[At-Tafkir] Memahami Teks-Teks Sastra (Bagian 1/2)

[At-Tafkir] Memahami Teks-Teks Sastra (Bagian 1/2)

Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani

Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Teks-teks sastra (an-nushush al-adabiyah, literary texts) adalah teks-teks yang dibuat untuk kenikmatan dan membangkitkan perasaan, meskipun mengandung berbagai pengetahuan yang bisa diperoleh dengan berpikir. Oleh karena itu, teks-teks tersebut lebih banyak memperhatikan aspek kata (al-alfazh, words) dan susunan kata (at-tarakib, phrases) daripada memperhatikan makna-maknanya. Meskipun makna harus jadi tujuan seorang sastrawan dan penyair, tetapi tujuan pertamanya adalah kata dan susunan kata.

Memang benar bahwa kata dan susunan kata menunjukkan makna-makna tertentu, tetapi seorang penyair dan sastrawan memfokuskan usahanya pada kata dan susunan kata untuk menyampaikan makna-makna tersebut. Memang benar ahli sastra mengatakan bahwa balaghah itu adalah makna yang indah dalam kata dan susunan kata yang indah pula.

Namun, seorang penyair dan sastrawan meskipun mencurahkan perhatiannya untuk memilih makna-makna, tetapi pemilihannya itu hanya karena ingin menuangkannya dalam kata dan kalimat yang indah. Jadi, berbagai kata dan susunan kata, atau pembentukan makna-makna, hanyalah dalam rangka membuat kesan yang akan mengungkapkan makna tersebut dalam kata dan susunan kata tadi.

Jadi, kata dan susunan kata itulah yang menjadi tumpuan pembentukan makna. Memang benar maksud adanya teks-teks adalah untuk menyampaikan makna-makna. Namun, ini untuk teks-teks pada umumnya. Sedangkan tujuan dari teks-teks sastra bukanlah menyampaikan makna saja. Tujuan pokoknya adalah membangkitkan perasaan pembaca dan pendengar, bukan hanya memberikan makna. Jadi membangkitkan perasaan itulah yang menjadi maksud dan tujuan pertamanya.

Oleh karena itu, seorang penyair dan sastrawan akan senantiasa memilih kata-kata dan susunan kata dengan teliti. Dengan itu dia bertujuan agar ungkapannya menjadi suatu ungkapan yang agung dan bersifat umum, bisa mengungkapkan hal-hal yang indah, bisa memberikan pengaruh, dan bisa membangkitkan perasaan serta mewujudkan emosi.

 Anda akan mendapatkan teks-teks sastra mempunyai karakteristik khusus dalam berbagai ungkapannya yang akan digunakan untuk membentuk berbagai pemikiran dan mengeluarkan kesan (ash-shurah, image). Perhatian ditujukan pada kesan, baru kemudian pemilihan pemikiran.

Jadi tujuan seorang sastrawan, dalam hal pemikiran-pemikiran tersebut, adalah agar ia mampu membentuk dan mengeluarkan pemikiran dalam suatu kesan yang bisa membangkitkan perasaan dan pengaruh. Dengan demikian, yang pokok adalah pengungkapan, yaitu pembentukan suatu kesan atau pengeluaran kesan, sedangkan pemikiran adalah alat dan sarana.

Pembentukan kesan, dan kesan, itulah dua hal yang menjadi perhatian sastrawan dan penyair. Mereka juga memperhatikan pemikiran, dari segi layak atau tidaknya bagi pembentukan kesan, atau layak tidaknya kesan yang akan dikeluarkan oleh pemikiran itu. Bukan dari segi kebenaran atau ketepatan pemikiran, tetapi dari segi kecocokan pemikiran untuk pembentukan kesan.

Hal ini dikarenakan tujuan dari teks sastra bukanlah untuk memberitahukan berbagai pemikiran kepada orang, melainkan untuk membangkitkan perasan pembaca atau pendengar. Oleh karena itu, perhatiannya difokuskan pada pembentukan kesan, yaitu pengungkapan.

Jadi perhatian seorang penyair adalah pada kata dan susunan kata yang menjadi sarana berlangsungnya pengungkapan tersebut. Bukan pada makna yang dikandung oleh ungkapan, kecuali dari sisi kecocokannya untuk pembentukan kesan, yakni mengeluarkan kesan yang indah dan bisa membangkitkan perasaan.

Itulah fakta teks-teks sastra. Selama faktanya seperti itu, maka informasi terdahulu yang mesti ada untuk mengaitkan pengindraan yang terjadi dari membaca teks-teks sastra haruslah merupakan informasi yang berkaitan dengan pembentukan kesan (at-tashwir, imagery) –yakni berkaitan dengan kesan-kesan sastrawi—agar makna teks bisa dipahami dan agar kesan yang dikeluarkan dapat dirasakan, dalam bentuk yang digunakan untuk mengeluarkan kesan.

Maksudnya, memahami teks sastra mengharuskan adanya pengetahuan-pengetahuan terdahulu tentang kata dan susunan kata, yakni tentang aktivitas pembentukan kesan dan berbagai alat dan sarana yang dituntutnya. Juga mengharuskan latihan untuk melihat berbagai macam kesan dan membedakan satu sama lain.

Dengan kata lain, membaca teks sastra menuntut untuk terlebih dahulu membaca teks-teks sastra dengan cara yang dapat menumbuhkan cita rasa (adz-dzauq, taste), kemampuan membedakan, dan pemahaman akan teks. Oleh karena itu, orang yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang teks-teks sastra tidak akan mungkin memahami teks-teks sastra. Meskipun dia memperlihatkan keterpengaruhannya oleh teks sastra atau menghormati teks sastra.

Jadi masalahnya adalah masalah cita rasa. Sedangkan cita rasa itu tidak mungkin tumbuh kecuali setelah latihan yang dilakukan berulang-ulang, banyak merasakan teks, dan mengetahui bermacam-macamnya cita rasa teks. Dengan kata lain, cita rasa tidak akan tumbuh kecuali setelah membaca teks sastra dan sering membaca teks sastra dalam berbagai macam jenis dan bentuknya.

Manakala cita rasa terhadap teks sastra tersebut telah terwujud, akan terwujud pulalah pemahaman terhadap teks, karena memahami teks sastra bukanlah untuk memahami maknanya, melainkan untuk menjangkau cita rasa susunan katanya. Dari cita-rasa yang ditemukan, akan datanglah pemahaman terhadap makna.

Sebagai contoh seorang penyair berkata,

Dua akhlak yang tidak aku sukai pada pemuda,

bangga karena kaya dan merasa hina karena papa,

maka jika engkau kaya janganlah kufuri nikmat-Nya,

dan jika papa banggalah selamanya.

Penyair lain berkata,

Sesungguhnya wanita yang ingin merebut hatimu dan kamu bosan kepadanya,

dia diciptakan menjadi cintamu sebagaimana engkau diciptakan menjadi cintanya,

Maka apa yang dia rasakan ada padamu, dan kamu berdua,

menampakkan satu sama lain cintanya yang sempurna

Penyair lain berkata,

Kita dulu bila seorang tamu memaksa minta jamuan,

dia akan didatangi oleh pedang-pedang beracun yang meneteskan darah,

Kita tidak akan memberikan kuda-kuda hingga kita bisa mengembalikan

sebagai harta rampasan perang dari musuh kita yang merangkak payah.

Penyair lainnya berkata,

Bila kita marah seperti kemarahan Mudhari,

kita `kan koyak tabir matahari atau matahari `kan teteskan darah.

Bila kita pinjamkan kepada seorang pemimpin suku

sebuah puncak mimbar, dia `kan membaca selawat dan salam kepada kita.

Perbedaan yang ada di sini bukan karena perbedaan makna, tetapi karena perbedaan kesan yang dikeluarkan oleh sang penyair dan perbedaan pembentukan kesan yang dimunculkan penyair. Ini karena meskipun seluruh penyair tadi telah membangkitkan perasaan pembaca dan pendengar, tetapi bangkitnya perasaan yang dimunculkan oleh dua penyair pertama berbeda dengan bangkitnya perasaan yang dimunculkan oleh dua penyair terakhir. [MNews/Rgl]

Sumber: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Hakikat Berpikir (At-Tafkir)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *