[Dunia Remaja] Muda Mulia, Pantang Berfoya-foya

[Dunia Remaja] Muda Mulia, Pantang Berfoya-foya

Muslimah News, DUNIA REMAJA — “Masa muda adalah waktu emas, jangan disia-siakan dalam kesenangan semu.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Liburan telah tiba berbarengan dengan pergantian tahun Masehi. Fix, ini bikin panen keramaian di berbagai tempat. Akhir tahun memang selalu dinanti banyak orang untuk mengumbar kesenangan dengan berbagai kegiatan.

Ada yang sekadar ngumpul bareng keluarga menghabiskan malam pergantian tahun dengan bakar jagung dan ayam, sambil nyalain petasan dan kembang api. Ada juga yang sengaja bikin pesta pora, baik dalam ruangan atau di alam bebas yang dekat dengan kemaksiatan. Having fun semua.

Bagi kita remaja muslim, momen pergantian tahun sering bikin dilema. Lantaran Islam enggak pernah ngajarin untuk merayakan pergantian tahun baru Masehi. Sementara teman-teman dekat kita malah sibuk bikin agenda seru-seruan di sana-sini. Kita mau ikut-ikutan, itu jelas bukan budaya Islam. Enggak ikut, dibully dan dijauhi teman. Lantas, gimana dong? 

Tahun Baruan Bukan Budaya Islam

Santuy aja. Tenangkan diri. Sebelum menentukan sikap, kita pahami dulu masalahnya. Peringatan tahun baru sudah dimulai sejak 45 tahun SM (sebelum Masehi) pada masa Kaisar Julius Caesar. Januari dipilih menjadi bulan pertama karena dikaitkan dengan nama dewa Janus. Dewa ini memiliki dua wajah, satu menghadap ke (masa) depan dan satu lagi menghadap ke (masa) lalu atau ke belakang.

Pada 1582 M, Paus Gregorius XIII mengubah Perayaan Tahun Baru Umat Kristen dari 25 Maret menjadi 1 Januari. Kalender Gregorian yang kita kenal sebagai kalender Masehi dibuat berdasarkan kelahiran Yesus Kristus dalam keyakinan Kristen. 

Seiring muncul dan berkembangnya agama Kristen, akhirnya perayaan ini diwajibkan oleh para pemimpin gereja sebagai suatu perayaan “suci” yang satu paket dengan hari Natal. Itulah mengapa ucapan Natal dan Tahun baru dijadikan satu.

Nah, itu sedikit penjelasannya, ya. Jadi jangan sampai kita ikut-ikutan perayaan yang belum jelas asal-usulnya dan enggak mau cari tahu infonya. Bahkan, enggak tahu hukumnya, haram atau tidak jika ikut-ikutan acara tersebut. Kebiasaan buruk tersebut yang cumaikut-ikutan tanpa landasan syariat Islam, kita merasa sah melakukannya. Bahkan, dijadikan legalitas untuk nge-follow hal yang bukan berasal dari Islam. Astagfirullah.

Sesungguhnya, dengan tegas, Rasulullah saw. mengingatkan, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk bagian dari mereka.” (HR Ahmad dan Abu Dawud).

Jangan sampai cuma karena meniup terompet sambil teriak hitungan mundur di penghujung waktu pergantian kalender, akidah kita tergadaikan. Kemuliaan kita sebagai seorang muslim tercabut. Sesungguhnya, tidak ada anugerah terbesar yang kita terima dari Allah Swt., kecuali iman dan Islam dalam diri kita. Jadi, jauhi budaya berfoya-foya yang bisa menjerumuskan kita pada kehinaan dunia dan akhirat. Catat!

Kunci Muda Mulia

Kemuliaan hidup kita bukan ditentukan oleh rida manusia. Bukan pula oleh teman sebaya atau circle pertemanan kita. Emang enggak nyaman kalo dijauhi teman. Akan tetapi, jauh lebih nelangsa kalo perilaku kita melanggar hukum syariat dan enggak diridai Sang Pencipta.

Sebagai remaja muslim, kunci kemuliaan hidup kita ditentukan oleh dua hal, Sobat. Ini sebagaimana nasihat Imam Syafi’i dalam kitab Diwan, “Eksistensi seorang pemuda, Demi Allah, adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, tidak ada jati diri padanya.”

Pertama, ilmu yang akan mengantarkan kita pada kemuliaan hidup di dunia dan akhirat. Dalam sebuah halaqah, terjadilah diskusi antara guru dan para muridnya mengenai kemuliaan ilmu.

Salah seorang murid mengajukan pertanyaan kepada gurunya, Imam Syafi’i, “Wahai guru, berikanlah alasan kenapa ilmu bisa memuliakan seseorang yang memilikinya?”

Sang guru tersenyum lirih seraya menjawab, “Dari dirimu sendiri, engkau bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu dan membuktikan bahwa ilmu dapat memuliakan pemiliknya. Pada hakikatnya, engkau akan senang ketika ada seseorang yang memujimu karena keluasan ilmu yang engkau miliki. Demikian pula sebaliknya, engkau akan sedih dan marah ketika ada seseorang mencela keterbatasan ilmu yang ada dalam dirimu.”

Mendengar jawaban sang guru, murid itu akhirnya dapat memahami bahwa ilmu dapat mengangkat derajat seseorang. Artinya, orang yang berilmu lebih tinggi derajatnya beberapa tingkat daripada orang yang tidak berilmu.

Dalam kitab Diwan Imam Syafi’i, beliau pernah berkata, “Belajarlah! Tidak seorang pun yang terlahir sebagai ilmuwan. Seorang yang berilmu tidak sama dengan orang yang bodoh. Pembesar suatu kaum jika bodoh akan menjadi kecil saat para pembesar berkumpul. Orang kecil jika pandai akan tampak besar saat berada dalam perkumpulan.”

Kedua, ketakwaan yang menjadikan hidup kita mulia. Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa ada 40 keutamaan yang didapatkan orang yang bertakwa. Di antaranya, dihilangkan kesulitannya, selalu diberi jalan keluar bagi masalahnya, dan diberi rezeki dari jalan yang tidak disangka-sangka.

Sebagaimana firman Allah Swt., “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2—3).

Ketakwaan itu lahir dari hasil menimba ilmu. Oleh karena itu, jangan pernah lelah. Teruslah belajar dan mengenal Islam lebih dalam. Ikut ngaji tanpa tapi, tanpa nanti.

Kalau ada Bestie yang ngajak ikut ngerayain tahun baru, ingetin aja kalo keseruan itu bisa menjerumuskan kita. Enggak masalah dikatain cupu di mata mereka, tetapi mulia di hadapan Allah Taala. Sebaliknya, ajakin doi untuk ikut ngaji atau mengisi waktunya dengan muhasabah diri.

Allah Swt. mengingatkan kita, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr [59]: 18).

Ayat ini merupakan isyarat untuk melakukan muhasabah setelah amal berlalu. Oleh karena itu, Umar bin Khaththab ra. berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.” (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (terj.), hlm. 478)

Kuy! Saatnya kita berubah menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengkaji Islam. Ingat, enggak ada kata terlambat selama kita masih bernafas. Segera evaluasi diri. Siapkan bekal sebelum bertemu Allah, jangan kebanyakan menumpuk dosa. Ingatlah, sebaik-baik bekal adalah takwa yang membuahkan pahala. Muda mulia, pantang berfoya-foya! [MNews/YG]

Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 240

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *