara untuk mengetahui kekurangan-kekurangan tersembunyi yang tidak terasa sebagai kekurangan.
Pertama, pilihlah seorang teman yang paling dewasa dan mengerti. Kemudian, mintalah ia menjelaskan kekuranganmu. Namun, kamu harus menunjukkan sikap gembira, bukan sedih, ketika mendengarkan penjelasannya. Dengan demikian, ia merasa leluasa dan tanpa beban membeberkan kekuranganmu. Katakan kepadanya, “Jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku, berarti kamu penipu.”
Kedua, perhatikan perkataan tetangga, saudara, dan semua orang yang berhubungan denganmu tentang dirimu.
Ketiga, perhatikan apa yang dikatakan musuh. Ini karena musuh akan senantiasa memperhatikan kekuranganmu. Seorang musuh dapat memberi manfaat yang tidak dapat diberikan seorang teman kepadamu. Hal ini karena musuh akan senantiasa mencari-cari dan menyebut-nyebut kekuranganmu, sedangkan teman selalu menutupinya. Apabila manusia mengetahui kekurangannya melalui musuhnya, ia tentu akan menjauhi kekurangannya itu.
Keempat, bayangkan perbuatan-perbuatanmu terjadi pada orang lain. Kemudian, lakukan apa yang dianggap baik dan tinggalkan apa yang dianggap buruk.
Kelima, memikirkan akibat dari kekuranganmu sehingga kamu dapat melihat akibat buruk dari suatu keburukan, serta akibat baik dari suatu kebaikan. Sesungguhnya, pikiran yang benar itu cerdik.
Keenam, perlihatkan amal perbuatanmu kepada orang yang mengerti, bentangkan di atas ukuran syarak, dan letakkan di atas timbangan-timbangan keadilan. Pasti kamu akan dapat melihat hal yang utama dan hal yang hina.
Ketujuh, lihatlah para pelaku amal perbuatan. Kemudian, bandingkan amal perbuatanmu dengan amal perbuatan mereka. Kamu akan melihat bahwa bekas dari kekurangan adalah aib sehingga kamu akan menjauhinya. [MNews/YG]
Sumber: Ibnu al-Jauzy, Mengobati Jiwa yang Lelah
