Muslimah News, NASIONAL — Cendekiawan muslim Ustaz Ismail Yusanto mengungkapkan, ada dua faktor yang menyebabkan aspek ekonomi, politik, dan sosial budaya kita—di Indonesia—masih bisa dikendalikan dan dihegemoni oleh Barat.
“Pertama, Barat tidak akan mau kehilangan handle-nya atau grupnya di negeri-negeri muslim, terutama negeri-negeri muslim yang sangat strategis seperti Indonesia,” ujarnya dalam Fokus to The Point: “Kemerdekaan yang Sesungguhnya” di UIY Official, Kamis (17-8-2023).
Indonesia itu, sambungnya, strategis secara geografis maupun geoekonomis. “Di sini ada barang tambang yang luar biasa, juga diapit dua benua dan dua samudra. Barat tidak mau kehilangan. Oleh karena itu, mereka terus melakukan penguasaan, pengendalian, hegemoni, dan dominasi,” jelasnya.
Ia menerangkan, jika mereka sudah melepaskan secara fisik dan militer, mereka akan terus berusaha untuk memegang secara aspek lain, yaitu ekonomi, politik, sosial, dan budaya. “Untuk apa? Untuk menjaga kepentingan-kepentingan mereka. Kepentingan apa? Kepentingan politik dan ekonomi. Kepentingan politik untuk menjaga supaya mereka punya akses terhadap kekuasaan,” bebernya.
“Kaki Tangan” Penjajah
Di situ kemudian muncul faktor yang kedua, sebutnya, yaitu penguasa-penguasa di negeri ini, juga tokoh-tokoh politik—yang demi dukungan terhadap kekuasaannya—mau menjadi “kaki tangan” para penjajah.
“Kita semua tahu, mereka-mereka yang ingin berkuasa itu sowan dulu ke sini, minta endorsement, dan sebagainya. Ini karena mereka tahu, jika tidak, pasti akan ada hambatan. Namun, tentu tidak akan pernah ada yang disebut makan siang gratis, akan ada kompensasi,” ungkapnya.
Nah, lanjutnya, ketika kompensasi-kompensasi itu diberikan, maka menunjukkan ada ketidakmerdekaan secara politik. “Misalnya, menteri ini harus ini. Kita bisa memperhatikan, terutama pada menteri-menteri ekonomi. Juga Menteri Keuangan yang selalu ini. Belum lagi kebijakan-kebijakan ekonomi yang dilakukan dan produk politik yang lebih mendukung kepada Barat,” tukasnya.
Kewajiban
Jadi, tuturnya, menjadi kewajiban kita untuk berjuang. “Kalau kemarin telah berhasil berjuang untuk mewujudkan kemerdekaan melepaskan diri dari penjajahan fisik dan militer, maka ini hari diperlukan perjuangan lagi untuk membebaskan diri dari penjajahan nonfisik, penjajahan ekonomi, dan penjajahan politik,” urainya.
Oleh sebab itu, ia mengemukakan, perlu cara perjuangan, yakni dengan dakwah menyadarkan umat sampai umat menuntut perubahan bagi tegaknya kehidupan Islam yang di dalamnya diterapkan syariat.
“Sedemikian, sehingga kita ini bisa mengabdi kepada Allah, kepada Tuhannya manusia, dengan sepenuh-penuhnya. Itulah kemerdekaan hakiki,” tegasnya. [MNews/Ruh]

Smg Negeri ini segera mendapatkan kemerdekaan yg hakiki