Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA — Fenomena perselingkuhan saat ini kian marak. Perselingkuhan bak penyakit yang tengah melanda dan menjangkiti berbagai kalangan, mulai pejabat tinggi, artis hingga rakyat biasa. Perselingkuhan tidak hanya dilakukan oleh para suami, ada juga istri yang melakukannya. Bahkan ada kasus mertua berselingkuh dengan menantunya. Fenomena seperti ini tidak layak terjadi, terlebih di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Demikianlah, ketika sistem kehidupan yang diterapkan bukan Islam, maka fenonema ini sulit terkendali.
Liberalisme Biang Keladi Maraknya Perselingkuhan
Sistem sekuler kapitalisme yang sedang mencengkeram negeri ini, tidak dimungkiri turut memberi andil bagi maraknya perselingkuhan. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan ini melahirkan liberalisme yang mendewakan kebebasan bertingkah laku. Akibatnya, tidak adanya aturan baku di tengah umat, semua diukur berdasarkan manfaat. Selagi perselingkuhan dilakukan atas dasar suka sama suka dan tidak ada pihak yang dirugikan, maka tidak ada batasan pergaulan dan dianggap sah saja.
Liberalisme atau paham kebebasan telah mengubah arah pandang manusia terhadap hubungan laki-laki dan perempuan. Mereka memandang interaksi antara laki-laki dan perempuan dengan pandangan seksual semata. Termasuk di dunia kerja, interaksi laki-laki dan perempuan yang tanpa batasan sering mengakibatkan perselingkuhan dan perzinaan. Ditambah lagi, minimnya pemahaman agama sehingga tidak ada kontrol diri agar menahan hawa nafsu di mana pun berada. Tabaruj, khalwat, dan ikhtilat menjadi hal yang biasa terjadi di tengah umat. Wajar jika perselingkuhan tumbuh subur di negeri sekuler kapitalisme ini.
Belum lagi paparan pornografi dan pornoaksi yang kian mudah di akses melalui gawai dari berbagai media. Hal ini semakin menstimulasi naluri seksual pada diri manusia. Mendorong manusia untuk memenuhinya tanpa peduli nilai-nilai agama.
Tidak dimungkiri, seorang suami bisa khilaf dan tergoda karena bertemu mantannya dahulu sehingga cinta lamanya bersemi lagi. Akan tetapi, tentu saja situasi ini tidak boleh dibiarkan. Benar bahwa Islam membolehkan poligami sehingga boleh saja seorang suami menikah lagi. Namun, perselingkuhan tidak sama dengan poligami. Terlebih bagi seorang istri, tidak sepantasnya ia terpesona atau mabuk cinta dengan lelaki lain meskipun hubungannya dengan suaminya tidak lagi romantis dan harmonis. Ini karena Islam mengharamkan poliandri.
Rasulullah ﷺ Melarang Keras Perselingkuhan
Perselingkuhan seringkali terjadi karena adanya pertemuan atau komunikasi intens dengan lawan jenis yang bukan pasangannya. Kadang berawal dari curhat, selanjutnya saling memberi perhatian hingga saling tergoda. Di dalam Islamm sangat jelas bahwa hukum menggoda suami atau istri orang adalah haram. Hal ini termasuk dosa takhbib (merusak ikatan pernikahan sah). Nabi Muhammad saw. juga berpesan tegas terkait hal ini.
Dalam banyak hadis, Rasulullah saw. memberikan ancaman keras untuk pelanggaran semacam ini, di antaranya terekam dalam hadis dari Abu Hurairah, ”Bukan bagian dariku seseorang yang melakukan takhbib terhadap seorang wanita, sehingga ia melawan suaminya.” (HR Abu Daud). Dalam hadis lain juga ada peringatan untuk para suami, juga dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ”Siapa yang merusak hubungan seorang wanita dengan suaminya, maka ia bukan bagian dariku.” (HR Ahmad).
Abu Daud Adzim Abadi menjelaskan, takhbib secara bahasa artinya menipu dan merusak, yaitu dengan menyebut kejelekan seorang suami di hadapan istrinya atau kebaikan lelaki lain di depan wanita itu. (Aunul Ma’bud, 6/159). Sementara itu, Ad-Dzahabi mendefinisikan takhbib sebagai perusak hati wanita, ”Merusak hati wanita terhadap suaminya.” (Al-Kabair, hlm. 209).
Dalam Fatwa Islam, takhbib adalah usaha memisahkan wanita dari suaminya. Takhbib tidak hanya berbentuk memengaruhi si wanita agar menuntut cerai dari suaminya. Yang juga termasuk takhbib adalah ketika seseorang memberikan perhatian, empati, menjadi teman curhat terhadap wanita yang sedang ada masalah dengan keluarganya.
Nasihat Rasulullah ﷺ Ketika Godaan Itu Muncul
Kehidupan pernikahan memang tidak selalu aman dan tenteram, terkadang ujian, cobaan serta godaan menerpa. Godaan dalam keluarga bisa datang berbentuk apa saja, salah satunya adalah perselingkuhan. Tidak jarang biduk rumah tangga yang sudah dibina bertahun-tahun kandas di tengah jalan karena salah satu dari pasangan berselingkuh.
Rasulullah saw. telah memberikan nasihatnya untuk kita semua agar tercegah dan tidak terjebak pada hubungan yang diharamkan Allah Taala. Nasihat Rasulullah saw. antara lain:
1. Menyelami kembali tujuan pernikahan.
Keluarga yang tegak di atas syariat Islam, sesungguhnya akan mampu menciptakan ketenangan, ketentraman, keadilan, dan rasa aman. Suami istri hidup berdampingan saling asih dan asuh, serta menjalankan bahtera keluarga layaknya dua orang sahabat sejati yang selalu berbagi suka dan duka.
Oleh karena itu, ketika rasa cinta hilang, hidup merasa tidak lagi bahagia, batin merasa merana, bercerai memang tidak mengapa. Namun, seharusnya suami istri mengingat kembali tujuan menikah seperti tuntunan Rasulullah saw. yaitu untuk menggapai rida Allah Taala. Suami istri harus menepis semua kisah lama dan terus berupaya sekuat tenaga memperbaiki hubungan dengan pasangan agar kondisinya lebih baik.
2. Segera kembali kepada Allah dan pasangan hidupnya.
Salah besar ketika ada permasalahan di dalam rumah tangga lantas seseorang mencari ketenangan, kehangatan perasaan, dan kenyamanan pikiran dengan curhat atau berkomunikasi dengan mantannya. Jangan mulai “bermain api.” Yang seharusnya dilakukan adalah mendekat kepada Allah Swt. dan tetap berkomunikasi dengan pasangan, walaupun tidak mudah. Hanya dengan mendekat kepada Sang Khalik, kita akan memiliki hati dan jiwa yang tenang dalam Islam.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. telah memberi nasihat kepada para suami yang tertarik dengan wanita lain yang bisa berujung perselingkuhan. Nabi saw. bersabda, “Jika engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu. Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal seperti yang dimiliki oleh wanita itu.” (HR Tirmidzi).
Itulah nasihat Rasulullah saw. agar para suami selalu mengingat istrinya. Demikian pula agar para istri menjaga kehormatan dan setia kepada suaminya.
3. Selalu mengingat kebaikan pasangan.
Seorang istri kadang mendapati pada diri suaminya sesuatu yang tidak disukainya, misalnya berkata kasar atau melakukan kesalahan kepadanya. Namun di balik itu, patut disadari bahwa ada tanggung jawab besar yang diberikan suami kepada istrinya. Bisa saja saat itu suami khilaf atau ada masalah lain yang mengganggunya sehingga ia berbuat demikian.
Rasulullah saw. pernah menasehati para istri untuk bersabar dan tidak memanggil dengan kejelekan suami. Istri juga tidak boleh mencaci-maki suami ketika merasa kecewa atau tidak menyukai sesuatu pada suami karena dapat menyakiti hatinya. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Tidaklah seorang menyakiti suaminya di dunia melainkan istrinya dari para bidadari surga akan berkata, ‘Jangan engkau menyakitinya. Celakalah dirimu karena ia hanya sejenak berkumpul denganmu yang kemudian meninggalkanmu untuk kembali kepada kami.” (HR Tirmidzi).
Rasulullah saw. memberikan kiat praktis agar seorang istri tidak hanya fokus pada kekurangan suaminya. Ini karena bisa menyebabkannya terjerumus pada penyesalan dan menumbuhkan kebencian. Sebaliknya, istri hendaknya selalu mengingat kebaikan-kebaikan suaminya, karena hal ini justru akan makin menguatkan ikatan pernikahan dan menepis pikiran tentang mantan.
Ingatlah, bahwa Allah telah memasangkan kita dengan pasangan terbaik, lengkap dengan sepaket pelajaran yang insyaallah menjadikan kita pribadi yang lebih matang. Semua yang terbaik menurut Allah, pasti terbaik untuk kita. Namun, yang terbaik dalam pandangan kita belumlah tentu akan membuat hidup kita baik.
4. Tetap berkomunikasi dengan pasangan dan mencari solusi bersama.
Rasulullah saw. adalah contoh terbaik dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Beliau sangat menjaga komunikasi dengan istrinya. Ketika ada hal yang tidak disukai dari istrinya, beliau bersabar dan memberikan nasihat. Demikianlah seharusnya kita dan pasangan kita, walaupun terasa berat. Bagaimanapun, kita harus berkomunikasi, jangan sampai pasangan kita terus menerus dalam kemaksiatan. Ketika memilih poligami, maka itu adalah keputusan yang harus diterima dengan lapang dada atau sebaliknya hubungan keduanya putus.
Yang terpenting adalah seluruh upaya berada di jalan syariat sehingga keberkahan terwujud dalam keluarga kita. Pasti berat ketika kita harus mengingatkan pasangan yang tergoda atau terjebak hal-hal yang bisa menjerumuskan kepada pelanggaran hukum syarak. Namun, kita harus berupaya mengembalikan pasangan kepada koridor syarak. Ingatlah selalu sabda Rasulullah saw., “Jagalah syariat Allah, niscaya Allah akan menjagamu.“ (HR Ahmad). Mengejar kebahagiaan pernikahan butuh kesungguhan dan pengorbanan. Meninggalkan kemaksiatan pun butuh tekad membaja meskipun terkadang jatuh bangun melepaskan diri dari belenggunya.
Khatimah
Godaan yang datang dalam pernikahan merupakan ujian yang harus dihadapi dengan kematangan sikap dan pikiran. Idealnya harus dihadapi dengan hati dan pikiran terbuka, serta selalu berprasangka baik terhadap pasangan. Islam telah datang memberikan petunjuk dan rambu-rambu kepada umat Islam. Nasihat Rasulullah saw. merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh setiap pasangan suami istri sehingga pernikahan tidak berujung pada perpisahan. Wallahualam bissawab. [MNews/YG]
