Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Jika seseorang dengan pemikirannya yang cemerlang telah mengimani bahwa Allah itu ada dan Dia Swt. wajib adanya (wajib al-wujud), dan jika seseorang telah meyakini melalui realitas yang terindra bahwa segala sesuatu yang ada di dunia itu bersifat lemah, kurang, dan membutuhkan, orang tersebut harus juga mengimani bahwa Sang Pencipta, Dia-lah satu-satunya yang mampu membuat sistem yang bila manusia menyambutnya dengan positif dan menerapkannya, sistem tersebut akan bisa memenuhi segenap kebutuhan jasmani dan nalurinya.
Akal akan mengatakan ketika memuaskan naluri beragama, sebuah naluri yang pasti ada pada manusia, bahwa pemuasan naluri tersebut tidak akan terjadi kecuali dengan menjalin sebuah hubungan dengan Sang Pencipta, yakni hubungan ubudiah. Hubungan inilah yang bisa memuaskan keinginannya untuk beragama. Ketika manusia tidak mengetahui cara beribadah kepada Allah, yang tiada lain hal itu karena Allah bukanlah sebuah realitas yang bisa diindra, dan karena hubungan yang ada antara seorang tuan dengan seorang hamba akan ditentukan dan diatur oleh tuan, bukannya oleh si hamba, serta karena Allah Swt., Sang Pencipta yang lebih mengetahui apa yang disenanginya, sedangkan tujuan dari ibadah itu menyenangkan Allah Sang Pencipta Yang Maha Pengatur; ketika permasalahannya seperti itu, maka akal enggan menjadikan aturan pemuasan naluri beragamanya berasal dari manusia, aturan tersebut harus berasal dari Allah Swt..
Akal mengakui, berdasarkan pengetahuannya akan realitas manusia yang lemah, kurang, dan membutuhkan bahwa manusia lebih lemah lagi untuk menetapkan aturan (al-nidham) yang bisa memuaskan naluri lainnya, naluri melestarikan jenis (garizah al-nau), naluri mempertahankan diri (garizah al-baqa), dan kebutuhan jasmaninya. Jika manusia yang meletakkan aturannya, pasti tidak akan pernah sempurna dan tidak akan pernah benar. Hal ini karena sebuah aturan (al-nidzam) itu membawa ciri dan kekhususan sang pembuat aturan (al-munadzim). Dengan demikian, seorang yang lemah tidak akan melahirkan kecuali sesuatu yang lemah pula, dan seorang yang kurang tidak akan membuat kecuali sesuatu yang kurang pula. Oleh karena itulah, sesungguhnya sistem yang dibuat oleh manusia sudah pasti tidak akan mampu merealisasikan kedamaian dan kebahagiaan pada manusia. Seorang manusia ketika membuat aturan atas realitas apa pun, maka aturan ini dengan sifat alamiahnya tidak layak diterapkan di setiap tempat dan setiap masa. Dengan demikian, aturan tersebut akan saling bertentangan dan mengandung perbedaan. Jika layak untuk satu masa, tidak untuk masa lainnya, jika layak untuk satu tempat, tidak untuk tempat lainnya.
Berdasarkan hal ini, sesungguhnya akal yang meyakini keberadaan Sang Pencipta yang berkuasa secara mutlak, pasti akan mengakui bahwa aturan pemuasan yang benar (sahih), tidak mungkin datang kecuali hanya dari sisi Alah Swt..
Ketika manusia tidak mungkin bisa berhubungan langsung dengan Sang Pencipta karena ketidakmampuannya (kelemahannya) untuk melakukan hal itu, maka menurut akal pula cara berhubungan tersebut pasti datang dari sisi Allah Swt.. Dia Swt. menetapkan cara yang dipandang-Nya sesuai, dan Allah tidak akan ditanya tentang apa yang Dia lakukan, sedangkan mereka akan ditanya dan diminta pertanggungjawaban.
Iradah Sang Pencipta ini menghendaki agar cara yang dibuat-Nya untuk menyampaikan ideologi dan aturan-Nya pada manusia itu adalah dengan mengutus para Rasul. Bagaimanapun, manusia dengan sifat kondisinya itu tidak diwajibkan mengikuti para Rasul, kecuali setelah mereka (para Rasul) menyodorkan bukti yang pasti bahwa mereka itu adalah Rasul dari sisi Allah yang diutus untuk mengemban risalah-Nya pada manusia. Seandainya tidak seperti itu, niscaya sebagian orang akan mengaku menjadi nabi dan pasti akan mengakibatkan kekacauan dan huru hara.
Bukti seorang Rasul itu harus menjadi mukjizat bagi mereka yang menjadi sasaran penyampaian risalah-Nya tersebut. Para Nabi telah datang pada umat-umatnya dengan membawa mukjizat (al-mu’jizat atau al-khariq) yang membuktikan bahwa mereka itu adalah para Nabi. Musa as. datang membawa tongkat yang bisa menelan ular-ular tukang sihir dan berbagai mukjizat lainnya. Isa as. datang dengan kemampuannya menghidupkan orang mati (dengan izin Alah), selain bisa menyembuhkan orang buta dan menderita kusta, dan sebagainya yang memastikan kenabiannya as..
Bila diamati, dalam mukjizat para nabi terdahulu, bahwasanya mukjizat tersebut menantang manusia yang memiliki kelebihan dan keunggulan dalam satu bidang. Mukjizat Nabi Musa as. adalah tongkat yang bisa menelan tali-temali orang yang paling unggul dalam bidang sihir waktu itu. Mukjizat Nabi Isa adalah menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta dan kusta dan memberitahukan sesuatu yang tidak ada di hadapannya pada masa manusia paling unggul (memiliki kelebihan) dalam bidang kedokteran dan hikmah.
Iradat Allah menghendaki agar risalah nabi terdahulu khusus diperuntukkan bagi umat atau zaman itu saja. Sedangkan Allah menghendaki agar risalah Muhammad saw. pada manusia diperuntukkan bagi seluruh tempat dan masa. Allah Swt. berfirman,
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (TQS Saba: 28).
Dia Swt. berfirman,
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (TQS Al-Anbiya : 107). [MNews/Rgl]
