[Kabar] Job Connector bagi Mahasiswa, Aktivis: Kampus Sekadar Menyiapkan Lulusan Terserap Dunia Kerja

[Kabar] Job Connector bagi Mahasiswa, Aktivis: Kampus Sekadar Menyiapkan Lulusan Terserap Dunia Kerja

Muslimah News, NASIONAL — Startup EdTech Indonesia Academy memberikan beasiswa kepada 1.000 mahasiswa Indonesia untuk siap dalam perubahan zaman khususnya future of work.

Guna mendorong mahasiswa menguasai dan meningkatkan skill, di samping menjembatani dengan dunia kerja, Maxy Academy sebagai platform yang menyediakan upskilling dan job connector bagi mahasiswa universitas di Indonesia menjalin kemitraan dengan Rubicon, sebuah perusahaan teknologi dari Polandia.

Sebelumnya, sebagai platform yang menyediakan upskilling dan job connector bagi mahasiswa universitas di Indonesia, Maxy Academy juga telah menjalin kemitraan dengan lebih dari 130 universitas di Indonesia untuk program Kampus Merdeka dan Mitra DUDI (Dunia Usaha, Dunia Industri).

Dunia Kerja

Aktivis muslimah Dwi Rahayu S.I.Kom. menilai, banyaknya job connector (training intensif untuk bisa meraih digital marketer, dll.) hanyalah menyiapkan lulusan agar terserap pasar.

“Berbagai program beasiswa dan pelatihan yang diberikan kepada mahasiswa seolah menjadi angin segar di tengah mahalnya biaya pendidikan. Namun sayangnya, berbagai beasiswa dan pelatihan lagi-lagi untuk makin menegaskan bahwa kampus hanya sekadar menyiapkan lulusan yang siap terserap pasar atau dunia kerja,” tuturnya kepada MNews, Sabtu (25-11-2023).

Menurutnya, kampus tidak ubahnya menjadi talent broker bagi mahasiswa dan menyiapkan buruh murah terdidik untuk dunia industri.

“Sejak Indonesia meratifikasi perjanjian WTO melalui UU No. 7/1994, General Agreement on Trade in Service (GATS), layanan pendidikan termasuk 12 sektor layanan jasa yang bisa dikomoditaskan,” imbuhnya.

Dalam pandangan sistem sekuler kapitalisme, lanjutnya, apa pun bisa menjadi cuan termasuk ilmu. “Knowledge-Based Economy (KBE) yang digagas negara-negara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) pada 1996 di Paris, mendudukkan ilmu pengetahuan sebagai komoditas ekonomi dan distandarisasikan sesuai kebutuhan bisnis, bukan tanggung jawab negara. Sejak ini, era sekularisasi dan kapitalisasi pendidikan dimulai,” bebernya.

Ia menerangkan, program Merdeka Belajar Kampus Merdeka atau MBKM yang sudah berjalan selama 3 tahun sejak peluncurannya pada 2020 hingga 2022, jumlah mahasiswa yang terlibat program MBKM Mandiri sebanyak 241 ribu orang.

“Untuk tahun 2023 sebanyak 257 ribu mahasiswa. Banyaknya mahasiswa yang terlibat sejalan dengan tujuan MBKM bagi mahasiswa adalah mendorong mahasiswa untuk menguasai berbagai keilmuan yang berguna untuk memasuki dunia kerja,” terangnya.

Dimanfaatkan

Ia menilai, link and match perguruan tinggi dengan industri digadang bisa menguntungkan mahasiswa, nyatanya justru industri yang mendapatkan keuntungan maksimal, yakni mendapatkan lulusan yang siap dimanfaatkan oleh pasar industri kapitalis.

Oleh karena itu, menurut Dwi, butuh penerapan Islam secara menyeluruh untuk mencetak intelektual yang siap memberikan kontribusi keilmuannya bagi kemaslahatan umat dan peradaban, bukan sekadar egoisme untuk kepentingan individu, apalagi sekedar mengejar cuan.

“Dalam paradigma Islam, negara bertanggung jawab penuh dalam pendidikan. Dari pembiayaan hingga membentuk kurikulum yang tidak hanya mencetak intelektual, [tetapi] juga lulusan yang berkepribadian Islam,” tutupnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *