[Metode Dakwah Al-Qur’an] Metode Dakwah Al-Qur’an Khusus mengenai Akidah atau Perang Pemikiran (Bagian 1/4)

[Metode Dakwah Al-Qur’an] Metode Dakwah Al-Qur’an Khusus mengenai Akidah atau Perang Pemikiran (Bagian 1/4)

Penulis: Hafidz Shaleh, M.A.

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Telah menjadi pengetahuan umum bahwa tidak mungkin memberikan ide baru kepada seseorang, sedangkan dalam benaknya terdapat sesuatu yang bertentangan atau kontradiksi dengannya. Oleh karenanya, yang ada harus dihilangkan dulu, agar yang baru bisa ditetapkan.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d [13]: 11).

Oleh karena itu, Al-Qur’an tidak mencukupkan dengan hanya menjelaskan akidah Islam dan pemikirannya, serta hukum-hukum dan syariatnya, tetapi Al-Qur’an juga memberi perhatian pada akidah dan pemikiran yang rusak dalam diri kaum tersebut, lalu menjelaskan kekeliruannya dan membuktikan kebatilannya.

Saat Islam hadir, masyarakat ketika itu benar-benar dalam kebodohan yang nyata dan kesesatan yang dalam. Adalah jelas bahwa dua akidah yang kontradiksi tidak mungkin menyatu dalam benak manusiamanusia.  Oleh karena itu, berbagai akidah yang rusak dan pemikiran yang salah tersebut harus diruntuhkan argumentasinya.

“Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap.” (QS Al-Anbiyâ’ [21]: 18).

Dengan demikian, hujah harus dihantam dengan hujah, argumentasi dengan argumentasi. Banyak ayat telah menghina mimpi-mimpi kaum tersebut, menyerang keyakinan mereka, menjelaskan kekeliruannya, serta membuktikan kebatilannya, baik dari aspek asas maupun cabang-cabangnya. Al-Qur’an tidak hanya mengkritik secara global terhadap orang yang tidak beriman, dan tidak hanya menggunakan aspek-aspek umum, atau pemikiran yang menyeluruh saja, tetapi juga memberi perhatian pada bagian-bagiannya.

Ayat-ayat Al-Qur’an mengkritisi apa dikemukakan oleh tiap sekte/kelompok. Artinya, ayat tersebut tidak hanya menyerang kekufuran karena semata-mata kufur, tetapi ia juga menyerang semua bentuk kekufuran. Memang benar, kekufuran itu merupakan satu agama (paham). Ketika kata “kufur”, “kuffar” dan “kâfirûn” dikemukakan, tidak ada konotasi lain selain semua orang yang tidak mengimani kenabian dan kerasulan Muhammad.

Bukan hanya orang yang tidak beriman kepada Allah, seperti kaum ateis, atau beriman kepada Allah, tetapi berpandangan bahwa Allah tidak mempunyai tempat dalam kehidupan, atau orang yang tidak mengimani kebangkitan. Mereka semuanya dalam pandangan Islam adalah kafir. Jadi, setiap orang yang tidak beriman kepada kerasulan/risalah Muhammad saw. adalah kafir.

Memang, banyak ayat telah beruntun menyerang kekufuran dan orang-orang kafir. Betapa banyak ayat yang telah melaknat orang-orang kafir.

“Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim.”(QS Hûd [11]: 18).

Berapa banyak ayat yang telah menghina mimpi-mimpi mereka dan mencela Tuhan-Tuhan mereka dengan gaya bahasa yang umum. Namun, ketika ayat-ayat tersebut membangun hujah terhadap masalah tertentu, ayat-ayat itu pasti mencantumkan apa yang dikemukakan oleh sekte kafir ini ataupun itu, kemudian mengkritik apa yang mereka kemukakan, meski hanya terhadap satu ide pada satu sekte. Oleh karenanya, kita menemukan ayat-ayat tersebut mengkritik klan-klan Arab dengan berbagai keyakinannya secara spesifik, atau mengeneralisasi mereka, kemudian menyebut mereka sebagai kaum musyrik untuk membedakan dengan orang-orang kafir ahli kitab. Ayat-ayat tersebut telah mengkritik pandangan materialisme bangsa Arab yang menyatakan,

“Kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.”(QS Al-Mu’minûn [23]: 37).

“Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS Al-Jâtsiyah [45]: 24).

Atau orang-orang yang mengakui dan meyakini eksistensi Tuhan,

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka, ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?’ niscaya mereka menjawab, ‘Allah.'” (QS Az-Zumar [39]: 38).

Atau orang-orang yang tidak beriman sebagai kedengkian dalam hati mereka, atau orang-orang yang mengatakan,

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?'” (QS Az-Zukhruf: 31).

Yaitu, Makkah dan Thaif. Atau orang-orang yang mengatakan,

“Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS Az-Zukhruf [43]: 3).

Ayat-ayat tersebut juga telah menyerang Tuhan-Tuhan mereka dan menjelaskan sisi-sisi buruknya, bahwa ia tidak bisa memberi manfaat dan mudarat, bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya dari keburukan. Mudah-mudahan ayat-ayat ini akan menggerakkan kepekaan dan perasaan mereka sehingga mereka bisa memfungsikan akal mereka serta memikirkan apa yang dikemukakan kepada mereka, agar dengan cara berpikir mereka itu, mereka akan bisa mengetahui kebenaran dan hakikat yang sesungguhnya. [MNews/Rgl]

Sumber: Hafidz Shaleh, M.A., Metode Dakwah Al-Qur’an

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *