Penulis: Syekh Ahmad Athiyat
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Sekarang ini kita berada dalam neraka pemerintahan negara-negara boneka. “Setiap orang itu tertuduh,” dan “Secara asal orang yang bebas itu seorang pelaku kejahatan, hingga terbukti kebebasannya (hal tidak berdosanya). Sampai terbukti ketidakbersalahannya, tongkat, cemeti, pengapnya sel tahanan dan pakaian penjara telah mengenyangkan daging dan darahnya, serta tahun demi tahun kehidupannya berlalu di sana, hingga tidak bersisa umur yang layak dijalaninya karena masa telah hilang darinya. Jika melihat sebuah penjara di negara-negara kecil ini, tampak begitu jelas ratusan bahkan ribuan contoh ketidakadilan, kezaliman, dan pelanggaran.
Secara praktis mahkamah tidak dianggap sebagai badan yang menetapkan hukum atas manusia jika mereka melanggar atau menyimpang dari jalan yang lurus—dari sudut pandang negara boneka ini—tetapi sekarang para kadi ini menerima hukum-hukum dalam bentuk yang telah dikemas sedemikian rupa.
Sekarang, setelah semua perkara itu menjadi jelas, dan setelah tidak ada alasan lagi bagi mereka yang mengemukakan alasan, tidak ada dalih lagi bagi siapa saja yang lalai, apa yang harus dilakukan sehingga bisa mengembalikan pendengaran bagi mereka yang tuli, penglihatan bagi mereka yang buta, setelah ini, bukankah menjadi sebuah kemestian bagi kita untuk mengadakan perubahan atas semua kerusakan ini?
Wahai umat—dan khususnya para “pemuda”—bahwa realitas pekat yang mengungkungi kita terus melaju ke arah yang lebih buruk, jika kita tidak segera mencegah dan memperbaikinya sebelum berlalunya masa, niscaya kita semua akan menggigit jari penuh penyesalan dan kala itu sudah sangat terlambat untuk melarikan diri.
Pada hari ini, sesungguhnya kita secara keseluruhan merupakan salah satu dari dua golongan, pertama dan ini menjadi golongan mayoritas, mereka yang tenggelam dalam kesengsaraan dan penderitaan hingga mencapai telinga mereka. Golongan kedua, dan ini minoritas, masih berada di jalan pengantar mereka ke dalam kesengsaraan dan penderitaan tersebut. Apakah golongan pertama akan bergerak untuk menghilangkan bahaya dan mencabut akarnya sebelum akar-akar mereka ikut tercabut? Ataukah mereka akan terus menyembunyikan kepala ke dalam pasir sebagaimana yang dilakukan burung unta yang tolol, yang mereka mengira bahwa dengan perilaku bodoh ini bisa menyelamatkan mereka dari akibat buruk yang sedang menanti mereka?
Apakah golongan kedua akan bergerak sebelum mereka mengalami apa yang dialami orang-orang sebelumnya? Ataukah mereka akan memandang realitas ini dan memahaminya sebagai orang cebol sultan yang konon sedang duduk di madraj (ruang pertemuan dengan tempat duduk bertingkat-tingkat), ketika api mengganyang golongan yang lebih rendah dari mereka “yakni yang duduk di tingkat paling bawah” dengan pandangan mata penuh kedunguan dan kebodohan, seolah-olah mereka menanti giliran mereka sendiri untuk dibakar, atau mereka akan seperti sapi jantan merah yang berkata, “Aku dimakan pada hari sapi jantan hitam dimakan dan sebelumnya sapi jantan putih.”
Demi Allah, sesungguhnya masalah ini sangat serius, ada dua pilihan apakah kita akan bekerja bersama bahu-membahu dengan segenap kekuatan kita untuk memerangi penderitaan yang kini berada di ambang pintu dan segera terjadi menimpa kita? “Satu tangan dengan tangan yang lain keduanya mengundi alat bor”, dan “Seorang pahlawan dengan pahlawan lain, keduanya mampu menegakkan agama di Malta”, dan “Keduanya tidak sebagai penari di kegelapan,” ataukah kita akan menunggu giliran kita terperosok dalam kebinasaan dan menyerah begitu saja masuk ke dalam penderitaan sehingga karenanya kita akan kehilangan semua?
Wahai para “pemuda”, sesungguhnya kematian itu pasti datang (hak), barang siapa yang tidak mati ditebas pedang, suatu saat ia akan mati oleh yang lain, berbagai keadaan boleh berbilang, tetapi kematian hanya satu saja, sedangkan kematian untuk membela perkara rendah dan hina tidaklah seperti kematian dalam membela perkara agung nan mulia.
Ini merupakan qadliyah (masalah besar), masalah kita untuk mengangkat umat dari lumpur rawa-rawa yang kotor dan menenggelamkannya, ke dalam puncak kemuliaan, ketenteraman, dan kebahagian, dan kita harus mengembalikan umat menaiki singgasana kemuliaan dunia yang menjadi tempatnya semula yang alami dan benar. Apakah kita akan melakukan hal itu, apakah kita akan berhasil, dan bagaimana hal itu berlaku?
Sesungguhnya tujuan kita adalah untuk mengubah realitas yang rusak menjadi realitas yang benar, dan mengangkat diri kita dari kerendahan menjadi kemuliaan, dan mengembalikan umat pada tempatnya yang terluhur, dan ini semua tidak akan jadi kenyataan tanpa adanya perubahan demi meraih kebangkitan. Bagaimana cara yang bisa menyampaikan kita ke sana? Ini akan menjadi objek bahasan pasal mendatang, Insyaallah. [MNews/Rgl]
Sumber: Syekh Ahmad Athiyat, Ath-Thariq (Jalan Baru Islam)
