Penulis: Ustaz Irfan Abu Naveed
Muslimah News, NAFSIYAH — Kesabaran itu ada batasnya. Benarkah? Pernyataan ini tampak mengelabui sebagian orang. Lalu menjustifikasi ketaksabaran dengan khurafat beracun ini. Pertanyaan baliknya, “Adakah manusia yang bisa bersabar ditempa siksa Jahanam karena menolak kewajiban bersabar ketika di dunia?” Tentu tidak. Sesungguhnya telah jelas, tatkala Allah Swt. memerintahkan setiap insan untuk bersabar, maknanya, kesabaran tidak bisa dibatasi pengakuan manusia, melainkan wajib dilaksanakan sepanjang hayat sesuai syariat hingga tiba masanya manusia menutup mata. Allah Swt. berfirman,
وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ ٤٥
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong kalian. Sungguh yang demikian adalah berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al-Baqarah [2]: 45).
Syekh Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah dalam At-Taysîr fî Ushûl al-Tafsîr (hlm. 78) menjelaskan, “Allah memerintahkan dalam ayat ini untuk mencari pertolongan-Nya dengan bersabar ketika menghadapi ujian yang melanda. Dengan demikian, seseorang tetap kukuh di atas jalan kebenaran. Berbagai musibah tidak melemahkannya. Berbagai rintangan pun tidak memalingkan dirinya.”
Ini sejalan dengan seruan-Nya,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ ١٥٣
“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong kalian. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 153).
Syekh Syekh ‘Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, saat menafsirkan ayat ini menjelaskan bahwa kesabaran itu tergambar dalam upaya menyampaikan dan mengamalkan kebenaran, serta mampu menghadapi cobaan di jalan Allah Taala. Berhasil menjalani itu semua berdasarkan tuntunan Allah Swt. dan Rasul-Nya, tanpa ada penyimpangan dan sikap lemah menghadapi itu semua. (Lihat pula QS Al-Baqarah [2]: 249 dan QS Al-Anfal [8]: 46).
Bukankah dalam ayat ini terdapat informasi tegas (mu’akkad) bahwa Allah Swt. menyertai orang-orang yang sabar? Diawali adanya perintah (insyâ’î) untuk meraih pertolongan Allah melalui sifat sabar, menjadi petunjuk tegas (qarînah jâzimah) bahwa bersabar itu wajib, bagian dari tuntutan dan tuntunan syariat itu sendiri, dan menjadi sarana menjemput pertolongan Allah (nashrullâh).
Lantas bagaimana bisa dikatakan kesabaran itu ada batasnya dan dibatasi kemauan manusia? Kesabaran itu sendiri mencakup kesabaran dalam menegakkan ketaatan, menahan diri dari keburukan, dan menghadapi ujian dari Allah Taala.
Benarlah sebagian hukama yang berkata,
لَوْلَا حَوَادِثَ الأيام لَمْ يُعْرَفْ * صَبْرُ الكِرَامِ وَلَا جَرْعَ اللِّئَامِ
“Kalaulah tiada bencana-bencana hari, tidak akan diketahui kesabaran orang-orang mulia, tidak pula kegundahan orang-orang nista.”
Sabar, Raih Semangat dan Pahala Tanpa Batas
Allah Swt. jelas menyandingkan keteguhan berdakwah dengan kesabaran itu sendiri dalam firman-Nya,
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣
“Kecuali mereka yang beriman dan beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS Al-‘Ashr [103]: 3).
Ini menunjukkan bahwa kesabaran merupakan penyokong sikap teguh di jalan dakwah. Sabar mencakup keteguhan menapaki titian metode dakwah Rasulullah ﷺ. Tidak menjadi berpaling karena arus pragmatisme dari mereka yang tidak paham, tersesat jalan, sekaligus sabar menghadapi berbagai rintangan di jalan perjuangan. Ini sebagai pengejawantahan firman-Nya,
وَنَبۡلُوكُم بِٱلشَّرِّ وَٱلۡخَيۡرِ فِتۡنَةٗۖ وَإِلَيۡنَا تُرۡجَعُونَ ٣٥
“Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Hanya kepada Kami, kalian dikembalikan.” (QS Al-Anbiyâ’ [21]: 35).
Ibn Abbas ra., dinukil dalam Tanwîr al-Miqbâs (hlm. 271), berkata, “Kami akan menguji kalian dengan kesulitan (asy-syiddah) dan kemakmuran (al-rakhâ’).” Yang dimaksud nablûkum adalah nakhtabirukum (kami menguji kalian).
Bukan berjuang sendiri, melainkan berjemaah. Ini ditunjukkan oleh lafal perintah tawâshawu dengan subjek jamak, yang menunjukkan interaksi dua sisi dengan wazn tafâ’ala. Ahmad bin al-Amin al-Syanqiti (w. 1331 H) dalam Al-Wasît fî Tarâjim Udabâ’i Syinqît (hlm. 150) menuturkan,
وتواصوْا بالحقّ والصبرِ وابْغوا * في العَفاف الغِنى على كل حال
“Saling berwasiatlah dalam kebenaran dan kesabaran, carilah dalam kesederhanaan itu kelapangan dalam segala keadaan.”
Bahkan dikatakan dalam Dîwân Al-Imam Al-Syafi’i (w. 204 H),
صَبْراً جَمِيلاً ما أقربَ الفَرَجَا*
من رَاقَبَ الله فِي الأمورِ نَجَا
منْ صدق الله لم ينلهُ أذى*
ومن رجَاهُ يكونُ حيثُ رَجَا
“Bersabarlah dengan sebaik-baiknya, itu lebih mendekatkan kepada kelapangan. Siapa saja yang mendekatkan diri kepada Allah dalam berbagai persoalan akan meraih keberhasilan.”
“Siapa saja yang membenarkan Allah, siksa neraka tidak akan menyentuh dirinya. Siapa saja yang berharap kepada Allah, sesungguhnya Allah ada di mana pun ia berharap.”
Menariknya, mereka yang bersabar akan Allah cukupkan dengan pahala sangat besar. Ini dinyatakan dalam firman-Nya,
إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجۡرَهُم بِغَيۡرِ حِسَابٖ ١٠
“Sungguh, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar [39]: 10).
Teladan Salaf
Kesabaran pun tampak jelas dalam teladan generasi salaf, menghiasi lisan dan perbuatan mereka. Rasulullah saw. memerintahkan keluarga Yasir bersabar di atas Islam hingga ajal menjemput ditempa siksaan kaum kafir Quraisy ketika itu. Rasulullah saw. bersabda,
صَبْرًا يا آل ياسِرٍ، فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّة
“Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, karena sungguh tempat kembali kalian adalah surga.” (HR Al-Hakim dan At-Thabarani).
Perintah agung Rasulullah saw. untuk bersabar (ditandai dengan lafal shabr[an] yang termasuk shiyagh al-amr [al-mashdar al-nâ’ib ’an fi’l al-amr]), diikuti khabar ganjaran agung berupa surga-Nya, mengisyaratkan bahwa kesabaran menjadi jembatan setiap hamba untuk meraih rida-Nya.
Bukan sepotong kisah ini saja. Umat yang agung ini pun besar dengan kisah-kisah kesabaran yang nyata. Bukan dongeng kepahlawanan semata. Mereka inilah yang Allah menyitirnya dalam firman-Nya,
وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيّٖ قَٰتَلَ مَعَهُۥ رِبِّيُّونَ كَثِيرٞ فَمَا وَهَنُواْ لِمَآ أَصَابَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ وَمَا ضَعُفُواْ وَمَا ٱسۡتَكَانُواْۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS Ali ’Imran [3]: 146).
Prof. Dr. Muhammad Ali al-Shabuni dalam Shafwat at-Tafâsîr (hlm. 212) menjelaskan, yakni betapa banyak para nabi yang berjihad meninggikan kalimat Allah. Para ulama rabbani dan ahli ibadah yang saleh pun berjuang membersamai para nabi ini. Lalu di antara mereka mendapati kematian yang dinantikan (syahid). Namun, tempaan kematian dan luka-luka tidaklah mengendorkan semangat mereka dan melemahkan tekad di dada. Tidak pula membuat mereka tunduk dan melemah di hadapan musuh hingga meraih predikat walLâhu yuhibbu ash-shâbirûn (Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang bersabar).
Alhasil, bersikap sabarlah. Sekali layar terkembang, pantang biduk surut ke pantai. Sekali berjuang, pantang mundur ke belakang.
WaLlâhu a’lam bi ash-shawâb. [MNews/YG]
Sumber: alwaie[dot]net
