[Tafsir Al-Qur’an] Berita tentang Jin, Tafsir QS Al-Jin [72]: 2—3 (Bagian 3/5)

[Tafsir Al-Qur’an] Berita tentang Jin, Tafsir QS Al-Jin [72]: 2—3 (Bagian 3/5)

Penulis: K.H. Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Muslimah News, TAFSIR AL-QUR’AN —

يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ فَئَامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا ٢ وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةٗ وَلَا وَلَدٗا ٣

“Yang memberikan petunjuk pada kebenaran sehingga kami pun mengimaninya dan tidak akan mempersekutukan Tuhan kami dengan sesuatu pun. Sungguh Maha Tinggi keagungan Tuhan kami. Dia tidak beristri maupun beranak.” (QS Al-Jin [72]: 2—3).

Dalam penjelasan sebelumnya diberitakan sikap sekelompok jin yang mendengarkan Al-Qur’an. Setelah mendengarkan Al-Qur’an, mereka kemudian kembali kepada kaumnya dan menyampaikan kekagumannya terhadap Al-Qur’an. Selain menyebut Al-Qur’an sebagai kitab yang menakjubkan, mereka juga menyatakan bahwa Al-Qur’an menunjukkan kepada jalan yang lurus.

Tafsir Ayat

Allah Swt. berfirman,

وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا ٢

“Tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.”

Setelah mereka menyatakan keimanannya terhadap Al-Qur’an, mereka pun menyatakan konsekuensi dari keimanan tersebut, yakni mengimani semua yang disampaikan Al-Qur’an.1 Di antara perkara sangat penting dan mendasar itu adalah tidak menyekutukan Allah Swt. dengan selain Diri-Nya. Ini adalah konsekuensi dari keimanan.

Dalam ayat itu disebutkan: [لَنْ] (tidak akan). Huruf tersebut untuk menafikan sesuatu sampai ke masa yang akan datang. Itu memberikan makna bahwa mereka sebelumnya adalah musyrik. Oleh karena itu, mereka mengukuhkan penafian tindakan menyekutukan Allah Swt. dengan huruf at-ta‘bîd (untuk menunjukkan selamanya) pada masa yang akan datang. Demikian sebagaimana pernyataan dan pujian mereka terhadap Al-Qur’an dikuatkan dengan kata [إِنَّ] (sesungguhnya).2

Secara syar’i, asy-syirk adalah menjadikan sekutu bagi Allah Swt. dalam hal rubûbiyyah dan ulûhiyyah.3 Dalam ayat ini diberitakan bahwa sekelompok jin tersebut menyatakan tidak akan lagi menyekutukan Allah Swt.. Az-Zamakhsyari berkata, “Kami tidak akan kembali melakukan kemusyrikan seperti sebelumnya dalam menaati setan.”4

Hal senada juga dikemukakan Al-Khazin yang berkata, “Maknanya: ‘Kami tidak akan kembali pada kesyirikan sebelumnya.’ Ayat ini menunjukkan bahwa jin itu sebelumnya kafir.”5

Menurut Wahbah az-Zuhaili, dalam ayat ini ada petunjuk bahwa hal paling agung dari dakwah Nabi saw. adalah mengesakan Allah, melepaskan syirik dan para pengikutnya.6

Menurut Muhammad al-Amin al-Harari, ayat itu berarti, “Kami tidak menjadikan seorang atau suatu apa pun yang disembah sebagai sekutu bagi Allah Swt. secara i’tiqaadi; juga tidak menyembah selain Diri-Nya. Sebabnya, kesempurnaan iman adalah barâ`ah (berlepas diri) dari kesyirikan dan kekufuran, sebagaimana dikatakan Nabi Ibrahim as. yang diberitakan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya,

فَلَمَّآ أَفَلَتۡ قَالَ يَٰقَوۡمِ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُشۡرِكُونَ ٧٨

“Ketika matahari terbenam, dia berkata, ‘Kaumku, sungguh aku berlepas diri dari yang kalian persekutukan.’” (QS Al-An’am [6]: 78).7

Keberadaan Al-Qur’an sebagai kitab yang menakjubkan dan sangat bagus mewajibkan siapa pun untuk mengimaninya. Keberadaan Al-Qur’an yang menunjukkan pada ar-rusyd mewajibkan siapa pun untuk memutus kesyirikan dari pangkalnya. Lalu masuk ke dalam agama Allah Swt. secara menyeluruh. Semua ini terhimpun dalam firman-Nya,

فَئَامَنَّا بِهِۦۖ وَلَن نُّشۡرِكَ بِرَبِّنَآ أَحَدٗا ٢

“Lalu kami pun mengimani Al-Qur’an itu dan tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami.”

Sikap mereka itu semua disebabkan oleh apa yang disebutkan sebelumnya, yakni firman-Nya,

إِنَّا سَمِعۡنَا قُرۡءَانًا عَجَبٗا ١ يَهۡدِيٓ إِلَى ٱلرُّشۡدِ ٢

“Sungguh kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan, yang memberikan petunjuk pada kebenaran.”8

Menurut Asy-Syaukani, ini merupakan teguran dan celaan bagi yang kafir dari kalangan manusia. Sebabnya, jin saja bisa beriman hanya mendengarkan Al-Qur’an satu kali dan dapat mengambil manfaat dari mendengar sedikit ayat-ayatnya. Jin-jin itu dapat memahami dengan akal pikiran mereka bahwa itu adalah firman Allah Swt. sehingga mereka beriman kepada Diri-Nya. Sebaliknya, manusia-manusia yang kafir tidak dapat mengambil manfaat, apalagi para pembesar dan pemimpin mereka, padahal Al-Qur’an telah diperdengarkan berkali-kali dan dibacakan kepada mereka pada waktu-waktu yang berbeda. Apalagi Rasul saw. pun berasal dari kalangan mereka. Ia membacakan Al-Qur’an kepada mereka dengan bahasa mereka sendiri. Oleh karena itu, tidak aneh jika Allah Swt. menempatkan mereka di tempat terburuk. Allah Swt. mematikan mereka dengan seburuk-buruknya kematian dan siksa akhirat jauh lebih dahsyat kalau saja mereka mengetahui.9

Kemudian Allah Swt. berfirman,

وَأَنَّهُۥ تَعَٰلَىٰ جَدُّ رَبِّنَا ٣

“Sungguh Maha Tinggi keagungan Tuhan kami.”

Dhamiir al-hâ‘ pada frasa [أَنَّهُ] merupakan dhamîr asy-sya’n. Sebagaimana diterangkan sebelumnya, dhamîr atau kata ganti tersebut untuk menunjukkan berita yang disebutkan sesudahnya. Menjadi semakin kuat manakala didahului dengan huruf «أَنَّ» (sesungguhnya). Demikian pula pada dua tempat lain sesudahnya.10

Kata [تَعَا لى] (Maha Tinggi) merupakan al-fi’l al-mâdhi. Adapun frasa [جَدُّ رَبِّنَا] (keagungan Tuhan kami) berposisi sebagai fâ’il (pelaku).11

Kata [تَعَا لى] bermakna: yang paling tinggi hingga batas yang tidak bisa dilampaui. Kata [جَدُّ] berarti [عظمة وسلطان وكمال غنى] (keagungan, kekuasaan, kesempurnaan, dan kekayaan).12

Secara bahasa, kata [اَلْجَدُّ] berarti [الْعَظَمَةُ وَالْجَلَالُ] (kebesaran dan keagungan).13

Menurut Anas ra., ketika telah hafal QS Al-Baqarah dan QS Ali Imran, dikatakan kepada dirinya: [جَدَّ في عُيُونِنَا] (dia agung di mata kami). Karena itu makna firman-Nya: [جَدُّ رَبِّنَا] adalah: [عَظَمَتُه وَجَلَالُه] (kebesaran-Nya atau keagungan-Nya. Hal ini juga disampaikan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, dan Qatadah.14

Selain makna tersebut, secara bahasa kata [اَلْجَدُّ] juga berarti [اَلْحَظُّ] (bagian) dan [أَبُو الْأَبِ] (kakek).15 Namun demikian, pemaknaan al-jadd dengan kakek tidak bisa dibenarkan. Sebagaimana diterangkan Ibnu Jarir al-Thabari, siapa saja yang menyatakan Allah memiliki anak atau al-jaddu (kakek), yang merupakan bapaknya bapak atau bapaknya ibu, termasuk ke dalam kategori orang musyrik.

Adapun makna lainnya, yakni [اَلْحَظُّ] , menurut ath-Thabari, masih boleh. Dikatakan: [فُلَانٌ ذُو جَد في هَذَا الْأَمْر] (Fulan memiliki bagian dalam urusan ini) jika dia memiliki bagian di dalamnya. Inilah yang dalam bahasa Persia disebut [البَخْت]. Makna inilah yang dimaksudkan oleh sekelompok jin itu dengan mengatakan [وَأَنَّهُ تَعَالَى جَدُّ رَبِّنَا] (Sungguh Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami). Sesungguhnya, yang mereka maksudkan adalah [حَظْوَتَه] berupa kekuasaan, kekuatan, dan keagungan yang tinggi sehingga Dia tidak memiliki istri dan anak. Sebabnya, istri bagi yang lemah, yang dirinya selalu dibangkitkan oleh gairah nafsu. Adapun anak merupakan bagian dari syahwat itu dan terjadi karenanya. Oleh karena itu, jin berkata, “Maha Tinggi Kerajaan Tuhan kami, kekuatan, kekuasaan, dan keagungan-Nya, serta tidak lemah seperti makhluk-Nya yang selalu digoda hawa nafsu untuk memiliki istri atau melakukan sesuatu untuk memiliki anak.”16

Meskipun demikian, menurut ath-Thabari, makna yang lebih rajih (kuat) adalah pendapat yang mengatakan bahwa makna ayat ini: [تَعَالَتْ عَظَمَةُ رَبِّنَا وَقُدْرَتُهُ وَسُلْطَانُه] (Maha Tinggi keagungan dan kekuasaan Tuhan kami).17

Menurut Ibnu ‘Asyur, pernyataan tersebut menjadi pendahuluan dan pengantar bagi firman Allah Swt. berikutnya, yakni firman-Nya,

مَا ٱتَّخَذَ صَٰحِبَةٗ وَلَا وَلَدٗا ٣

“Dia tidak beristri dan tidak (pula) beranak.”

Kata [صَاحِبَة] adalah [زَوْجَة].18 Tentang makna ayat ini, al-Zajjaj berkata, “Maha Tinggi kemuliaan dan kebesaran Tuhan kami untuk memiliki istri dan anak. Seakan-akan jin mengingatkan dengan pernyataan ini akan kekeliruan orang-orang kafir yang menyatakan bahwa Allah memiliki istri dan anak. Dengan demikian, jin-jin itu pun menyucikan Allah dari keduanya (anak-istri).19

Menurut Muhammad Ali ash-Shabuni, Allah tidak mempunyai istri maupun anak. Sebabnya, istri dinikahi karena membutuhkan, dan anak ada karena menjadi hiburan. Padahal Allah Swt. bersih dari kekurangan itu.20

Abdurrahman as-Sa’di juga berkata, “Mereka mengetahui kemuliaan dan keagungan Allah Swt. yang menunjukkan mereka atas batilnya orang yang mengeklaim bahwa Dia memiliki istri dan anak. Sebabnya, Dia memiliki keagungan dan keluhuran, pada semua sifat-Nya ada kesempurnaan. Memiliki istri dan anak jelas menafikan hal itu karena bertentangan dengan kesempunaan-Nya yang tidak memerlukan yang lain.”21

Penjelasan senada juga dikemukakan oleh Muhammad Amin al-Harari. Para jin itu menafikan diri mereka dari menyekutukan Allah Swt. dan menyucikan-Nya dari memiliki istri dan anak. Sebabnya, jika memiliki istri, berarti Dia butuh terhadap istri. Istri juga mesti berasal dari jenis yang sama, sebagaimana difirmankan,

خَلَقَ لَكُم مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ أَزۡوَٰجٗا لِّتَسۡكُنُوٓاْ إِلَيۡهَا ٢١

“Dia menciptakan pasangan-pasangan untuk kalian dari (jenis) diri kalian sendiri agar kalian merasa tenteram kepada dirinya.” (QS Ar-Rum [30]: 21).

Allah Swt. pun tidak punya anak. Sebabnya, adanya anak adalah untuk memperbanyak, demi kesenangan, untuk kebutuhan ketika sudah tua, serta untuk kelangsungan hidup dan nama baik. Demikian sebagaimana dikatakan dalam syair,

وَكَمْ أَب قَدْ عَلا بإبْنٍ ذُرَا شَرَفٍ … كَمَا عَلَتْ بِرَسُوْلِ الله عَدْنَانُ

“Betapa banyak seorang bapak menjadi tinggi karena anaknya yang meninggalkan kemuliaan; sebagaimana Adnan menjadi tinggi karena Rasulullah saw.”

Maha Suci Allah dari yang demikian. Maha Tinggi Tuhan kami dengan ketinggian yang agung.22 Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]

Catatan kaki:

1 Jalaluddin al-Mahalli, Tafsîr al-Jalâlayni,770; al-Zuhaili, al-Tafsîr al-Munîr, vol. 29, 158

2 Muhyiddin Darwisy, I’râb al-Qur‘ân wa Bayânuhu, vol. 10 (Damaskus: Dar al-Yamamah, 1995), 267

3 Al-Biqa’i, Nazhm al-Durar fî Tanâsub al-Suwar, vol. 20, 467

4 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 8; al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 365. Lihat juga Ibnu ‘Asyur, al-Tahrîr wa al-Tanwîr, vol. 29, 222

5 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19, 8

6 Al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, 3, 433; Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth, 10, 291

7 Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 23, 650

8 Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 23, 650

9 Al-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta‘wîl al-Qur‘ân, vol. 23, 651; Jalaluddin al-Mahalli, Tafsîr al-Jalâlayni,770; Muhammad Abdul Lathif, Awdhah al-Tafâsîr (Kairo: al-Mathba’ah al-Mishriyyah, 1963), 713

10 Al-Syaukani, Fath al-Qadîr, vol. 5, 365

11 Al-Shabuni, Shafwat al-Tafâsîr, 3, 434

12 Al-Sa’di, Taysîr al-Karîm al-Rahmân fî Tafsîr Kalâm al-Mannnân, 890

13 Al-Harari, Hadâiq al-Rûh wa al-Rayhân, vol. 30, 295

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *