[Metode Dakwah Al-Qur’an] Metode Dakwah Al-Qur’an Khusus mengenai Akidah atau Perang Pemikiran (Bagian 2/4)

[Metode Dakwah Al-Qur’an] Metode Dakwah Al-Qur’an Khusus mengenai Akidah atau Perang Pemikiran (Bagian 2/4)

Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.

Sambungan dari Bagian 1/2

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Ayat-ayat Al-Qur’an telah mengemukakan nama Tuhan-Tuhan mereka yang mereka sebut-sebut bersama nenek moyang mereka, sedangkan tidak ada bukti apa pun yang diturunkan oleh Allah tentang nama-nama itu:

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata dan al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (QS An-Najm [53]: 19).

Ayat-ayat Al-Qur’an juga menyebut nama-nama Tuhan orang-orang terdahulu, seperti kaum Nabi Nuh as. dan pandangan mereka,

“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Tuhan-Tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa, yaghuts, ya`uq, dan nasr.” (QS Nuh [71]: 23).

Dalil-dalil mengenai hal itu sangat banyak. Kami ketengahkan sebagiannya dan tidak cukup ruang untuk mengemukakan semuanya. Allah Swt. juga berfirman dalam surah An-Najm,

“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS An-Najm [53]: 19—23).

Juga dalam firman Allah Swt. dalam surah Ath-Thûr,

“Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenung dan bukan pula seorang gila. Bahkan mereka mengatakan, ‘Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya.’ Katakanlah, ‘Tunggulah, maka sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu.’ Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka mengatakan, ‘Dia (Muhammad) membuat-buatnya.’ Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur’an itu jika mereka orang-orang yang benar. Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? Ataukah mereka mempunyai tangga (ke langit) untuk mendengarkan pada tangga itu (hal-hal yang gaib)? Maka hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.” (QS Ath-Thûr [52]: 29—38).

Demikian seterusnya, perdebatan tersebut terus berlangsung dengan struktur pertanyaan yang berbentuk penegasian (as’ilah istinkâriyah) sampai pada firman-Nya,

“Ataukah mereka hendak melakukan tipu daya? Maka orang-orang yang kafir itu merekalah yang kena tipu daya. Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah? Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Ath-Thûr [52]: 42—43).

Dalam surah Al-Mulk,

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (QS Al-Mulk [67]: 16—17).

sampai akhir surah, Allah berfirman,

“Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?'” (QS Al-Mulk [67]: 30).

Dalam firman Allah dalam surah Al-Qalam,

“Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, ‘(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala.’ Kelak akan kami beri tanda dia di belalai-(nya).” (QS Al-Qalam [68]: 10—16).

Dalam surah Al-Muzammil,

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku (saja) bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar. Karena sesungguhnya pada sisi Kami ada belenggu-belenggu yang berat dan neraka yang bernyala-nyala, dan makanan yang menyumbat di kerongkongan dan azab yang pedih.”(QS Al-Muzzammil [73]: 10—13). [MNews/Rgl]

Sumber: Hafidz Shaleh, MA., Metode Dakwah Al-Qur’an

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *