Ketika Anak-Anak Kita “Buta” Al-Qur’an

Ketika Anak-Anak Kita “Buta” Al-Qur’an

Penulis: Ustaz Iwan Januar

Muslimah News, KELUARGA — Apa perasaan orang tua apabila melihat anak mereka menghina Al-Qur’an? Orang tua yang sehat akalnya pasti akan marah dan berusaha mencegahnya. Soal pelecehan Al-Qur’an oleh remaja pernah terjadi di tanah air, di dua kota berbeda, Tulung Agung, Jawa Timur dan Pasaman Barat, Sumatera Barat beberapa tahun lalu. Seperti sebuah tren, dua kejadian itu terjadi dalam waktu yang berdekatan. Ada dua adegan yang terjadi, bergaya menginjak Al-Qur’an dan menjadikan Al-Qur’an sebagai bantal. Kejadian itu mereka abadikan dengan kamera lalu di-upload ke media sosial. Ironisnya hal itu terjadi pada Ramadan, bulan agung, bulan turunnya Al-Qur’an.

Kita pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa orang beragama Islam, tetapi berani melakukan tindakan konyol terhadap kitab suci agamanya sendiri? Bukankah setiap muslim, termasuk anak-anak dan remaja tahu kalau Al-Qur’an adalah kitab suci? Memegangnya saja harus berwudu, lalu bagaimana bisa ada remaja yang beramai-ramai melakukan pelecehan terhadap Al-Qur’an, apalagi sambil bergaya menginjaknya?

Jawabannya simpel, hari ini banyak anak kaum muslim yang tumbuh dewasa dalam lingkup keluarga dan lingkungan yang jauh dari Islam. Di tengah keluarga, banyak orang tua yang tidak menanamkan keislaman, termasuk menumbuhkan rasa cinta anak pada Al-Qur’an. Coba perhatikan, berapa banyak orang tua yang tidak resah ketika anaknya belum lancar membaca Al-Qur’an menjelang balig? Banyak. Namun, tidak seresah hati mereka jika anaknya tidak bisa masuk sekolah favorit yang biayanya belasan hingga puluhan juta rupiah.

Itu baru persoalan membaca. Sedangkan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi juga penghayatan dan pengamalan. Kalau kita telusuri lagi, berapa banyak orang tua yang mendidik anak-anaknya tanpa aturan Al-Qur’an? Jawabannya lebih banyak lagi. Anak mereka tidak diajarkan tata cara bersuci, dikenalkan pada halal dan haram, menjaga aurat, dan sebagainya.

Sebaliknya, anak-anak mereka begitu akrab dengan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi, hiruk pikuk dunia selebritas dalam dan luar negeri, hafal lagu-lagu asing, dan lainnya. Namun, di antara mereka bahkan ada yang tidak tahu cara mandi junub.

Inilah kelengahan kita sebagai orang tua. Pada saat orang tua menikah dan berencana memiliki anak, tetapi tidak mempersiapkan diri menjadi orang tua yang saleh, maka bagaimana bisa anak-anak mereka akan tumbuh dan berkembang sebagai generasi yang saleh? Semua berawal dari motivasi pernikahan mereka sekadar cinta, bukan untuk meningkatkan nilai takwa di hadapan Allah Taala.

Allah Swt. telah memerintahkan orang tua dengan firman-Nya, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). Bukankah itu berarti orang tua harus terlebih dahulu paham apa saja yang dapat membuat seorang muslim dibakar api neraka? Bukankah kita bisa menjauhkan anak-anak dari makanan beracun jika kita sudah tahu apa saja yang termasuk makanan beracun? Apabila tidak, maka kemungkinan besar anak-anak akan terpapar makanan beracun.

Orang tua begitu teliti memilihkan makanan yang sehat dan bergizi untuk anak-anaknya. Saat mereka belum lahir sudah dipersiapkan kamar anak dan segala kebutuhan anak selengkap mungkin. Kalau bisa membeli yang baru dan terbaik. Sayangnya jarang yang sudah membuat konsep pendidikan anak secara Islami di dalam rumah.

Jika sudah demikian, wajarlah apabila bermunculan anak-anak kaum muslim yang tidak paham agama mereka sendiri, tidak tahu kitab suci mereka, malah menganggap agama dan kitab suci sebagai mainan yang bisa mereka jadikan joke sesuka mereka. Sungguh sedih menyaksikan peristiwa seperti ini terjadi.

Meski begitu, kesalahan tidak sepenuhnya berada di pundak orang tua. Terasingnya Islam dari dunia anak-anak kita bukanlah terjadi secara alami, tetapi berjalan karena sebuah proses kesengajaan. Indonesia, negeri yang mayoritas muslim telah lama menjalankan kebijakan sekularisasi di semua bidang, termasuk pendidikan.

Hasilnya, pendidikan agama minim di semua jenjang pendidikan. Kontennya juga amat terbatas dan tidak jarang tenaga pengajarnya pun minim kualitasnya. Ditambah lagi metode pengajarannya yang tidak down to earth, dapat diterima oleh dunia anak-anak dan remaja.

Pelajaran agama cenderung monoton, membosankan, akhirnya tidak dicintai oleh anak-anak dan pelajar. Bahkan tidak jarang dijadikan lelucon di antara para pelajar.

Ini adalah tugas besar bagi kita, para orang tua dan para guru agama untuk mengubah “potret buram” ini. Di dalam rumah, orang tua harus bekerja keras menjadikan agama sebagai habit atau bi’ah, alias kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Tumbuhkan budaya salat tepat waktu, berjemaah ke masjid, membaca dan menghafal Al-Qur’an, serta belajar memahami dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Untuk itu, orang tua wajib meningkatkan kualitas diri agar lebih dulu paham Islam sebelum anak-anak mereka.

Apabila itu dilakukan, maka dalam hati anak-anak kaum muslim akan tumbuh rasa cinta yang luar biasa kepada agama mereka. Jangankan melecehkan, mereka malah siap membela kemuliaan agama. Persis seperti riwayat dua orang remaja di medan Perang Badar, Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muawwidz bin Afra’ radhiyallahu ‘anhuma yang sengaja berperang untuk menyingkirkan Abu Jahal. Hal itu menjadi obsesi mereka karena sering mendengar kisah bahwa Abu Jahal sering menyakiti Rasulullah saw. yang mereka cintai. Cita-cita mereka pun terkabul. Keduanya bisa bertarung melawan Abu Jahal dan membuatnya terluka parah.

Di lingkungan masyarakat dan sekolah, harus ada sebuah perubahan masif untuk menghapuskan pola pikir dan budaya sekularisme. Ini memang sebuah perjalanan yang bisa jadi panjang dan membutuhkan kerja keras dari setiap muslim. Namun, jika kita tidak memulainya dari sekarang, kapan negeri ini akan menjadi baik?

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk istikamah melakukan perjuangan yang mulia ini. [MNews/YG]

Sumber: iwanjanuar[dot]com

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *