Penulis: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani
Muslimah News, FIKRUL ISLAM — Yang harus dilakukan pertama kali dalam berpikir tentang tujuan (ghayat, objectives) dan target (ahdaf, aims) adalah menentukan apa yang diinginkan, yakni menentukan target. Penentuan ini adalah suatu keharusan agar proses berpikir membuahkan hasil. Namun, menentukan apa yang diinginkan bukanlah hal yang mudah karena umat dan bangsa yang merosot tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Jarang sekali mereka mampu mengetahui apa yang mereka inginkan.
Demikian pula individu-individu yang taraf pemikirannya merosot—bahkan banyak orang yang taraf pemikirannya tinggi—tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Bahkan di antara mereka ada yang tidak mampu menentukan apa yang mereka inginkan.
Adapun bangsa dan umat, dikarenakan adanya penampakan (manifestasi) dari kehendak untuk berkumpul bersama–atau menurut bahasa mereka, naluri untuk berkumpul bersama (gharizah al-qathi’, instinct to flock together) yang terlihat dengan jelas dan menjadi pembentuk masyarakat—mereka menjadi didominasi oleh sikap taklid (meniru yang lain). Mereka juga didominasi oleh sikap tidak meneliti berbagai pemikiran dengan saksama. Oleh karena itu, terbentuklah pada diri mereka pemikiran-pemikiran yang salah dan informasi-informasi yang tidak benar.
Mereka terdorong untuk melakukan aktivitas tanpa menentukan tujuan, atau tanpa bermaksud menentukan tujuan. Oleh karena itu, mereka didominasi oleh sikap tidak menentukan tujuan.
Adapun individu-individu, dikarenakan mereka tidak menentukan tujuan, mereka pun tidak memedulikan tujuan dan target untuk diri mereka. Oleh karenanya, mereka melakukan proses berpikir tanpa ada suatu tujuan. Proses berpikir ini akhirnya tidak mendatangkan hasil dan mereka pun tidak mengarah pada suatu tujuan tertentu.
Sedangkan menentukan tujuan dan target dalam berpikir adalah suatu keharusan agar proses berpikir membuahkan hasil. Ini karena berpikir atau berbuat tiada lain adalah untuk mewujudkan sesuatu yang tertentu, yaitu mewujudkan tujuan tertentu. Oleh karena itu, Anda akan melihat bahwa setiap manusia adalah pemikir, tetapi tidak setiap manusia mampu merealisasikan target-targetnya.
Tujuan dan target berbeda-beda sesuai dengan perbedaan manusia. Sebagai contoh, umat yang merosot, tujuannya adalah untuk bangkit. Umat yang maju, tujuannya adalah merealisasikan seluruh jenis pemuasan kebutuhannya. Sebuah bangsa primitif, tujuannya adalah ingin terus menjaga situasi tempat hidupnya. Bangsa yang maju, tujuannya adalah memperbaiki keadaannya dan ingin memunculkan perubahan.
Individu yang taraf pemikirannya merosot, tujuannya adalah memuaskan daya kehidupannya (ath-thaqah al-hayawiyah, life energy). Satu bangsa yang taraf pemikirannya tinggi, tujuannya adalah memperbaiki tipe pemuasan kebutuhan mereka. Demikianlah, tujuan dan target akan berbeda-beda sesuai perbedaan manusia dan taraf berpikirnya.
Apa pun tujuan dan target dari suatu bangsa dan individu, kesabaran untuk merealisasikan tujuan dan usaha keras yang terus-menerus untuk mencapainya hanya akan terwujud pada tujuan yang dekat dan target yang mudah. Sebagai contoh, pemuasan kebutuhan-kebutuhan—dilihat semata sebagai suatu pemuasan—merupakan tujuan yang mudah, bahkan andai kata ia bukan tujuan yang dekat. Oleh karena itu, kemampuan untuk bersabar dalam hal tersebut hampir ada pada seluruh manusia, meskipun kemampuan mereka berbeda-beda tingkatannya.
Jika Anda berusaha untuk mendapatkan makanan, berusaha memberi makan keluarga, berusaha memiliki sesuatu, mencari keamanan, dan yang semisalnya, kemampuan merealisasikan tujuan-tujuan seperti ini dapat dijumpai pada mayoritas manusia. Adapun jika Anda berusaha untuk bangkit, atau membangkitkan bangsa Anda, atau meninggikan kedudukan Anda atau kedudukan bangsa dan umat Anda, ini adalah tujuan-tujuan yang membutuhkan kesabaran dan kesungguhan yang terus-menerus.
Tidak setiap orang mempunyai kemampuan untuk melakukannya. Bisa jadi Anda sudah mulai berusaha, tetapi mungkin saja Anda gagal merealisasikan tujuan karena Anda merasa lelah atau kehilangan kesabaran. Mungkin saja Anda sudah mulai berusaha, tetapi Anda tidak serius memulainya.
Anda lalu melangkah secara tidak serius dan tetap terus saja melangkah. Anda pasti tidak akan bisa merealisasikan tujuan, padahal Anda tidak merasa lelah dan tidak kehilangan kesabaran. Itu karena Anda memang tidak sungguh-sungguh menjalankan usaha tersebut. Padahal merealisasikan tujuan-tujuan yang jauh dan sulit seperti itu yang dibutuhkan pertama kali adalah keseriusan, lalu kesabaran, dan berikutnya usaha yang terus menerus.
Individu lebih mampu bersabar daripada kelompok (bangsa dan umat). Ini dikarenakan pandangan individu lebih jelas dan lebih kuat daripada pandangan kelompok, mengingat berkumpulnya manusia akan melemahkan proses berpikir dan melemahkan pandangan mereka. Oleh karena itu, pandangan satu orang akan lebih kuat daripada pandangan dua orang. Setiap kali bilangan makin besar, akan makin lemah pandangan.
Oleh karena itu, meletakkan tujuan-tujuan yang jauh bagi suatu bangsa adalah tidak benar karena mereka tidak akan berusaha untuk merealisasikannya. Kalaupun mereka berusaha merealisasikannya, mereka tidak akan berusaha dengan serius dan tidak akan sampai pada tujuan.
Dari sinilah, tujuan yang diletakkan untuk suatu bangsa haruslah merupakan tujuan yang dekat dan mungkin untuk direalisasikan. Ini harus dilakukan meskipun harus menetapkan tujuan-tujuan yang dekat sebagai satu tahapan dari beberapa tahapan.
Dengan demikian, apabila mereka telah mampu merealisasilkan satu tahapan, mereka akan bertolak untuk merealisasikan tahapan selanjutnya. Demikianlah seterusnya. Ini karena kelompok lebih dekat untuk melihat apa yang mungkin dilakukan daripada individu. Kelompok juga mempunyai kemampuan yang lebih rendah dalam menanggung kesulitan besar daripada individu.
Sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan secara rasional, tidak dapat dijadikan sebagai tujuan bagi suatu bangsa. Namun, sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan secara faktual merupakan sesuatu yang dapat mereka lihat dan mereka usahakan untuk direalisasikan.
Adapun individu, secara umum mereka mampu untuk melihat bahwa apa yang mungkin secara rasional adalah mungkin secara faktual. Individu juga mampu melihat sesuatu yang jauh. Individu lebih bersabar untuk menanggung kesulitan, lebih mampu menghadapi hambatan, serta lebih mampu untuk berjalan pada tahapan yang jauh.
Hanya saja, tujuan dan target yang diletakkan, baik untuk suatu umat dan bangsa maupun untuk individu, realisasinya tidak boleh membutuhkan waktu bergenerasi-generasi, kemampuan di luar kemampuan manusia, dan sarana-sarana yang tidak ada atau tidak mungkin diadakan.
Sebaliknya, tujuan harus mungkin direalisasikan oleh generasi yang sedang berusaha merealisasikannya, harus mungkin direalisasikan dengan upaya manusia biasa, dan sarana-sarananya pun telah ada atau mungkin untuk diadakan. Ini karena tujuan adalah suatu target yang akan diusahakan oleh pihak yang berusaha itu sendiri, padahal ia tidak akan berusaha merealisasikannya jika target itu jelas-jelas tidak akan pernah bisa direalisasikan.
Begitu juga, selama manusia ingin berusaha mewujudkan tujuan, pasti ia membutuhkan sarana-sarana yang akan menjadi perantara untuk merealisasikannya. Jika ia tidak mempunyai sarana, ia tidak akan pernah bisa mengusahakannya walaupun ia berpura-pura berusaha atau menipu dirinya bahwa ia sedang berusaha.
Manusia juga akan berusaha dengan kekuatannya sebagai manusia. Jika kekuatan tersebut tidak cukup untuk berusaha, ia tidak akan pernah berusaha sama sekali sebab manusia memang tidak akan sanggup diberi beban di luar kemampuannya, bahkan manusia tidak akan mampu beraktivitas di luar kemampuannya.
Oleh karena itu, bagaimanapun jauhnya, suatu tujuan itu haruslah termasuk sesuatu yang mungkin untuk diwujudkan oleh orang yang sedang berusaha dengan kemampuannya yang biasa dan dengan sarana-sarana yang ada padanya.
Jadi, tujuan dari proses berpikir harus ditentukan sebagaimana tujuan dari suatu aktivitas juga harus ditentukan. Tujuan tersebut harus bisa dilihat oleh mata kepala atau mata hati (akal), juga harus memungkinkan untuk diwujudkan, baik terwujud menurut pertimbangan akal maupun pertimbangan fakta. Jika tidak demikian, ia tidak bisa lagi disebut tujuan. [MNews/Rgl]
Bersambung ke bagian 2/2.
Sumber: Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Hakikat Berpikir (At-Tafkir)
