[Nafsiyah] Menjauhi Kesombongan, Mengingat kematian

[Nafsiyah] Menjauhi Kesombongan, Mengingat kematian

Muslimah News, NAFSIYAH — Salah satu akhlak tercela yang sering kita temukan dalam interaksi manusia ialah sikap sombong. Sikap sombong yaitu memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, hlm. 664).

Allah Taala melarang manusia bersikap sombong. Ini dinyatakan dalam firman-Nya, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong, lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18).

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. dari Rasulullah saw., “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya, Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.” (HR Muslim).

An-Nawawi ra. berkata, “Hadis di atas berisi larangan dari sifat sombong, yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, dan menolak kebenaran.” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, hlm. 163).

Oleh karena itu, jauhilah kesombongan. Bagaimana caranya agar kita bisa menjauhi kesombongan? Salah satunya dengan mengingat kematian.

Mengingat Kematian

Tidak ada seorang manusia pun yang bisa mengelak kematian ketika telah tiba waktunya. Kematian akan tetap datang kendati seseorang bersembunyi di tempat paling aman di bumi. Imam Al Ghazali dalam kitab Khuluq al Muslim menasihati murid-muridnya dengan mengatakan bahwa yang paling dekat kepada manusia ialah kematian.

Di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang mengingatkan manusia agar tidak melupakan kematian. Allah Taala berfirman, “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS Al-Araf: 34).

Oleh karena itu, diharamkan membunuh diri sendiri atau orang lain tanpa alasan yang hak (sesuai syarak). Seperti saat ini, mudah sekali manusia memilih jalan pintas dengan membunuh diri sendiri untuk mengakhiri ujian kehidupan. Sesungguhnya, mereka justru akan menghadapi masalah baru di hadapan Rabb-nya.

Kemudian, Allah Swt. juga berfirman, “Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Munafiqun: 11).

Allah Swt. juga berfirman, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumuah: 8).

Ketiga ayat di atas menjadi penanda bagi kita betapa pentingnya untuk selalu mengingat kematian. Cara ini ampuh sekali jika kesombongan hadir dalam ruang kehidupan kita. Seketika, kita akan tertunduk malu di hadapan Allah Taala. Ini karena sebagai makhluk, tidak ada yang pantas untuk kita sombongkan.

Rasulullah saw. menyebutkan bahwa orang yang paling berakal adalah yang paling banyak mengingat kematian. Ia tidak akan terlena dengan perkara dunia yang bersifat sementara. Sebaliknya, ia akan lebih sibuk mempersiapkan diri untuk meraih keselamatan dan kenikmatan di akhirat yang abadi.

Merugilah orang yang mengingkari kematian dan hanya mengingat dunia saja. Para salafus saleh memiliki beragam cara untuk selalu mengingatkan diri kepada kematian. Salah satunya dengan melakukan ziarah kubur.

Pada kitab Mukasyafah Al Qulub al Maqarrib ila hadhrah ‘Allam al Ghuyub, Imam Ghazali menjelaskan kisah tentang Shafiyah bin Huyay ra. yang mengadukan kepada Aisyah ra. tentang keadaan hatinya. Aisyah ra. pun menyarankan kepadanya untuk mengingat kematian agar membuat hati menjadi lembut.

Banyak hikmah yang bisa kita dapatkan dengan mengingat kematian. Kita pun akan bersegera menunaikan berbagai syariat-Nya dan berupaya tidak melanggar larangan-Nya. Namun sayang sekali, kematian dianggap jauh oleh sebagian manusia. Oleh sebab itu, mereka terus menerus berbuat maksiat, mengambil hak orang lain, dan tidak menunaikan kewajibannya di hadapan Allah Taala.

Manusia seperti ini tentu berpikir bahwa ia akan hidup selamanya di dunia. Sesungguhnya, ia telah tertipu dengan urusan dunia, lalu lalai mempersiapkan bekal menuju Rabb-nya. Setelah mendapati kematian, barulah ia menyesal dan meminta kepada Allah Taala untuk dikembalikan ke dunia agar bisa beramal saleh.

Namun, saat itu semua telah terlambat. Kematian telah memutuskan segala urusannya dengan dunia. Berbagai amal yang ia lakukan di dunia menjadi harapannya agar meraih ampunan dan tempat terbaik di sisi Allah Taala. Oleh karenanya, sebelum terlambat, hendaknya kita segera menyadari dan memenuhi syariat-Nya. Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *