Penulis: Nabila Ummu Anas
Muslimah News, TARIKH KHULAFA — Sebagai kepala negara, Sultan Murad I sadar sepenuhnya bahwa Daulah Utsmaniyah harus terus melakukan jihad fisabilillah, berperang di jalan Allah. Ia juga mengetahui bahwa kemenangan hanya dapat tercapai berkat pertolongan Allah Taala. Oleh sebab itu, di samping penyiapan pasukan yang akan menggentarkan musuh, Sultan Murad I banyak berdoa, serta mendekatkan diri dan bertawakal kepada Allah.
Doa Pemimpin yang Bertakwa
Saat perang di jalan Allah digencarkan, di antara doa yang dipanjatkan Sultan Murad I adalah, “Ya Allah, Tuhan yang menguasai langit dan menerima permohonan setiap hamba-Nya. Janganlah Engkau membuat aku hina. Wahai Tuhan yang Maha Pemurah lagi Mengasihani, perkenankanlah doa hamba-Mu ini pada kali ini. Kirimkan kepada kami para malaikat dari langit, pecahkan kepekatan malam ini agar kami dapat melihat kedudukan musuh kami.”
“Wahai Tuhan yang mengawasi setiap makhluk-Nya. Engkaulah Maha Pemberi, sedangkan kami adalah hamba yang memohon pertolongan-Mu. Aku hanyalah hamba-Mu yang fakir dan hina. Engkaulah yang Maha Mengetahui tentang perkara yang gaib dan segala rahasia yang tersembunyi dan apa yang disimpan di dalam hati. Bukanlah aku orang yang mementingkan dan mengharapkan keuntungan peribadi, bukan pula aku menginginkan harta rampasan perang yang banyak.”
“Aku tidak tamak kecuali pada keridaan-Mu dengan penuh keikhlasan, ya Allah, Engkaulah Tuhan yang Maha Agung. Wahai Tuhan yang mengawasi setiap makhluk-Nya. Aku mempertahankan-Mu dengan nyawaku, maka terimalah pengharapanku. Janganlah Engkau jadikan kaum muslim ini terhina di hadapan pihak musuh. Ya Allah yang Maha Mengasihani, janganlah Engkau jadikan aku penyebab atas kematian mereka. Bahkan, berikan mereka kaum yang mendapat kemenangan.”
“Sesungguhnya jiwaku ini akan aku serahkan demi membela keagungan-Mu, wahai Tuhanku. Aku amat mengharapkan dan senantiasa memohon agar diberikan pangkat syahid demi kemuliaan tentara Islam. Ya Allah, janganlah Engkau perlihatkan kepadaku ujian yang getir, kekalahan mereka di hadapan musuh-Mu. Dengarlah permohonanku kali ini wahai Tuhan, sesungguhnya di jalan-Mu dan demi keridaan-Mu aku berjuang, sebelum Engkau jadikan aku pejuang pada esok hari.”
Yakin Kemenangan dari Allah
Sultan Murad I berhasil masuk jauh ke wilayah-wilayah Balkan melalui para panglimanya. Hal ini membangkitkan kemarahan Serbia. Mereka berkali-kali mengambil kesempatan untuk menggempur pasukan Utsmaniyah di Balkan dan wilayah sekitarnya. Namun, mereka selalu gagal dan tidak pernah mendapatkan kemenangan yang berarti.
Kemudian pasukan Serbia, Bosnia, dan Bulgaria bersekutu. Mereka menyiapkan pasukan Salib Eropa dalam jumlah yang sangat banyak untuk memerangi pasukan Sultan Murad I yang sudah sampai di wilayah Kosovo, setelah mempersiapkan pasukan yang kuat di Balkan. Perang berkecamuk antara dua pasukan dan terus bertambah sengit hingga pasukan kaum muslim meraih kemenangan yang sangat gemilang.
Pasukan Utsmaniyah bergembira dan merasa optimis meraih kemenangan. Semangat jihad mereka membara dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Anfal ayat 61, “Hai Nabi, kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antara kalian, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”
Syahidnya Sultan Murad I
Setelah meraih kemenangan di Kosovo, Sultan Murad I berdiri untuk mengecek pasukan di medan perang. Ia berjalan mengelilingi orang-orang yang terbunuh dari kalangan kaum muslim dan berdoa untuk mereka. Ia juga mengecek tentara yang terluka. Pada saat itu ada tentara Serbia yang pura-pura mati dan berlari ke arah Sultan Murad I, kemudian menikamnya. Sultan Murad I pun meninggal dalam keadaan syahid pada tanggal 15 Syakban tahun 791 H.
Kata-kata terakhir Sultan Murad I, “Tidak ada yang patut aku ucapkan saat perjalanan terakhirku, kecuali aku harus menyatakan syukur kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui sesuatu yang gaib, yang mengabulkan permohonan seorang hamba yang fakir. Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah. Tidak ada yang berhak untuk dipuja dan disyukuri kecuali Dia. Kini, perjalanan hidupku telah mendekati akhir dan aku melihat kemenangan tentara Islam di depan mata. Taatilah putraku Yazid. Janganlah kalian menyiksa para tawanan, jangan menyakiti mereka, dan jangan merampas barang bawaan mereka. Hari ini aku tinggalkan kalian dan tentaraku yang menuai kemenangan gemilang untuk menuju rahmat Allah. Dialah yang akan menjaga negara kita dari segenap keburukan.”[MNews/Rgl]
Sumber: Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi, Sejarah Daulah Utsmaniyah, Faktor-Faktor Kebangkitan dan Sebab-Sebab Keruntuhannya, Ummul Qura
