Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — [Sosialisme dan Akal] Pada pembahasan tentang cara menguraikan simpul besar (hall al-‘uqdat al-kubra) melalui pemikiran yang cemerlang, kita telah sampai pada kesimpulan bahwa ada Zat yang telah menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan dari ketiadaannya. Pada alam semesta ini Dia telah meletakkan sistem-sistem yang dikendalikannya bagi segala sesuatu yang ada di dalamnya. Kesimpulan inilah yang tidak sesuai dengan pemecahan yang disodorkan oleh sosialisme untuk memecahkan masalah tersebut.
Sosialisme hanya berdiri tegak di atas asas pemikiran “Tidak ada Tuhan dan kehidupan hanya materi belaka”. Yakni tidak ada Zat yang telah menciptakan alam semesta ini dan segala sesuatu yang ada di dalamnya hanya merupakan materi yang berkembang (berevolusi) karena kemauannya sendiri.
Lahirlah berbagai bentuk materi yang menjadi bagian alam semesta ini. Materi yang paling tinggi dari semua itu adalah manusia. Sesuatu yang paling tinggi pada manusia adalah otaknya, yang selanjutnya tidaklah otak itu—hingga batas maksimalnya—melainkan menjadi hasil dari evolusi materi.
Oleh karena itulah, menurut mereka, tidak ada sesuatu yang lain di luar bingkai alam semesta, manusia, dan kehidupan. Pemikiran (ide) tentang adanya pencipta itu hanyalah sebuah kebohongan belaka, dan penyesatan yang dilakukan oleh orang kaya untuk mengisap darah orang miskin (proletar). Agama itu hanya menjadi candu dan vodka bangsa-bangsa yang sangat berbahaya dan bisa membunuh kreativitas dan kemajuan bangsa-bangsa tersebut.
Adapun uraian kami tentang realitas pemecahan yang disodorkan sosialisme untuk menguraikan al-uqdat al-kubra (simpul besar) yang pemecahan tersebut menjadi asas ideologi sosialisme, kita menemukan bahwa pemecahan ini tidaklah dibangun di atas akal, tetapi dibangun di atas materi, dan ini tampak jelas dengan mengetahui cara-cara berkembangnya ide ini.
Ketika kita amati bahwasanya ideologi ini muncul sebagai penolakan atas kerusakan akhlak kaum agamawan dan para pimpinan gereja Katolik, mereka mengisap darah bangsa- bangsa dengan mengatasnamakan agama. Sekelompok ilmuwan bangkit melakukan revolusi atas kezaliman ini sehingga terjadilah konflik yang akhirnya melahirkan ide sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) dan pemecahan ini memuaskan mayoritas kalangan intelektual.
Ada sebagian kalangan yang tidak puas atas solusi ini dan mereka tidak menginginkan apa pun kecuali hilangnya agama secara keseluruhan, maka kelompok ini tidak pasrah begitu saja, bahkan mereka tetap pada pendiriannya semula.
Pendirian mereka pun makin teguh ketika melihat kerusakan kapitalisme. Mungkin hal itu disandarkan pada keberadaan sesuatu yang berbau agama dalam kapitalisme yang pengakuan secara implisit atas keberadaan agama masih ada hingga sekarang.
Nietsche telah menyatakan, “Manusia seharusnya memiliki kebebasan untuk menyatakan dan meyakini bahwa Tuhan telah mati.” Oleh karena itulah, sesungguhnya pemecahan ini tidak mengikuti metode pembahasan yang biasa (normal), yakni seharusnya ia menggunakan metode akliah dalam membahas eksistensi agama atau pencipta yang ada, apakah ia memiliki pengaruh atau tidak, ia malah mengikuti jalan tersebut dalam bentuk sebaliknya.
Para ilmuwan tersebut melihat fakta kerusakan berskala besar di Eropa dan mereka menganggap bahwa kaum agamawan dan pengatasnamaan agama menjadi faktor penyebab kerusakan tersebut. Andai mereka meneliti sedikit lebih mendalam, maka mereka akan mendapatkan kenyataan bahwa sebenarnya agama berlepas diri dari kaum agamawan tersebut. Kaum agamawan itulah yang arogan dan berbuat dusta.
Sebaliknya, mereka malah menetapkan bahwa agama menjadi sebab kerusakan. Mereka beranggapan wajibnya menghapuskan dan memerangi agama dengan segenap daya upaya dan tidak menyisakan sedikit pun pengaruh yang berasal dari agama tersebut walau sekadar nama sebagaimana dalam kapitalisme.
Oleh karena itu, bisa disimpulkan bahwa pembahasan-pembahasan mereka seputar agama dan eksistensi pencipta tidaklah menjadi pembahasan akliah fi’liyyah (bahasan logis dan praktis). Sebaliknya, semua pembahasan itu hanya menjadi selubung yang digunakan untuk menutupi kedengkian dan emosi mereka, yakni dengan mengenalkan ide-ide mereka. Ide-ide dan istilah-istilah filsafat yang keliru dan batil di awal perdebatan akhirnya menjadi objek bahasan yang lebih baik lagi mulia. [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 2/2
Sumber artikel: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
