Keluarga Muslim, Tetaplah Merawat Kecintaan pada Rasulullah ﷺ

Keluarga Muslim, Tetaplah Merawat Kecintaan pada Rasulullah ﷺ

Penulis: Najmah Saiidah

Muslimah News, KELUARGA — Saat ini kita berada pada salah satu bulan yang selalu diingat oleh umat Islam, yaitu Rabiulawal. Pada bulan ini, manusia mulia dan pilihan Allah lahir ke dunia. Pada bulan ini pula, 63 tahun kemudian beliau dipanggil Allah Taala. Ya, itulah sosok manusia terbaik, Muhammad ﷺ. Manusia maksum yang dilapangkan dadanya, juga diangkat nama dan kemuliaannya. Beliau sosok Nabi terakhir yang turun kepadanya wahyu, serta menjadi imam para Nabi dan Rasul. Nabi Muhammad ﷺ dimuliakan oleh seluruh penduduk langit dan bumi. Kelahirannya sesungguhnya merupakan wujud kasih sayang dan nikmat Allah Swt. yang dianugerahkan kepada manusia dan alam semesta.

Nabi Muhammad ﷺ lahir tidak seperti bayi biasa. Beliau lahir dengan bersujud, telunjuknya mengarah ke langit, dan mulutnya memanjatkan doa. Sinar terang benderang mengiringi kelahirannya yang memancar ke arah Syam. Diikuti padamnya api sesembahan kaum Majusi yang telah disembah ribuan tahun, serta bergugurannya berhala sesembahan kaum musyrik. Semua menjadi isyarat bahwa bayi yang dilahirkan bukan manusia biasa, tetapi manusia yang kelak Allah Swt. pilih untuk menjadi utusan-Nya. (Qadhi Iyadh, Asy-Syifa` bi Ta’rif Huquq Al-Mushtafa, hlm. 205). 

Mencintai Rasulullah ﷺ, Bukti Keimanan

Kelahiran Nabiﷺ  bermakna sangat agung. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang ulama Makkah, Al-‘Allamah Sayyid Muhammad ‘Alwi al-Maliki, “Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan pernah ada hijrah. Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan ada Perang Badar. Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan ada penaklukan Kota Makkah. Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan pernah ada umat Islam. Andai tidak ada kelahiran Nabi, tentu tidak akan pernah ada dunia ini.” Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ luar biasa sehingga benar-benar menjadi rahmat bagi alam ini.

Oleh karena itu, merupakan hal yang wajar jika Allah Swt. mewajibkan umat Islam mencintai Rasulullah ﷺ sepenuh hati. Sesungguhnya mencintai dan mengagungkan Rasulullah ﷺ merupakan konsekuensi iman kita kepada Allah Taala. Seperti firman-Nya,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُوني‏ يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ قُلْ أَطيعُوا اللهَ وَ الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ الْكافِرينَ

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir.’” (QS Ali-Imron: 31–-32).

Dari Anas ra., ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidaklah seorang hamba beriman hingga aku lebih ia cintai daripada keluarga dan hartanya serta manusia semuanya.” (HR Muslim). “Ada tiga perkara yang apabila perkara tersebut ada pada seseorang, maka ia akan mendapatkan manisnya iman, yaitu hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya. Apabila mencintai seseorang, ia hanya mencintainya karena Allah. Ia tidak suka untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya, sebagaimana ia tidak mau untuk dilemparkan ke dalam api.” (HR Bukhari Muslim).

Hadis-hadis ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa wajib mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas kecintaan-kecintaan kita yang lainnya. Kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ mengharuskan adanya penghormatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada beliau.

Bukan Sekadar Ucapan, tetapi Harus Ittiba’

Kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ bukan sembarang cinta dan sekadar ungkapan lisan, tetapi merupakan bukti cinta dan taat kepada Allah Taala. Ini karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya mengharuskan kita mengikuti apa yang dikehendaki oleh Sang Khalik, Al-Mudabbir. Dengan demikian, kecintaan seorang hamba kepada Allah Swt. haruslah tercurah dengan senantiasa ittiba’ atau mengikuti dan meneladan apa yang dilakukan Rasulullah saw., sesuai tuntunan syariat.

Allah Swt. berfirman, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imron: 31). Imam Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menjelaskan, “Ayat yang mulia ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengaku mencintai Allah, sedangkan ia tidak berada di jalan Nabi Muhammad ﷺ, maka ia berdusta sampai ia mengikuti syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ secara kafah.”

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan ia banyak menyebut nama Allah.” (QS Al-Ahzab [33]: 21).  Hal ini diperkuat pula dengan firman-Nya,

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ

“Apa saja yang Rasul bawa kepadamu, maka ambillah. Apa saja yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah amat keras hukumannya.” (QS Al Hasyr: 7).

Ayat-ayat ini memerintahkan kita untuk meneladan Rasul ﷺ dalam semua aspek. Kita tidak boleh membatasi hanya meneladan pada aspek-aspek tertentu, kecuali aspek yang dikhususkan untuk beliau. Dengan demikian, kita wajib mengikuti seluruh syariat yang dibawa Rasulullah ﷺ. Ibnu Katsir menjelaskan maksud ayat ini, “Apa pun yang beliau perintahkan kepada kalian, maka kerjakanlah. Sedangkan apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. Sesungguhnya beliau hanyalah memerintahkan kebaikan dan melarang keburukan.”

Kemudian, bagaimana menanamkan dan menjaga rasa cinta itu kepada keluarga kita? Rasulullah harus menjadi idola utama dan teladan terbaik bagi semua anggota keluarga kita, karena beliau adalah sosok sempurna dan utama utusan Allah.

Keluarga Muslim Menjaga Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ

Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ tidak hadir begitu saja dalam kehidupan keluarga kita. Oleh karena itu, kita wajib menumbuhkan, merawat, serta menjaga agar cinta keluarga kita terhadap orang paling utama ini terus tertanam kuat dalam jiwa. Ada beberapa hal yang bisa diusahakan bersama keluarga.

1. Menjadikan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya.

Setiap keluarga muslim harus menjadikan kecintaan kepada Allah di atas segalanya, selanjutnya akan menumbuhkan kecintaan kepada Rasul-Nya. Semua akan terwujud jika para orang tua selalu menanamkan keimanan yang kukuh kepada anggota keluarganya. Peran orang tua sangat memengaruhi tumbuh kembang sendi-sendi agama dalam diri anak.   Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR Bukhari). Penanaman keimanan ini akan menjadikan anak kita mengenal Allah, Al-Khalik Al-Mudabbir dan Rasulullah Muhammad ﷺ, penyampai risalah Islam. 

Kemudian akan tumbuh kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Cinta akan mendorong kita melakukan amal yang dicintai Allah dan dicontohkan Rasul-Nya. Orang tua harus rajin membacakan sirah Nabawiyah dan perjuangan Rasulullah ﷺ menegakkan Islam di muka bumi agar anak semakin mencintai beliau. Selanjutnya, anak-anak akan paham syariat, memperjuangkan, dan membela Islam. Ketika Rasulullah ﷺ dihina, maka mereka akan berada di barisan terdepan untuk membelanya.

2. Selalu berusaha meneladan Rasulullah ﷺ

Pengakuan cinta kepada Rasulullah ﷺ harus kita buktikan dengan mengikuti dan meneladan beliau dalam seluruh perilakunya. Dengan demikian, orang tua wajib terus mengajak seluruh anggota keluarga untuk menerapkan dan melaksanakan aturan Islam secara kafah sebagai bukti cinta kepada Rasulullah ﷺ.

Rasulullah telah memberi berbagai teladan, seperti tata cara bersuci, masuk kamar mandi, bangun tidur, sampai konsep membangun negara dengan kepemimpinan Islam. Hal ini berlaku sampai akhir zaman, tidak ada tawar menawar di dalamnya.  Oleh karena itu, cinta kita kepada Rasulullah ﷺ harus dibuktikan dengan melaksanakan seluruh teladan Rasulullah secara kafah.

3. Sering membaca sirah Rasulullah ﷺ.

Menanamkan kecintaan keluarga kepada Rasulullah ﷺ tentu saja dimulai dengan mengenalkan sosoknya. Allah Swt. telah mengutus beliau untuk menyampaikan syariat-Nya. Dari Ali bin Abi Thalib, Rasulullah ﷺ bersabda, “Didiklah anak-anakmu atas tiga hal, yakni mencintai Nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca Al-Qur’an, karena orang yang mengamalkan Al-Qur’an nanti akan mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali dari-Nya bersama para Nabi dan orang-orang yang suci.” (HR Ath-Thabrani).

Tanamkan pada keluarga kita bahwa meneladan Rasulullah ﷺ merupakan perintah Allah Taala. Dalam QS An Nisa: 64 disebutkan, “Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.” Selanjutnya agar keluarga semakin mencintai Nabi Muhammad ﷺ, ajak mereka membaca dan membahas sirah Nabawiyah bersama. Mereka akan memahami cara Rasulullah memperjuangkan dan menegakkan Islam di muka bumi. Sedangkan kepada anak-anak yang masih kecil tentu kita harus sering menjelaskan dan menyampaikannya. Dengan demikian, mereka akan memahami syariat yang dibawa Rasulullah ﷺ, mempraktekannya dalam kehidupan, dan paham cara memperjuangkan Islam.

4. Banyak berselawat untuk Rasulullah ﷺ.

Ketika mencintai seseorang, terlebih Rasulullah ﷺ, maka kita akan banyak menyebut namanya. Dengan demikian, mencintai Rasulullah berarti banyak berselawat kepadanya. Selawat adalah ibadah istimewa. Bahkan Allah bersama para malaikat-Nya senantiasa berselawat kepada Rasulullah. Hal ini menjadi contoh, lalu orang-orang beriman diperintahkan berselawat kepada Nabi, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.“ (QS Al-Ahzab: 56).

Imam Bukhari mengatakan, Abul Aliyah telah mengatakan bahwa yang dimaksud dengan selawat dari Allah ialah pujian-Nya kepada Nabi ﷺ di kalangan para malaikat. Sedangkan selawat dari para malaikat ialah doa mereka untuk Rasulullah ﷺ. Ibnu Abbas mengatakan bahwa makna yusalluna ialah memberikan keberkahan.

5. Sering menghadiri majelis ilmu.

Mencintai Rasulullah ﷺ adalah mencintai dan menjalankan semua yang beliau bawa berupa ajaran dan hukum-hukum Islam. Setiap keluarga muslim dituntut terus belajar hingga makin paham ajaran dan hukum-hukum Islam. Dengan demikian, kita akan selalu mengingat sosok istimewa yang membawa ajaran Islam tersebut. Keluarga-keluarga muslim tidak hanya akan semakin paham Islam, tetapi juga akan semakin cinta kepada Rasulullah ﷺ sebagai pembawa ajaran Islam.

Langkah paling mudah mewujudkan semua ini adalah dengan istikamah menghadiri majelis-majelis ilmu yang membahas Islam kafah, lalu memahami dan mendakwahkannya ke tengah umat. Semua ini akan menjadi benteng yang kokoh agar umat tetap teguh di jalan Islam dan semakin cinta kepada Muhamad Rasulullah ﷺ.

Khatimah

Kecintaan kepada Rasulullah ﷺ mengharuskan kita mengikuti dan meneladan beliau dalam seluruh perilakunya. Dengan demikian, menjadi kewajiban kita untuk terus mengajak umat menerapkan dan melaksanakan aturan Islam secara kafah sebagai bukti kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Umat juga harus diajak berjuang sebagaimana perjuangan Rasulullah ﷺ untuk menegakkan negara Islam. Hanya dalam institusi negara Islam, aturan Islam dapat diterapkan secara kafah. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]

Share

One thought on “Keluarga Muslim, Tetaplah Merawat Kecintaan pada Rasulullah ﷺ”

  1. Allahumma sholli ala sayyida muhammad wa ala alihi wasohbihi ajmain.
    Semoga kita tidak hanya mengkerdilkan syariat Rasulullah hanya pada masalah akhlaq beliau saja yang luar biasa agung, tapi juga meneladani perjuangan beliau untuk tegaknya risalah Islam yang kaffah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *