[Nafsiyah] Manusia yang Bermanfaat

[Nafsiyah] Manusia yang Bermanfaat

Muslimah News, NAFSIYAH — Transaksi paling besar di hadapan Allah adalah ketika seorang manusia memberikan manfaat kepada orang lain. Dalam poros keimanan, jika seorang muslim memiliki pemikiran untuk memberikan manfaat kepada orang lain, Allah akan makin melipatgandakan nilai transaksi orang tersebut di hadapan-Nya.

Allah memiliki orang-orang yang telah dipilih untuk menjadi fasilitator memberikan manfaat kepada orang lain. Selama mereka memberikan manfaat kepada orang lain, selama itu pula Allah mencukupi nikmat-Nya kepada mereka. Namun, jika mereka tidak memberikan manfaat lagi, Allah akan pindahkan nikmat-Nya kepada orang lain yang memberikan manfaat.

Kebahagian itu bukan apa yang kita peroleh, tetapi apa yang kita beri. Inilah pandangan yang dimiliki oleh muslim yang memahami sunah. Salah satu karakteristik orang yang memahami sunah Rasulullah saw. ialah memberikan manfaat kepada orang lain.

Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR Ahmad). Saudariku, memberikan manfaat kepada orang lain, manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah Taala berfirman, “Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” (QS Al-Isra: 7).

Hadis Rasul yang juga harus kita ingat ialah, “Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, Allah akan membantu keperluannya.” (Muttafaq ‘alaih).

Kemudian, hadis yang lain, “Barangsiapa yang memudahkan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang dalam kesulitan niscaya akan Allah memudahkan baginya di dunia dan akhirat.” (HR Muslim).

Melakukan aktivitas dakwah merupakan salah satu nilai yang besar dalam memberikan manfaat kepada orang lain. Menunjuki manusia kepada kebenaran Islam yang didakwahkannya hingga manusia beriman, taat, dan hanya tunduk pada aturan-Nya. Hal ini menyadarkan kita agar tidak menahan diri untuk bersungguh-sungguh menunaikan setiap amanah dakwah.

Kita membangun pemikiran yang salah dalam diri jika mengatakan, “Sudah ada orang yang melakukan dakwah di sana, jadi tidaklah perlu bagiku untuk menyibukkan diri melakukannya lagi.” Pemikiran yang seperti ini keliru dan tidak perlu ditiru.

Dari Uqbah bin’Amr bin Tsa’labah ra., Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” (HR Muslim).

Ada beberapa fawaid (manfaat) dari hadis di atas. Pertama, keutamaan dakwah di jalan Allah dan menunjukkan kebaikan kepada orang lain, baik kebaikan di dunia atau akhirat.

Kedua, orang yang menunjukkan kebaikan, maka akan mendapatkan pahala karena telah menunjukkan kebaikan serta pahala orang yang mengikutinya.

Ketiga, amal yang bisa dirasakan oleh orang lain lebih besar manfaatnya dibandingkan amal yang manfaatnya terbatas untuk diri sendiri.

Keempat, orang yang menunjukkan kebaikan kepada orang lain dengan perbuatannya, meskipun tidak dengan lisannya. Seperti, orang yang menyebarkan buletin dakwah yang bermanfaat dan berpegang teguh pada syariat Islam agar manusia juga bisa meneladaninya.

Kelima, keutamaan mengajarkan ilmu dan besarnya pahala seorang pengajar yang mengharapkan pahala di akhirat.

Keenam, dianjurkan seseorang untuk meminta kepada Allah agar menjadi teladan dalam kebaikan. (Syarah Bulughul Maram).

Saudariku, hendaknya seorang pengemban dakwah tidak meremehkan potensi yang ada pada dirinya atau merasa pesimis untuk mewujudkan kebaikan pada objek dakwahnya. Ia memberi bimbingan kepada mereka sesuai kadar ilmu yang dimiliki, hingga dengan dakwah ia bisa meraih pahala besar.

“Demi Allah, bila Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui tanganmu, itu lebih baik bagimu daripada engkau mempunyai unta merah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Saudariku, ingatlah firman Allah tentang ahli surga berikut ini, “Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian (orang miskin yang tidak meminta-minta).“ (QS Adz-Dzariyat: 16—19).

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari ahli surga. Terus memberikan manfaat kepada orang lain lewat jalan dakwah. Wallahu muwafiq. [MNews/Rndy-YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *