Penulis: Ustaz Arief B. Iskandar
Muslimah News, NAFSIYAH — Renungkanlah sejenak fragmen berikut ini.
Sahabat Amr bin Jamuh ra. adalah seorang yang pincang. Ia memiliki empat anak laki-laki. Semuanya selalu menyertai Rasulullah saw. dalam peperangan. Saat Perang Uhud tiba, Ibnu Jamuh benar-benar ingin menyertai anak-anaknya berperang. Sudah lama ia ingin mati syahid. Sudah lama surga terbayang-bayang di matanya. Namun, saudara-saudaranya selalu mencegahnya. “Engkau telah dikecualikan karena kakimu (pincang). Engkau tidak perlu ikut serta.” Ia menjawab, “Sungguh menyedihkan. Anak-anakku akan masuk surga, sementara aku tertinggal di belakang.”
Ia pun segera melengkapi dirinya dengan senjata, seraya berdoa, “Ya Allah, janganlah Engkau mengembalikan aku kepada keluargaku.”
Ia lalu bergegas menemui Baginda Rasulullah saw. dan berkata, “Sungguh, aku ingin gugur sebagai syuhada, tetapi saudara-saudaraku selalu melarangku ikut berjihad. Wahai Rasulullah, saat ini aku tidak bisa lagi menahan keinginanku. Aku berharap dapat berjalan-jalan di surga dengan kakiku yang pincang ini.”
Rasul saw. menjawab, “Amr, engkau memiliki uzur. Jadi, tidak mengapa jika engkau tidak ikut serta berperang.”
Namun, keinginan untuk mati syahid dan masuk surga begitu kuat. Amr terus mendesak Rasulullah saw. sehingga akhirnya, beliau pun mengizinkannya. Seketika, tanpa membuang waktu, dengan tertatih-tatih, Amr segera menuju medan perang. Allah Swt. mengabulkan keinginannya. Ia pun gugur sebagai syuhada, tidak pernah kembali lagi kepada keluarganya (Al-Kandahlawi, Fadha’il A’mal, hlm. 624).
Kisah-kisah semacam ini amatlah banyak. Ada Hanzhalah ra. yang begitu ringannya meninggalkan indahnya ’malam pengantin’ bersama istrinya—yang baru beberapa jam lalu ia nikahi—saat ada panggilan jihad dalam Perang Uhud. Ada Umair bin Hammam ra. yang melesat secepat kilat untuk berjihad saat Rasul menjanjikan surga bagi siapa saja yang ikut Perang Badar. Ia pun seketika membuang kurma-kurma yang sedang ia santap karena ia anggap akan terlalu banyak memakan waktu. Ada Umair ra.,—saat itu ia baru berusia 9 tahun—saudara Saad bin Abi Waqqas ra., yang terpaksa harus sembunyi-sembunyi ikut serta dalam Perang Badar. Ia khawatir dilarang ikut berjihad oleh Rasulullah saw. karena masih kecil. Demikianlah, masih banyak kisah serupa lainnya yang menunjukkan semangat tinggi dan selalu berkobar-kobar dari para sahabat ra. dalam menyambut seruan jihad fi sabilillah.
Pertanyaannya, mengapa para sahabat ra. begitu mudah termotivasi saat mendengar kata surga? Mengapa mereka selalu antusias saat ada panggilan jihad? Bukankah jihad (perang) berarti mempertaruhkan nyawa dan sering berujung pada kematian? Bagaimana dengan kita?
Wa mâ tawfîqî illâ billâh wa ’alayhi tawakkaltu wa ilayhi unîb. [MNews/YG]
