[Dunia Remaja] Yang Muda, yang Mulia

[Dunia Remaja] Yang Muda, yang Mulia

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Eksistensi dan remaja ibarat sosial media dan kuota. Tidak terpisahkan dan kerap tercyduk selalu beriringan. Remaja tanpa sosial media, mati gaya. Begitu juga jika remaja tanpa eksistensi, mati suri. Enggak heran kalo remaja bela-belain ngerjain apa aja biar eksis. Diakui oleh lingkungan. Dirasakan kehadirannya oleh teman. Saat kumpul bareng tidak dianggap angin lalu.

Biar Hidup Punya Arti

Wajar kalo setiap manusia enggak mau dianggap sebatas deretan angka, tapi pengin juga diperhitungkan. Apalagi remaja, masa pencarian jati diri memaksanya untuk terus bergerak ke sana, ke sini. Berburu eksistensi diri agar hidupnya punya arti. Beragam cara pun sering dilakukan remaja, dari yang happy sampai ngeri.

Pertama, popularitas. Ini yang paling banyak digandrungi remaja. Jalan pintas meraih popularitas melalui ajang pencarian bakat selalu dipadati remaja and remaji yang ikut audisi nyanyi. Berkompetisi cari peruntungan, mungkin aja kepilih meski suara pas-pasan.

Kedua, hidup glamor. Remaja paling gampang kepincut gaya hidup mewah. Apalagi di zaman serba materialis sekarang, penampilan fisik jadi ukuran status sosial. Dari mulai busana, alat komunikasi, alat transportasi, hingga makanan, dan tempat ngumpul, semua dilihat dari kacamata mewah bin glamor biar tetep eksis dalam pergaulan.

Remaja pada mupeng ngeliat idolanya pakai gadget terbaru, tampil menawan dalam balutan busana branded, asyik nongkrong di cafe sambil menikmati cemilan kekinian. Saking penginnya hidup mewah, ada remaja yang menghalalkan segala cara biar dapat banyak duit, biar bisa ngikutin. Ada yang terjerumus ke dalam prostitusi online atau terjun ke dalam dunia kriminalitas. Ngeri!

Ketiga, menantang maut. Keterlibatan remaja dalam komunitas geng motor atau memajang foto selfie ekstrim di akun media sosialnya, sudah cukup memenuhi dahaga pencarian jati dirinya. Gaya hidup menantang maut yang mempertaruhkan nyali dilakoni biar keliatan berani demi meraih eksistensi. Seperti skip challenge yang sempat makan korban remaja. Hati-hati!

Sahabat, manusiawi kalo remaja pengin eksis sebagai wujud pencarian jati diri biar hidup punya arti. Namun, kalo remaja belum nyadar tujuan hidupnya yang benar, eksistensi jadi ajang trial and error. Coba-coba ngikutin arus tren remaja biar tetap bisa ngumpul bareng sahabat, padahal hidupnya bisa berakhir setiap saat. Malaikat Izrail bisa datang kapan aja ngecengin kita tanpa notifikasi. Tentunya bukan ngajak kenalan, tapi untuk menceraikan nyawa dari badan kita. Sudah siap?

Oleh karena itu, penting banget bagi kita untuk punya tujuan hidup yang benar. Jangan sampe tujuan hidup cuman jadi pelampiasan nafsu syahwat kita untuk menikmati dunia. Itung-itungan kita sebagai muslim, hidup bukan cuman di dunia, tapi juga di akhirat. Jadi, tujuan hidup juga enggak seharusnya mentok di dunia aja. Kemewahan, popularitas, atau materi berlimpah yang sering dianggap tujuan hidup ideal nyatanya bisa melenakan kita akan kehidupan di akhirat nanti. Ujung-ujungnya, hidup kita malah tidak berarti. Jangan sampai, deh!

Meneladan Sahabat Rasul

Idealnya, seorang pemuda yang paham tujuan hidup yang benar, nyadar perannya pada masa depan. Suatu saat nanti, tampuk kepemimpinan bangsa dan negara ada di tangan mereka. Kebangkitan umat Islam saat ini yang tengah terpuruk juga ada di pundak mereka. Untuk itu, kita bisa becermin pada generasi muda pada zaman Rasulullah dan masa kejayaan Islam yang mulia di hadapan Allah dan manusia. Siapa mereka?

Pertama, Ali bin Abi Thalib ra.. Beliau termasuk generasi pertama yang memeluk Islam. Pada usia yang masih sangat belia, delapan tahun, beliau berani memeluk Islam atas keinginannya sendiri, padahal ayahnya, Abu Thalib, masih tetap dalam keadaan kafir.

Ketika beliau ditanya, “Apakah engkau tidak minta izin dulu kepada bapakmu untuk masuk Islam?”, maka beliau menjawab dengan tegas, “Allah tidak meminta izin kepada bapakku ketika Ia menciptakanku. Lantas, mengapa aku harus meminta izin kepada ayahku untuk menyembah-Nya?”

Beliau senantiasa mendampingi Rasulullah saw. pada masa awal perjalanan dakwah di Madinah, padahal saat itu, jumlah umat Islam masih sedikit dan tengah menghadapi permusuhan sengit dari orang Quraisy. Beliau juga termasuk sahabat yang berani, meskipun usianya masih belia.

Kedua, Abdullah bin Mas’ud. Abdullah ra. masuk Islam pada usia 14 tahun. Beliau salah satu teladan pemuda yang kuat dan berani “menantang maut”. Suatu ketika, para sahabat Rasulullah berkumpul di suatu sudut Kota Makkah. Salah seorang di antara mereka berkata, “Demi Allah, orang-orang Quraisy belum pernah mendengar bacaan Al-Qur’an ini dengan bacaan yang keras. Siapa yang mau memperdengarkan di hadapan mereka?”

Abdullah bin Mas’ud—seorang yang bertubuh kecil dan lemah kedudukannya–lalu menjawab, “Saya!” Rekan-rekannya menjawab, “Kami mengkhawatirkan keselamatanmu. Yang kami harapkan, seseorang yang memiliki kekuatan yang sanggup melindunginya dari tindakan orang-orang itu.” Ibnu Mas’ud pun menjawab, “Biarkan aku melakukannya. Allah yang akan melindungiku.”

Tidak lama kemudian, Ibnu Mas’ud datang ke dekat Kakbah di sekitar lokasi perkumpulan orang-orang Quraisy. Ia lalu dengan lantang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat demi ayat dilantunkan Ibnu Ummi ‘Abd dengan indahnya. Sejenak, orang-orang Quraisy tertegun mendengar keindahan ucapan dan suaranya. Namun setelah itu, bertubi-tubi pukulan menimpa dirinya. Ibnu Mas’ud tetap membacakan ayat-ayat Al Qur’an. Ia menunjukkan keberanian dan pengorbanan untuk menyampaikan kebenaran kepada musuh-musuh Allah.

Ibnu Mas’ud kembali kepada rekan-rekannya dalam kondisi berdarah akibat pukulan yang ia terima. Rekan-rekannya berkata, “Inilah yang kami takutkan terjadi pada dirimu.” Lalu Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh demi Allah, sekarang musuh-musuh Allah itu mudah saja bagiku. Kalau kalian mau, aku akan mengulanginya lagi esok hari.” Rekan-rekannya menjawab, “Cukup sudah, kamu telah memperdengarkan kepada mereka, hal yang mereka benci.”

Selain Ali dan Abdullah, masih banyak contoh pemuda muslim lain yang enggak kalah hebatnya. Mush’ab bin Umair baru berusia 24 tahun ketika diutus Rasulullah saw. pergi ke Madinah untuk menyebarluaskan Islam. Usamah bin Zaid pada usianya yang sweet seven teen, memimpin para sahabat senior, seperti Abu Bakar dan Umar, sebagai Amirul Jihad (komandan pasukan kaum muslim menghadapi pasukan Romawi). Ja’far bin Abu Thalib yang berani berdiri di depan Raja Najasy dari Habsyah (Ethiopia) untuk mewakili dan membela Islam walau usianya baru 20 tahun. Imam Syafi’i, salah satu ulama terbesar berhasil menghafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun dan menjadi mujtahid pada usia 14 tahun.

Pokoknya, banyak banget deh figur pemuda Islam yang bener-bener berdiri di garis depan kebangkitan Islam dan kaum muslim. Mereka teladan mulia yang wajib kita contoh. Catet, ya!

Muda Mulia Bersama Islam

Sahabat, eksistensi remaja muslim bukan karena ia populer, idola remaja, tampil dengan tren fesyen kekinian atau kecanggihan teknologi yang selalu menemani kesehariannya. Bukan pula karena ia jago tawuran, ikut geng motor, atau gila hormat dari adik kelasnya.

Eksistensi remaja muslim itu ketika Allah Swt. rida dengan perilakunya. Ketika ia berani menyampaikan kebenaran tanpa sungkan kepada teman. Ketika ia aktif berkontribusi untuk kebangkitan umat. Ketika ia istikamah dalam dakwah dan pakai aturan Islam dalam kesehariannya. Oleh karena itu, mari kita sama-sama jadikan diri kita sebagai ujung tombak kebangkitan umat. Muda mulia bersama Islam. Bagaimana caranya?

Pertama, menempa diri dengan tsaqafah Islam. Enggak usah alergi bin gengsi ikut pengajian. Galilah tsaqafah Islam sedalam mungkin. Sampai kita bener-bener yakin kalo Allah itu ada dan selalu mengawasi kita. Al-Qur’an itu perkataan Allah yang kudu kita jadiin pegangan dalam hidup. Rasulullah saw. adalah panutan kita dalam berbuat.

Kedua, mengaitkan perbuatan kita dengan kehidupan akhirat. Sebagai muslim, udah seharusnya kita selalu mikir imbalan yang bakal kita terima sebelum berbuat. Pahala atau siksa di akhirat. Walaupun rencana itu masih diperdebatkan di dalam hati. Kesadaran hubungan kita dengan Allah Swt. dan akhirat ini yang bisa jadi perisai buat melindungi diri kita dari dosa, sekaligus memicu kita mencari pahala.

Ketiga, hidup dalam lingkungan yang baik. Salah satu upaya pencegahan agar kita enggak tergoda berbuat maksiat adalah hidup dalam lingkungan yang sehat dan steril dari godaan setan. Seperti dinyatakan dalam sebuah hadis:

“Perumpamaan teman pendamping yang saleh dan teman pendamping yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Dari penjual minyak wangi, kalian bisa mendapatkan minyak wangi atau mencium bau harumnya. Sedangkan dari tukang besi, kalau tidak membakar pakaianmu, maka kalian akan mendapatkan bau busuk darinya.” (HR Bukhari Jilid 3 No. 314).

Keempat, berdakwah kepada orang lain. Enggak cukup rasanya kalo kita menimba tsaqafah, tapi cuman buat diri sendiri. Kebayang, enggak akan tersebar Islam kalo kita enggak ikut nyampein ke orang lain. Kita memeluk Islam pun karena ada orang lain yang nyampein ke kita, keluarga, atau nenek moyang kita. Betul, apa bener?

Kelima, ngikut aturan Islam enggak kayak robot. Istikamah dengan aturan Islam bukan berarti kita enggak boleh senang-senang. Sok aja. Rasulullah pun dulu suka bercanda dengan istrinya, berolahraga dengan sahabatnya, atau pake baju yang bagus dan rapi. Namun tetep, semuanya kudu sesuai syariat. Kita kudu hati-hati biar enggak terlena dengan berbagai macam hiburan atau larut dalam kesenangan. Karena itu kerjaan orang kafir. Kita tentu beda!

Nah, mumpung masih muda, jangan sia-siakan potensi yang kita punya. Ingat nasihat Imam Syafi’i,

“Demi Allah, hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Jika kedua hal itu tiada padanya, maka tidak bisa disebut pemuda.”

Manfaatkan waktu yang ada untuk belajar, berdakwah, berbuat baik kepada umat, dan berkarya sebelum masa muda hilang ditelan usia. Enggak ada kata terlambat untuk jadi pemuda dambaan umat. Kamu yang muda, yang mulia, calon penghuni surga. Mau? [MNews/YG]

Sumber: Buletin Teman Surga, Edisi 005

Share

One thought on “[Dunia Remaja] Yang Muda, yang Mulia”

  1. Muda Belia Mulia dan Berani tentu di siapkan oleh ibu yang punya tujuan jangka panjang hingga Jannah , sudah saatnya para ibu mencari dan memburu ilmu, agar paham bagaimana menyiapkan generasi muda tangguh harapan masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *