[Dunia Remaja] Iri? Istigfar, Bos!

[Dunia Remaja] Iri? Istigfar, Bos!

Muslimah News, DUNIA REMAJA — “Hina aja terus, Bosku / Dunia ini milik kau / Pandang aku sebelah mata / Anggap kau paling sempurna / Gue bikin karya malah Lu yang rusuh / Ngomong di belakang itu tanda tak mampu / Kalo iri, bilang, Bosku / Hidup tuh, jangan belagu”

Penggalan lagu rap di atas lagi populer di salah satu platform media sosial. Meskipun banyak versi dan cover dengan judul lagu yang mirip, namun isi pesannya tetap sama, yakni tentang sikap toxic generasi muda dalam pergaulan. Iri alias hasad bin dengki. Hati-hati!

Dari Linimasa, Turun ke Hati

Hari gini, kecanggihan teknologi menggiring remaja untuk aktif berselancar di dunia maya. Mereka utamanya menjelajahi berbagai platform media sosial, tempat paling favorit untuk bergaul online. Awalnya bikin akun cuman untuk formalitas aja biar dianggap gaul. Akhirnya, malah keasyikan tebar pesona dan stalking akun teman-teman sebayanya.

Saking rajinnya nongkrong di media sosial, tanpa disadari remaja terpapar rasa insecure. Dirinya ngerasa minder kalo ngeliat sisi terbaik kehidupan teman-temannya di media sosial mereka. Mulai dari jalan-jalan healing ke berbagai tempat yang keren, wisata kuliner masakan lezat dan viral, padu padan busana yang menggoda, hingga daya tarik fisiknya yang tanpa cela.

Sementara dirinya, banyak kekurangan dan minim pencapaian. Kehidupan sempurna yang diinginkan enggak kesampaian. Jadinya malah ‘mupeng’ alias muka pengin ngeliat teman-temannya hidup bahagia dalam album linimasa media sosial. Ia cuman bisa gigit jari. Lama-kelamaan timbul rasa iri. Ini yang bikin mental health remaja rapuh layaknya jiwa-jiwa yang bersedih.

Disadur dari The Guardian, Profesor Psikologi dari University of Michigan, Ethan Kross, menyebut bahwa fenomena pada era media sosial memang tidak begitu menyenangkan. Hasil penelitian terhadap pengguna Facebook pasif yang ia dan timnya lakukan menemukan, makin banyak seseorang melihat kehidupan orang lain di media sosial, makin tidak nyaman perasaan hatinya. “Kita dibombardir dengan ‘kehidupan Photoshop’ yang begitu indah, kehidupan yang belum pernah dirasakan manusia pada peradaban sebelumnya,” kata Kross.

Kalimat yang diutarakan Aristoteles ratusan tahun lalu, sepertinya juga cukup menggambarkan fenomena yang muncul pada era media sosial saat ini. “Sakit rasanya, melihat keberuntungan baik yang dimiliki orang lain. Mereka memiliki apa-apa yang seharusnya kita miliki,” ujarnya. Dari sinilah rasa iri yang bersemai dalam hati makin menjadi-jadi.

Cuman Dapat Capek!

Apa yang kita dapat kalo memelihara sikap iri? Capek, Bos! Asli, enggak ada gunanya. Ibaratnya, kita bawa kursi pada setiap aktivitas harian. Beban banget. Orang dengki itu hidupnya enggak tenang karena dihantui perasaan enggak jelas. Ia uring-uringan dan senang melihat orang lain susah. Sebaliknya, susah melihat orang lain senang.

Hasad adalah sikap batin yang tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain dan berusaha menghilangkannya dari orang tersebut. Pendengki selalu cemburu terhadap nikmat yang dimiliki orang lain. Ia menghendaki nikmat tersebut berpindah kepada dirinya. Ia kufur terhadap nikmat yang diberikan Allah Taala. Ia menganggap dirinya lebih berhak mendapatkan nikmat tersebut dibandingkan orang lain.

Selama rasa dengki terus bersemayam di hati, lama-kelamaan harus ada pelampiasan. Ia akan berusaha mencari cara agar kenikmatan yang dirasakan orang lain yang dicemburui itu hilang atau merasa enggak nyaman. Akhirnya, waktu berharganya habis cuman untuk ngegosip, fitnah, atau menebar komentar nyinyir. Ia jadi enggak produktif. Oleh karena itu, ajaran Islam memerintahkan kita menjauhi penyakit hati yang berbahaya ini.

“Jangan kamu saling dengki dan iri, jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, maka tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, mendustainya, dan menghinakannya. Seseorang telah dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim haram darahnya bagi muslim yang lain, demikian juga harta dan kehormatannya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Ngerinya, rasa iri bisa menghabiskan pahala yang selama ini kita tabung. Rasulullah saw. mengingatkan, “Waspadalah terhadap hasad (iri dan dengki). Sesungguhnya hasad mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu.” (HR Abu Daud).

Hapus Dengki, Hidup Lebih Berarti

Enggak ada kebaikan jika kita memelihara rasa dengki. Kalaupun pernah tebersit dalam hati, segera beristigfar dan minta perlindungan kepada Allah Taala. “Dan dari kejahatan orang yang dengki ketika ia iri.” (QS Al Falaq: 5).

Selanjutnya, minimalisasi informasi yang bisa memancing rasa iri nongol ke permukaan hati. Kurangi stalking akun-akun media sosial yang dipenuhi gaya hidup flexing alias doyan pamer dari para kenalan kita. Kalo perlu, unfriend akunnya biar enggak menyebar toxic. Ini karena kesempurnaan hidup yang disajikan linimasa media sosial kerap kali hanya fatamorgana.

Sebaliknya, follow akun-akun kebaikan yang kontennya banyak mengingatkan kita biar enggak salah jalan. Sekalian like, comment, and share pos-pos positif biar jadi ladang berkah juga untuk kita.

Biar benih rasa iri dengki enggak bersemai di hati, pelihara rasa syukur. Ini antivirus rasa iri. Dengan banyak bersyukur, kita enggak merasa gundah gulana ketika ngelihat orang lain mendapat kenikmatan lebih dibandingkan diri sendiri. Hidup malah jadi lebih asyik dan produktif penuh energi kebahagiaan.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Lihatlah kepada yang di bawah kalian dan janganlah kalian melihat yang di atas kalian. Sesungguhnya hal ini akan menjadikan kalian tidak merendahkan nikmat Allah yang Allah berikan kepada kalian.” (HR Muslim).

Tidak lupa, kita bangun juga benteng pertahanan dengan menguatkan iman dan mengukuhkan akidah. Caranya dengan aktif ikut pengajian. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali berkata, “Penyakit hati ini tidak bisa disembuhkan, kecuali dengan ilmu dan amal saleh. Ilmu yang bermanfaat untuk melawan penyakit hasad adalah Anda mengetahui bahwasanya hasad itu kemudaratannya akan kembali kepada diri Anda, baik perkara dunia maupun perkara akhirat. Hasad yang Anda lakukan tersebut tidak akan menimpakan kemudaratan kepada orang yang Anda hasad kepadanya baik di dunia maupun akhirat. Bahkan, ia akan mendapatkan manfaat dengan hasadnya Anda.”

So, pastikan keseharian kita tidak lepas dari kegiatan menimba ilmu Islam. Bisa dengerin ceramah ustaz via YouTube, baca buletin Teman Surga, atau hadir di majelis-majelis ilmu. Dengan demikian, insyaallah hati kita sudah disuntik antivirus rasa dengki sehingga hidup kita akan jauh lebih produktif dan penuh arti. Yuk, ngaji! [MNews/YG]

Sumber: Buletin Teman Surga, edisi 236

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *