Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA — Kehidupan pernikahan adalah kehidupan yang penuh warna. Ini karena hubungan suami-istri dalam pernikahan adalah hubungan yang dinamis. Tidak selalu harmonis, ada kalanya kritis. Laksana menaiki “bahtera” rumah tangga, dalam perjalanannya tidak semua sesuai harapan. Terkadang air tenang membawa “bahtera” kita berlayar, tetapi kadang ombak, bahkan mungkin badai, menerpa “bahtera” kita. Akan tetapi, kita harus selalu yakin bahwa suatu saat badai tersebut pasti akan berlalu.
Terkadang muncul kebosanan menjalani rutinitas kehidupan rumah tangga yang begitu-begitu saja. Terkadang juga muncul kekecewaan terhadap pasangan sehingga seiring berjalannya waktu, pasangan kita yang tadinya sangat istimewa dalam pandangan kita, berangsur menjadi “biasa-biasa saja”. Pada awal pernikahan, perhatian tercurah kepada pasangan kita, tetapi ketika sudah memiliki anak perhatian menjadi terbagi. Bahkan seorang istri dan sekaligus ibu lebih banyak menaruh perhatian kepada anak. Demikian halnya suami yang sekaligus menjadi bapak lebih giat mencari nafkah. Ini karena anggota keluarga bertambah dan butuh dana lebih banyak ketika anak bertambah besar dan harus sekolah sehingga perhatian pun terbagi.
Sesungguhnya perhatian dan kasih sayang yang terbagi merupakan hal wajar karena anggota keluarga kita bertambah. Bahkan terkadang hadirnya bayi mungil di dalam keluarga terasa sangat istimewa sehingga perhatian suami-istri akan tercurah kepadanya. Tentu situasi ini tidak lantas menjadikan cinta kepada anak berlebihan sehingga mengabaikan cinta kepada pasangan.
Terlebih ketika muncul kebosanan dan kekecewaan terhadap pasangan, tentu harus segera dibicarakan bersama pasangan tanpa menyinggung perasaannya. Komunikasi intens dengan pasangan akan menjadi jembatan yang bisa menyelesaikan berbagai persoalan rumah tangga, sekaligus akan menjadikan saling merasa dekat.
Rasulullah ﷺ , Teladan Terbaik
Rasulullah saw. adalah teladan terbaik dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Beliau sangat menjaga komunikasi dengan istrinya. Jika ada hal yang tidak disukai dari istrinya, beliau bersabar dan memberikan nasihat kepada istrinya.
Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita, ketika ada sikap atau perilaku pasangan yang tidak disukai, kita harus rida terhadap akhlak lainnya sambil terus saling menasehati. Ini karena tidak ada pasangan yang sempurna. Ia memiliki kesalahan, keburukan, atau kekurangan di satu sisi, tetapi juga memiliki (banyak) kebaikan di sisi yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Janganlah seorang mukmin membenci mukminah (istrinya). Jika ia membenci salah satu perangainya, niscaya ia akan rida dengan perangainya yang lain.” (HR Muslim).
Selain nasihat untuk suami, Rasulullah saw. juga menasehati para istri agar bersabar dan tidak memanggil dengan kejelekan atau mencaci-maki ketika merasa kecewa atau tidak menyukai sesuatu dari suaminya karena ini dapat menyakiti hati suami. Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah seseorang menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari para bidadari surga akan berkata, ‘Jangan engkau menyakitinya. Celakalah dirimu karena ia hanya sejenak berkumpul denganmu yang kemudian meninggalkanmu untuk kembali kepada kami.’.“ (HR Tarmidzi).
Ketika Merasa Pasangan Tidak Istimewa Lagi, Harus Bagaimana?
Telah kita pahami bahwa pernikahan adalah ikatan yang sangat kuat. Pernikahan mengandung konsekuensi bagi suami maupun istri yang selanjutnya akan menjadi ibu dan bapak. Pernikahan akan menjadi ladang pahala yang luas bagi pasutri. Tentu saja kita sangat ingin agar pernikahan menjadi taman surga bagi kita dan pasangan sehingga harus dijaga selalu dalam kondisi yang baik, insyaallah. Oleh karena itu, ketika ada situasi yang tidak diharapkan, misalnya merasa jenuh terhadap pasangan, maka waspadai jangan sampai berlanjut. Untuk mencegah atau menyelesaikannya, ada beberapa hal yang bisa diupayakan.
1. Mengingat kembali tujuan pernikahan.
Keluarga yang tegak di atas syariat Islam, sesungguhnya akan mampu menciptakan ketenangan, ketenteraman, keadilan, dan rasa aman. Pasutri hidup berdampingan, saling asih dan asuh serta menjalankan bahtera rumah tangga layaknya dua orang sahabat sejati yang selalu berbagi suka maupun duka.
Ingatlah selalu tujuan menikah dan berumah tangga, yakni ingin menggapai rida Allah Taala. Hindari semua kisah lama dan berupaya sekuat tenaga untuk terus memperbaiki hubungan dengan pasangan agar kondisinya lebih baik. Hanya saja ketika rasa cinta hilang, hidup merasa tidak lagi bahagia, batin merasa merana, bercerai memang tidak mengapa.
2. Instrospeksi diri.
Ketika merasa jenuh terhadap pasangan, bagaimanapun kondisinya tentu saja kita memberi andil terhadap apa yang terjadi padanya. Demikian pula jika sebaliknya, justru kita yang membosankan, maka sudah seharusnya kita berusaha melakukan evaluasi atau introspeksi diri. Bisa jadi kita kurang memenuhi hak-hak pasangan yang menjadi kewajiban kita. Tentu saja kita harus berusaha tetap istikamah menjalankan kewajiban kita.
Sudah seharusnya kita juga bertobat dan mohon ampunan Allah Swt. atas semua keburukan dan kesalahan yang mungkin kita perbuat dalam menunaikan hak Allah Swt., hak pasangan kita, atau hak yang lain. Bisa jadi kejadian ini menimpa kita akibat perbuatan yang kita lakukan. Allah Swt. berfirman,
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS Asy-Syu’ara: 30).
3. Berkomunikasi dengan pasangan.
Keharmonisan keluarga akan meningkat jika pasutri mampu berkomunikasi dengan baik. Secara umum, komunikasi langsung atau komunikasi verbal lebih baik dilakukan karena akan menghindari kesalahpahaman. Berkomunikasi akan membuat hubungan makin baik karena didasari oleh rasa percaya, jujur, dan terbuka. Berbicara secara langsung, tatapan mata, dan sentuhan bisa menguatkan dan menambah keharmonisan keluarga.
Selain itu, komunikasi adalah kunci untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dialami dan dirasakan oleh pasangan. Dengan komunikasi intens, kita akan makin mengenal dan memahami pasangan sehingga menjadi lebih sabar satu sama lain. Sudah seharusnya pasutri meluangkan waktu untuk membahas hal-hal tertentu bersama, terutama hal-hal baru yang terjadi dalam keluarga. Ini akan menghilangkan kejenuhan atau kebosanan terhadap pasangan.
Begitu pula ketika pembicaraan berkaitan dengan anak-anak, rencana bersama mereka, dan lain-lain. Penting saling menanyakan pendapat satu sama lain tentang mereka. Bisa jadi kita tidak menyetujui keputusan pasangan, tetapi dengan berdiskusi dan saling mendengarkan, pasutri akan mengerti, lebih banyak bersabar, dan saling mengingatkan.
4. Menerima kekurangan pasangan dan selalu mengingat kebaikannya.
Menerima kekurangan pasangan dan selalu mengingat kebaikannya merupakan hal penting dalam kehidupan rumah tangga. Tidak ada yang sempurna, tidak terkecuali kita dan pasangan. Semua orang memiliki kekurangan, maka harus diterima sepenuh hati. Ketika pasutri bisa menerima kekurangan pasangannya, maka akan bisa mencegah terjadinya kebosanan atau kejenuhan terhadap pasangan.
Pasutri harus selalu menyadari dan memahami bahwa setiap orang juga memiliki keterbatasan. Namun sesungguhnya pada saat yang sama, kita pun memiliki kelebihan satu sama lain. Justru di sinilah pasutri harus saling mengisi dan menguatkan. Berdiskusi dan selalu mengingat kebaikan pasangan merupakan cara jitu untuk memunculkan sikap saling mendorong dan menyemangati agar kekurangan dapat diubah menjadi kekuatan pada masa depan.
Umar bin Khaththab pernah mengingatkan pasutri agar seorang suami yang melihat kekurangan atau keburukan istrinya, hendaklah ia segera mengingat-ingat kelebihan dan kebaikan istrinya. Demikian halnya istri, hendaknya senantiasa mengingat kebaikan suaminya ketika muncul kekecewaan terhadap pasangan. Ini semua agar tidak fokus pada kekurangan pasangan yang menyebabkan terjerumus pada penyesalan dan menumbuhkan kebencian.
5. Saling bersabar.
Dalam menjalani kehidupan rumah tangga, tidak dimungkiri adanya kejenuhan atau kebosanan terhadap rutinitas dan pasangan. Bahkan kadang kala ada perkara-perkara yang membuat pasutri kurang berkenan dan bisa memicu rasa tidak nyaman. Ini dapat berujung pada perselisihan. Oleh karena itu, salah satu kunci langgengnya sebuah pernikahan adalah bersabar dalam berinteraksi dengan pasangan kita.
Kesabaran akan memberikan banyak keajaiban, tidak hanya dalam hubungan pasutri, tetapi juga kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kesabaran yang luas akan membuat hubungan pasutri menjadi langgeng dan bermakna. Ketika kejenuhan atau kebosanan melanda pernikahan, maka pasutri harus terus menyelami penyebabnya dan saling menasihati dengan komunikasi yang lemah-lembut. Jangan menjustifikasi kesalahan pasangan sehingga ia merasakan kesejukan dan ketenteraman.
Allah memerintahkan agar suami bergaul dengan istrinya secara makruf layaknya sahabat, demikian pula sebaliknya. Seorang suami dituntut memberikan hak-hak istrinya, nafkah dan mahar baginya, tidak bermuka masam di hadapan istrinya, dan tidak menampakan kecenderungan kepada wanita lain. Demikian halnya seorang istri, sudah seharusnya ia menunaikan hak suaminya secara penuh.
Khatimah
Setiap pasutri pasti selalu mengharapkan pernikahan yang dijalani dipenuhi cinta dan kebahagiaan. Akan tetapi dalam perjalanannya, tidak semuanya sesuai harapan. Terkadang rasa jenuh atau bosan hadir dalam pernikahan sehingga pasangan hidup kita tidak lagi terasa istimewa. Tentu saja hal ini harus diwaspadai, tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Sungguh ini merupakan sebuah ujian yang harus dihadapi dan diselesaikan bersama oleh pasutri. Oleh karena itu, jalani kehidupan rumah tangga sesuai tuntunan syarak agar laju bahtera pernikahan tetap stabil menuju sakinah, mawadah, dan penuh rahmat Allah Taala. Semoga Allah melindungi dan menjaga rumah tangga kita agar selalu berada dalam kebaikan dan keberkahan-Nya. Aamiin yaa Mujiib as-saailiin. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
