Penulis: Shezan A. Gerung
Muslimah News, DUNIA REMAJA – Alhamdulillah, ya, tahun ini Allah masih memberi usia dan nikmat sehat hingga kita bisa melaksanakan hari raya Iduladha. Tentu menjadi kebahagiaan tersendiri bisa menikmati keberkahan hari raya kali ini. Bagi seorang muslim, selalu ada pelajaran pada setiap hari raya.
Apalagi, Idulfitri dan Iduladha merupakan dua hari raya yang membahagiakan bagi umat Islam. Dalam salah satu hadis, dikisahkan bahwa dari Anas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, ‘Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idulfitri dan Iduladha (hari Nahr).’’” (HR An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya sahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syekh Syu’aib Al Arnauth).
Memetik Hikmah
Sobat muslimah, bagi umat Islam, hari raya kurban tentu menjadi momentum untuk introspeksi diri. Selain itu, pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang juga terdapat dalam Al-Qur’an menjadi inspirasi bagi setiap muslim. Omong-omong tentang pengorbanan, betapa banyak kita menyaksikan pengorbanan salah alamat yang dilakukan generasi muslim.
Salah alamat bagaimana maksudnya? Ya, pengorbanan yang spiritnya bukan berdasarkan syariat. Ada yang berkorban untuk idolanya, berkorban untuk pujaan hati, atau berkorban untuk memperoleh karier gemilang. Seluruh standar duniawi dikejar semata untuk mendapatkan pengakuan dari manusia. Memang, sih, secara alami manusia pengin diperhitungkan, bukan menjadi deret angka doang. Namun, jika melihat kembali spiritnya, ya, tetap saja semata karena manusia. Makanya, hari raya Iduladha ini momentum untuk mengambil hikmah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tuh, pas banget, sobat.
Sobat muslimah tentu kerap mendengar kisah keduanya. Kebayang tidak, saat seorang ayah, yakni Nabi Ibrahim as. lama merindukan buah hati, tetapi saat mendapatkannya justru Allah memerintahkan untuk mengorbankannya? Duh, sedih banget pastinya.
Manusiawinya, kasih sayang orang tua terhadap anaknya tentu tidak tergantikan dengan apapun di dunia ini. Tetapi, bagaimana jadinya jika Allah yang memerintahkan? Nabi Ismail as. adalah buah hati, harapan, dan cinta yang telah lama Nabi Ibrahim dambakan. Namun, di tengah bahagia yang Nabi Ibrahim rasakan, turunlah perintah Allah swt. kepada beliau untuk mengorbankan putra kesayangannya itu.
Allah Swt. berfirman, “Tatkala anak itu telah mencapai usia sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Anakku, sungguh aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelih dirimu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu.’” (QS Ash-Shaffat [37]: 102).
Sikap yang Nabi Ibrahim ambil sungguh di luar perhitungan manusia lainnya. Perintah Allah swt. tersebut beliau sambut dengan mengedepankan kecintaan yang tinggi, yakni kecintaan kepada Allah Taala. Beliau mengesampingkan kecintaan terhadap dunia, dalam hal ini sang permata hatinya, Nabi Ismail as..
Perintah amat berat itu pun disambut oleh anaknya, Nabi Ismail as. dengan penuh kesabaran. Beliau bahkan mengukuhkan keteguhan jiwa ayahandanya, Nabi Ibrahim as. dengan mengatakan, “Ayah, lakukanlah apa yang telah Allah perintahkan kepada engkau. Insyaallah, engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffat [37]: 102).
Kisah cinta mengharukan antara ayah dan anak ini, Allah cantumkan di dalam beberapa ayat Al-Qur’an. Kisah ini enggak bakal sobat temukan pada drama-drama ala Korea, pastinya. Bayangkan, rasa cinta keduanya semata karena Allah, maka Allah memberi balasan dengan sebaik-baik balasan bagi keduanya. Begitulah ketika manusia memberi pengorbanan atas dasar cinta kepada Sang Pencipta.
Ini kontras dengan kehidupan generasi muda saat ini. Kesan yang terlihat penuh dengan kegalauan. Galau diputus pujaan hati, galau karena gagal meraih pengakuan di mata manusia, dan kegalauan lainnya yang bersandar pada standar duniawi semata.
Sebuah renungan
Sesungguhnya manusiawi, kok, jika ada keinginan untuk mendapat pengakuan dari manusia lainnya. Hanya saja, jangan menjadikan pengakuan manusia sebagai satu-satunya standar kebahagiaan, sobat. Mengapa? Sebabnya, mengejar pengakuan manusia itu enggak akan ada habisnya. Bisa-bisa malah capek sendiri. Makanya, sandarkan semuanya pada Allah.
Di tengah banyaknya masalah yang melilit kehidupan remaja, kembali memikirkan tujuan perbuatan menjadi hal yang penting. Jika semua perbuatan dilakukan karena Allah, yakin, deh, tidak akan sia-sia. Termasuk saat berhadapan dengan kondisi yang mengharuskan kita berkorban.
Menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan tidak akan menjadikan manusia mudah galau, apalagi putus asa. Makanya, niatkan semua karena Allah. Menuntut ilmu karena Allah, menjalani masa remaja semata karena Allah, termasuk meraih berbagai prestasi semata karena Allah. Lihatlah saat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memperlihatkan rasa cinta keduanya semata karena Allah. Allah membalas dengan balasan terbaik. Sungguh membahagiakan, bukan?
Nah, sobat muslimah, kisah Nabi Ibrahim as. dan Nabi Ismail as. tersebut seharusnya menjadi teladan bagi siapapun saat ini. Tidak hanya teladan dalam pelaksanaan ibadah haji dan ibadah kurban. Kedua utusan Allah swt. ini juga merupakan teladan dalam berjuang dan memberi pengorbanan bagi umat dan agama Allah. Kitapun demikian, ya, sobat. Jangan sampai salah alamat, ya, pengorbanannya! Bagaimana, sudah siap memberi pengorbanan terbaik bagi umat dan agama ini? So, pasti, dong! Wallaahualam. [MNews /YG]
