Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — 2. Bertolakbelakangnya tsaqafah partai dengan berbagai tsaqafah yang menguasai masyarakat
Jika adanya kontradiksi ideologi partai dengan sistem yang diterapkan—pihak penguasa—menjadi pemicu pertentangan antara partai dengan sistem tersebut, adanya kontradiksi antara tsaqafah partai dengan satu atau beberapa tsaqafah yang ada di masyarakat akan menjadi pemicu pertentangan atau konflik antara partai di satu pihak dengan penguasa dan umat di pihak lain.
Jika konflik yang pertama (antara partai dengan sistem) menjadi pendorong timbulnya kekaguman pada diri umat dan berkumpulnya umat di sekitar partai—ketika partai berhasil dalam penentangannya terhadap sistem—konflik kedua ini kadang mengakibatkan terpisahnya umat dan permusuhan mereka terhadap partai, seandainya partai dan para anggotanya tidak sangat ahli dalam menerjuni konflik tersebut.
Oleh karena itu, partai dan anggotanya (syabab) harus memiliki komitmen kuat terhadap kaidahnya yang cemerlang dalam menerjuni perang pemikiran dengan umat agar partai bisa mengalihkan umat dari tsaqafah Barat menjadi tsaqafah Islam. Ketahuilah bahwa kaidah tersebut adalah,
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125).
Jika dalam perang pemikiran melawan penguasa ditujukan untuk memunculkan bahwa sang penentang dan pemilik ide dan ideologi sebagai yang terkuat, tujuan itu harus dihindari oleh partai ketika ia melakukan konflik pemikiran dengan umat. Partai harus berupaya semaksimal mungkin untuk menampilkan diri dan bersikap sebagai ayah yang penuh rasa kasih sayang, saudara yang diliputi rasa belas kasih, atau dokter yang begitu menginginkan kesembuhan umat.
Pada awal konflik, umat dan pihak penguasa akan menjadi satu kelompok melawan partai ideologis yang berupaya untuk menghapuskan segala tsaqafah kufur dari masyarakat. Ketika berbagai tsaqafah yang bercokol di masyarakat merupakan tsaqafah yang dibuat sistem atau biasanya disenangi sistem, maka sudah dapat dipastikan adanya keberpihakan sistem (pihak penguasa) pada pemilik atau penganut tsaqafah tersebut melawan partai dan tsaqafah partai.
Oleh karena itu, partai harus berupaya memisahkan dan menjauhkan penguasa dari umat, karena dalam diri umat ada penganut tsaqafah yang ingin dihapuskan, hal itu dilakukan sebelum atau ketika sedang menjalani pertempuran melawan tsaqafah tersebut. Hal ini (terpisahnya umat dari penguasa-pen) tidak akan pernah terjadi kecuali dengan menyingkap kebobrokan para penguasa dan “menelanjangi” mereka di depan umat untuk menjelaskan bahwa mereka (para penguasa) adalah musuh umat yang sesungguhnya.
Dengan demikian, partai bisa memastikan bahwa penguasa telah berhasil dijauhkan dari umat, kemudian partai bisa melangkah pada tahapan berikutnya, yakni menjelaskan kerusakan tsaqafah yang ingin dihilangkan dari masyarakat.
Dalam proses ini, partai dan anggotanya harus menghindarkan diri dari perdebatan yang tidak produktif dan melakukan perdebatan yang penuh manfaat (produktif), dan diskusi yang membangun serta pembicaraan yang sehat. Partai harus memerangi hujah dengan hujah dan dalil dengan dalil sehingga partai bisa mengikuti garis yang lurus (tsaqafah dan fikrah yang sahih) di sebelah garis yang bengkok (tsaqafah dan fikrah yang batil).
Dengan demikian, akan tampak akar permasalahannya pada setiap mereka yang memiliki mata sehingga memungkinkan mereka yang tulus mencapai dan mau menerima kebenaran (al-haq).
Hal itu tidak mungkin terjadi kecuali bila para anggota partai memahami aktivitasnya, mereka bersikap sebagai orang yang penuh rasa kasih sayang, bukan bersikap sebagai pihak yang berkuasa dan merasa tinggi. Dengan metode ini, kesulitan di atas bisa diatasi dan partai bisa menyelesaikan proses menghilangkan tsaqafah asing dari masyarakat dengan sukses. [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 4/4
Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
