[Tapak Tilas] Minoritas Muslim di Sunda Kecil

[Tapak Tilas] Minoritas Muslim di Sunda Kecil

Penulis: Siti Nafidah Anshory, M.Ag.

Muslimah News, TAPAK TILAS — Selain Papua, Pulau Bali yang dikenal dengan sebutan Sunda Kecil juga dihuni oleh minoritas muslim, yakni hanya sekira 10,10% pada 2023. Hal ini mengingat penduduk Bali memiliki resistensi terhadap dakwah ajaran Islam, bahkan sejak Kesultanan Demak melakukan dakwah masif di wilayah Timur Nusantara sekira abad ke-15.

Penduduk Bali memang sangat memelihara identitas kehinduan sejak ajaran ini masuk dibawa para pedagang India pada abad pertama Masehi. Eksistensi agama ini kemudian makin kukuh ketika muncul kerajaan bercorak Hindu pertama sekira abad ke-9 hingga sekarang.

Hanya saja Hindu di Bali berbeda dengan corak Hindu di India. Hindu Bali adalah perpaduan agama Hindu India dengan adat animisme yang dianut penduduk asli Nusantara, lalu ajarannya berkembang disesuaikan dengan ketetapan politik Indonesia yang hanya mengakui prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa.

Upaya Dakwah Islam

Kerajaan Hindu pertama di Bali bernama Bendahulu. Setelah kerajaan ini runtuh, berdirilah beberapa kerajaan yang berkuasa secara silih berganti. Namun, pada 1343, Kerajaan Majapahit yang sedang berjaya di bawah kepemimpinan Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada melakukan invasi ke berbagai wilayah di Nusantara, termasuk Bali.

Misi ini berhasil. Kerajaan yang ada di Bali saat itu tunduk pada kekuasaan Majapahit. Lalu pihak Majapahit pun menempatkan perwakilannya di Bali hingga pada 1383, atas pengaruh kerajaan Majapahit, berdirilah Kerajaan Gelgel (Klungkung) yang kedudukannya menjadi salah satu vasal bagi Kerajaan Majapahit.

Raja kerajaan ini diangkat langsung oleh Patih Gajah Mada. Sistem pemerintahan dan kemasyarakatan yang diterapkannya pun sama dengan yang diterapkan Majapahit. Kemudian kerajaan ini terus mengalami perkembangan hingga kekuasaannya tidak hanya menguasai Pulau Bali, tetapi juga Pulau Lombok dan Sumbawa.

Pada masa kerajaan Gelgel inilah interaksi antara penduduk Hindu Bali dengan Islam terjadi. Saat itu, pengaruh Islam di pusat kekuasaan Majapahit memang sudah kuat, baik di kalangan penduduk maupun di dalam lingkungan istana Majapahit. Terbukti, ada penemuan pemakaman Islam kuno di Desa Troloyo, Trowulan, Mojokerto yang diduga merupakan pemakaman penduduk dan keluarga raja yang telah beragama Islam.

Konon saat Hayam Wuruk berkuasa, Majapahit mengundang seluruh penguasa vasalnya di Nusantara. Saat itu yang menjadi wakil Kerajaan Gelgel adalah Dalem Ketut Ngelesir (1380-1460), putra raja pertama Samprangan Sri Aji Krisna Kepakisan alias Dalem Sri Kresna Kepakisan (memerintah 1352).

Saat ia kembali ke Gelgel, ia mendapat pengawalan dari 40 orang pegawai pemerintah Majapahit. Uniknya, mayoritas dari mereka adalah muslim yang berprofesi sebagai tentara, juru kapal, dan juru masak. Lalu sesampainya mereka di Gelgel, pihak kerajaan memberi mereka permukiman khusus yang lambat laun membentuk kemunitas muslim pertama melalui interaksi dan perkawinan yang terjadi secara alami.

Ketika Kerajaan Demak muncul pada 1475 dan mengalami kejayaannya pada era kekuasaan Sultan Trenggana (1505–1513 dan 1521–1546), Demak melakukan dakwah dan futuhat ke berbagai wilayah timur di Nusantara. Pada masa inilah, tepatnya pada 1518, Kerajaan Majapahit tumbang dan sebagian besar wilayah kekuasaannya tunduk pada kekuasaan Islam.

Terkecuali Bali. Saat itu, pemimpin Bali bernama Dalem Waturenggong justru memanfaatkan momen tersebut untuk memerdekakan diri. Itulah yang mendorong Kesultanan Demak mengarahkan futuhat-nya ke wilayah Bali. Caranya adalah dengan mengirimkan utusan untuk misi damai menyebarkan ajaran Islam di wilayah Bali.

Sayang Raja Bali kala itu menolak ajakan utusan Demak yang dalam sebagian kisah disebut utusan dari Makkah. Ia bahkan berupaya keras mencegah masuknya pengaruh Islam di wilayah kekuasaannya. Hal ini dikisahkan dalam buku Islam di Bali, Masuknya Agama Islam di Bali, karya M. Sarlan, terbitan Bidang Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji, Provinsi Bali, 2009.

Benih Komunitas Muslim

Selanjutnya utusan Demak berkolaborasi mengembangkan Islam bersama komunitas muslim yang sudah ada di Gelgel, Klungkung. Di tempat lainnya seperti Jembrana, Karangasem, dan Buleleng, masuknya Islam terjadi sejalan dengan islamisasi yang sukses terjadi di Goa Makasar (Bugis), pulau Sumbawa, dan Lombok (Sasak).

Dari sanalah pengaruh Islam berkembang di tempat-tempat tersebut. Hal ini sejalan dengan perkembangan aktivitas perdagangan yang masif di timur Nusantara pada abad ke-16 atau 17, serta migrasi penduduk Goa yang terjadi pada era kolonialisme Portugis-Belanda.

Hanya saja dakwah tidak bisa berkembang lebih jauh kecuali sekadar membentuk komunitas-komunitas muslim di tempat-tempat tersebut. Hal ini dikarenakan pengaruh agama Hindu benar-benar dipertahankan dengan kuat oleh raja dan penduduknya.

Konon pada perkembangan selanjutnya, eksistensi umat Islam di Bali mulai mendapat pengakuan. Mereka bisa hidup berbaur dengan masyarakat Hindu, bahkan turut memajukan perekonomian Bali. Beberapa di antara mereka dikenal turut berjasa dalam mempertahankan Bali dari upaya kolonialisme Belanda. Salah satunya adalah Syarif Abdullah bin Yahya Alqadri yang merupakan seorang panglima perang dari Kesultanan Pontianak yang ikut berjuang di Jembrana sekitar 1799 M.

Yang menarik, di Buleleng ditemukan peninggalan sejarah berupa Al-Qur’an tulisan tangan berusia ratusan tahun. Mushaf yang tersimpan di Masjid Jami Kota Singaraja ini dipercaya sebagai tulisan tangan dari Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celagi, salah seorang kerabat kerajaan Buleleng yang masuk Islam tahun 1820-an. Masjid ini didirikan tahun 1846 pada masa pemerintahan Raja Buleleng A. A. Ngurah Ketut Jelantik Polong (putra A. A. Panji Sakti, Raja Buleleng I) yang beragama Hindu.

Minoritas Muslim Saat Ini

Hingga saat ini, kaum muslim di Bali masih menjadi minoritas. Meski terkesan damai, benih-benih intoleransi dan diskriminasi masih saja berpotensi terjadi. Hal ini bisa dipahami, mengingat ada perbedaan diametral antara ajaran Hindu dan Islam, mulai dari aspek keimanan hingga aspek aturan perbuatan.

Apa yang terjadi baru-baru ini ketika salah satu senatornya mengungkap ketidaksukaannya atas pengawai frontline bandara yang menggunakan hijab, hanyalah satu dari sekian banyak kasus intoleransi yang sempat terjadi. Sebelumnya, soal penggunaan pakaian muslim di sekolah juga sempat mencuat ke permukaan. Juga beberapa kali terjadi sikap intoleran saat perayaan Nyepi dan Idulfitri.

Bagaimanapun, umat Islam di Bali tidak akan mudah melaksanakan ajaran Islam secara utuh. Selain dikarenakan corak kehidupan Hindu demikian kental mengakar, juga mulai muncul militansi Hindu yang bisa menjadi benih-benih persoalan.

Hanya saja umat Islam di Bali tetap memiliki kewajiban menyampaikan kebenaran Islam. Karena dakwah ini merupakan kewajiban yang melekat pada setiap muslim di mana pun dan kapan pun mereka berada.

Tentu saja caranya harus mencerdaskan sebagaimana yang Rasulullah saw. contohkan, bukan dengan cara yang melegalkan kekerasan. Hanya dengan cara inilah keindahan ajaran Islam sebagai tuntunan dan solusi berbagai persoalan kehidupan akan ditangkap dan dipahami hingga lambat laun mereka pun bisa menerima Islam, bahkan siap hidup di bawah naungannya. [MNews/Rgl]

*) Dinarasikan ulang dari berbagai sumber tulisan.

Share

One thought on “[Tapak Tilas] Minoritas Muslim di Sunda Kecil”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *