[Kabar] Peneliti: Keamanan Pangan di Indonesia Masih Penuh Tantangan

[Kabar] Peneliti: Keamanan Pangan di Indonesia Masih Penuh Tantangan

Muslimah News, INTERNASIONAL — Peneliti dari Universitas Lampung Prof. Dr. Agr. Sc. Diding Suhandy, S.T.P., M.Agr., menilai, keamanan pangan di Indonesia masih penuh tantangan.

Penilaian itu ia sampaikan dalam presentasi materi di acara International Conference of Islamic Civilization (ICIC) yang digelar secara hibrida, Ahad (13-8-2023).

“Kondisi keamanan pangan di Indonesia saat ini masih penuh tantangan. Pemerintah tidak memiliki strategi yang  jelas untuk meningkatkan ketersediaan, kemudahan akses, serta stabilitas dan pemanfaatan dari makanan,” ujarnya.

Ia lalu membeberkan tantangan tersebut. “Pertama, food production (produksi pangan), lahan tidak produktif di Jawa meningkat sehingga pemerintah perlu untuk membuka lahan di luar Jawa. Sebagai contoh di Kalimantan,” terangnya.

Kedua, sebutnya, dari sisi keamanan pangan, harga bahan makanan masih sangat mahal di Papua, kurang lebih 5 kali lebih mahal dibandingkan dengan daerah lainnya di Indonesia sehingga penduduk Papua memiliki akses terbatas terhadap makanan.

“Ketiga, stabilitas makanan. Persediaan makanan di Indonesia tidak stabil, pada momen tertentu seperti bulan puasa kebutuhan pokok langka,” ungkapnya.

Keempat, sambungnya, kaitannya dengan perubahan iklim. “Dalam kaitannya dengan persediaan makanan dan energi di Indonesia, para ahli perlu memperhatikan prediksi dari situasi iklim atau  peperangan. Misalnya, di Lampung sangat sulit menemukan gas tabung 3 kg, sedangkan di Jepang memiliki cadangan gas untuk 50 tahun ke depan,” urainya.  

Kelima, ungkapnya, pemalsuan pangan. “Pada stabilitas makanan, pemerintah tidak hanya menyediakan makanan, tetapi memastikan dari sisi gizi dan kehalalan. Oleh karenanya, dari sisi manfaat makanan, negara perlu memperhatikan banyak hal untuk menjamin kesehatan masyarakat.Saat ini, di Indonesia banyak fenomena pemalsuan makanan,” bebernya.

Islam

Untuk keluar dari berbagai permasalahan di atas, Prof. Diding  menawarkan konsep Islam dalam menyelesaikan masalah ketersediaan pangan.

“Pertama, kepemilikan lahan dan pemanfaatan. Jika tidak ada yang menggarap tanah setelah tiga tahun, setiap orang dapat memanfaatkan tanah tersebut,” terangnya.

Negara, lanjutnya, mendorong warga untuk bertani. Negara akan menyediakan tanah, menyediakan bahan berupa bibit, pupuk, dan lain-lain.Ia mencontohkan Jepang  yang menganggap agriculture sangat penting sehingga produksi berasnya melimpah.

“Kedua, Akses terhadap makanan perlu didapatkan dengan jalan yang benar sehingga makanan tidak didapatkan dengan mencuri atau menggunakan cadangan makanan darurat saat situasi tidak dalam kondisi darurat,” cetusnya.

Terakhir, ia menjelaskan bahwa Islam juga memiliki konsep zakat, sedekah, dan wakaf yang produktif untuk menjamin orang-orang yang tidak memiliki akses terhadap makanan.

“Zakat, wajib bagi para muzaki sehingga pemerintah menjemput bola kepada para muzaki,” pungkasnya. [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *