Muslimah News, NAFSIYAH — Jika merasa belum bahagia, apa yang harus kita lakukan sebagai seorang muslim? Setiap muslim jika belum bahagia semestinya bukan menaikkan standar nominal pemasukan, melainkan menaikkan standar meminta ampunan kepada Allah Taala. Hajat kita sangat besar untuk meminta ampunan kepada Allah Taala.
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan ia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (Mereka berdoa), “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.’” (QS Al-Baqarah: 286).
Ketenangan akan hadir dalam diri, jika kita benar-benar memahami dan meyakini bahwa Allah pelindung bagi orang yang beriman. Orang yang beriman dan beramal saleh, merekalah yang sebenarnya merasakan manisnya kehidupan dan kebahagiaan. Ini karena hatinya selalu tenang. Berbeda dengan orang-orang yang lalai dari Allah, hatinya selalu merasa gelisah.
Mungkin engkau melihat kehidupan mereka begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan harta. Namun, jika kita melihat lebih jauh akan mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang paling bahagia. Allah Taala berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan akan Kami berikan balasan dengan pahala yang baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97). Inilah adalah balasan bagi setiap mukmin di dunia untuk mendapatkan kehidupan yang baik.
Kemudian, Allah Taala berfirman, “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.” (QS Hud: 3). Ayat ini menerangkan balasan di akhirat bagi orang yang beriman dan beramal saleh.
Gambaran di atas menunjukkan kepada kita tentang orang-orang yang akan berbahagia di dunia dan akhirat.
Nilai Kebahagiaan
Ibnu Taimiyah pernah mengatakan ketika beliau berada di dalam penjara, di dalamnya penuh dengan kesulitan, tetapi beliau masih mengatakan, “Seandainya benteng ini dipenuhi emas, tidak ada yang bisa menandingi kenikmatanku berada di sini.”
Ia juga mengatakan, “Sebenarnya orang yang terpenjara adalah orang yang hatinya tertutup dari mengenal Allah Taala. Sedangkan orang yang tertawan adalah orang yang masih terus menuruti (menawan) hawa nafsunya (pada kesesatan).”
Doa yang senantiasa diucapkan oleh Ibnu Taimiyah di dalam penjara, “Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.” Artinya, “Ya Allah, aku meminta pertolongan agar dapat berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” Beliau berdoa dalam kondisi tangan dan kaki terbelenggu, tetapi itulah kebahagiaan yang beliau rasakan.
Allah Taala berfirman, “Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa.” (QS Al-Hadid: 13).
Inilah kenikmatan yang dimiliki oleh orang beriman. Nilai kebahagiaan yang di atas rata-rata. Para salaf mengatakan, “Seandainya para raja dan pangeran itu mengetahui kenikmatan yang ada di hati kami ini, tentu mereka akan menyiksa kami dengan pedang.”
Ibnu Taimiyah juga pernah mengatakan, “Di dunia itu terdapat surga. Barang siapa yang tidak memasukinya, maka ia tidak akan memperoleh surga akhirat.”
Saudariku, surga seharusnya engkau raih dengan meraih kecintaan Allah Taala dan meraih ampunan-Nya. Diiringi rasa takut dan menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya. Saudariku, kebahagiaan hadir bukan ketika memiliki rumah megah, mobil mewah, dan harta melimpah. Namun, kebahagiaan itu ketika hati tenang, meraih ampunan-Nya, dan bisa selalu bersandar kepada Allah Taala.
Rasulullah saw. bersabda, “Yang namanya kaya (ghina) bukanlah dengan banyaknya harta (atau banyaknya kemewahan dunia). Namun, yang namanya ‘ghina’ adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR Bukhari dan Muslim). Wallahualam bissawab. [MNews/Rndy-YG]
