[Dunia Remaja] Jangan Bermaksiat, Dosanya Berat, Kamu Enggak Akan Kuat

[Dunia Remaja] Jangan Bermaksiat, Dosanya Berat, Kamu Enggak Akan Kuat

Muslimah News, DUNIA REMAJA — Makjleb ya, membaca judulnya? Jangan baper dulu, dong. Itu slogan yang perlu kita ingat mulai saat ini dan seterusnya. Mengapa? Karena, godaan akhir zaman makin menggeliat dan bertaburan di mana-mana.

Pengertian Balig dan Mukalaf

Apa arti balig dan mukalaf? Sama enggak makna keduanya? Ayo, kita cari tahu. Ternyata, ada dua istilah yang seringkali disebut kalau kita lagi ngomongin hukum dalam fikih, yaitu balig dan mukalaf. Terkadang, ada orang yang tertukar atau salah memaknai kedua kata tersebut.

Dalam pandangan fikih, balig bermakna kondisi seseorang yang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Bagi perempuan ditandai dengan mulai haid, sedangkan bagi laki-laki berupa mimpi basah. Seseorang yang sudah mencapai usia 15 tahun, tetapi belum mengalami tanda-tanda kedewasaan secara biologis tersebut, fikih menyebutkan bahwa orang tersebut secara otomatis dianggap balig. Kalian sudah balig atau belum?

Nah, ternyata selain muslim dan berakal sehat, balig merupakan salah satu kriteria yang harus terpenuhi agar seseorang menjadi mukalaf. Muslim adalah seseorang yang sudah mengikrarkan syahadat, sedangkan berakal sehat adalah kondisi ketika akal seseorang berfungsi secara normal. Jika ketiga kriteria ini terpenuhi, maka orang tersebut tergolong mukalaf.

Mukalaf adalah seseorang yang sudah mendapatkan beban (taklif) berupa syariat Islam. Ia sudah berkewajiban menunaikan seluruh perintah dan menjauhi larangan Allah Swt.. Pelaksanaan syariat sudah berlaku baginya, baik syariat yang bersifat taklifi (wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram), juga seluruh dimensi syariat. Singkatnya, ia sudah menjadi subjek hukum yang sempurna.

Sebagai subjek hukum yang sempurna, maka mukalaf terikat dengan ketentuan syariat. Ia harus paham hal-hal yang boleh atau tidak boleh dilakukan, serta hal-hal yang dianjurkan untuk dilaksanakan dan yang dianjurkan untuk dijauhi. Ia juga sudah mendapatkan hak dan kewajiban secara sempurna, maka, setiap tindak tanduknya berakibat pada dua kemungkinan, yaitu pahala dan dosa.

Maksiat Versus Taat

Hidup ini kalau enggak maksiat, pasti taat. Kalau enggak maksiat, pasti melakukan aktivitas bernilai ibadah. Jadi, kalau enggak dapat pahala, pasti dapat dosa. Lalu, apa saja sih aktivitas yang terkategori maksiat dan taat? Sebenarnya gampang banget mengenalinya. Kalau kita ngelakuin hal-hal yang diperintahkan Allah, maka terkategori taat, akan bernilai pahala. Nah, kalau kita ngelanggar hal-hal yang Allah larang, itulah yang disebut maksiat, pasti berbuah dosa. Easy, kan?

Allah itu Maha Baik. Allah menyembunyikan segala aib kita selama di dunia. Terbayang enggak sih, andaikan Allah ngasih satu titik di wajah kita untuk setiap dosa yang kita lakukan. Kita enggak bakalan berani keluar rumah karena pasti banyak titik atau noda memenuhi wajah kita. Ternyata, aib dan dosa kita selama ini ditutupi oleh Allah.

Kamu ngerasa sering berbuat salah, enggak sih? Mungkin berbohong kepada orang tua, meminjam uang teman, tetapi sudah lama enggak dikembalikan, nge-bully teman, atau sering gasab, yaitu meminjam barang orang lain tanpa izin.

Bisa jadi juga, kita selama ini sering banget bermaksiat kepada Allah. Contohnya, ninggalin salat lima waktu. Kelak, salat adalah ibadah yang pertama dihisab. Kalaupun sudah salat lima waktu, enggak boleh santai saja, ya. Masih banyak kewajiban lain yang harus kita lakukan.

Ada kewajiban menutup aurat ketika kita berada di luar rumah dan bertemu orang yang bukan mahram kita. Kita enggak boleh memilih ibadah yang disenangi saja atau cuma mau manfaatnya. Rajin salat karena bisa menyehatkan badan. Senang puasa sunah karena ngejar langsingnya. Hadeuh. Ingat, Allah akan ngasih imbalan sesuai niatnya.

Emang maksiat ending-nya happy? Eggak banget. Mana ada maksiat yang membuat happy. Meskipun ketika melakukan maksiat, kita akan merasakan kesenangan sesaat. Hati-hati, balasan atas kemaksiatan bisa jadi ditunda hingga di akhirat.

Tentu kita enggak mau masuk neraka yang panasnya beribu kali lipat dari panasnya api dunia. Disebutkan dalam Shahihain, dari hadis Nu’man bin Basyir ra., ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksaannya adalah seseorang yang diletakkan dua buah bara api di bawah telapak kakinya, seketika otaknya mendidih.’” (Muttafaq‘alaih).

Dalam redaksi lain, “Sesungguhnya penghuni neraka yang paling ringan siksanya adalah seseorang yang memiliki dua sandal dan dua tali sandal dari api neraka. Seketika otaknya mendidih karena panasnya sandal tersebut sebagaimana kuali mendidih. Orang tersebut merasa bahwa tidak ada seorang pun yang siksanya lebih pedih daripadanya, padahal siksanya adalah yang paling ringan di antara mereka.” (HR Muslim).

Merinding enggak baca terjemahan hadis di atas? Masih mau bilang itu urusan nanti? Segeralah kembali ke jalan yang benar. Penyesalan di akhirat itu tiada terkira. Sampai digambarkan, mereka menggigit tangannya sendiri sebagai bentuk penyesalan dan kerugian. Berangan-angan kalau saja dikembalikan ke dunia, maka ia akan menjadi orang beriman. Namun, penyesalan tidak lagi berguna.

Allah Swt. berfirman, “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, ‘Wahai, sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul.'” (QS Al-Furqon: 27).

“Dan seandainya engkau (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, mereka berkata, ‘Seandainya kami dikembalikan (ke dunia), tentu kami tidak akan mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman.'” (QS Al-An’am: 27).

Menjadi Orang Bertakwa

Menjadi orang yang bertakwa adalah cita-cita yang harus kita raih sekuat tenaga. Mau lulus ujian aja kita sampai kursus di bimbel dan les privat, apalagi mau meraih surga Firdausnya Allah Swt.. Godaan pasti ada dan enggak jarang kita harus menahan diri dari kesenangan yang bersifat melenakan, seperti punya pacar idaman. Enggak perlu juga bermuram durja seolah kita adalah jomlo paling ngenes di seantero sekolahan. Tenang sist, kita masih bisa menjadi para jomblo happy, berkreasi dengan banyak aktivitas positif yang berpahala, contohnya mengikuti banyak kajian keislaman. Pasti menambah teman, menambah ilmu juga.

Supaya langkah kita makin kuat untuk menjadi individu bertakwa, carilah circle teman yang juga taat kepada Allah Swt.. Seorang teman adalah cerminan bagi teman lainnya. Oleh karenanya, carilah teman salihah yang bisa saling menguatkan sehingga bisa menjadi teman di dunia, bahkan teman di surga kelak.

Jika kalian telah menemukan teman-teman salihah, peganglah mereka erat-erat. Mungkin karena nasihatnya, kita bisa meraih surga Allah. Bisa jadi, teman yang kadang kita anggap menyebalkan karena selalu mengajak pada kebaikan itu, justru yang akan menyelamatkan kita di akhirat. Kelak, mungkin kita akan bersyukur karena selalu diingatkan pada kebaikan.

Teman surga itu teman yang selalu mengajak pada kebaikan, bukan mereka yang selalu membiarkan kita bermaksiat. Ibaratnya, walaupun kita bersahabat lalu ia tinggal kelas, enggak bakalan kita mau tinggal kelas juga. Apalagi, kalau sahabat kita masuk nereka, pasti kita enggak mau banget nemenin ia di sana. Na’udzubillaah.

So, mengajilah agar hidup kita menjadi bermakna. Bersama para sahabat taat, kita akan semangat melakukan ketaatan dan menghindari maksiat. Jangan terus melakukan maksiat karena dosa itu berat. Jangan sampai menjadi pendosa yang akan berlama-lama di neraka.

Enggak usah baper terhadap celaan orang ketika kita sedang berproses menjadi muslimah taat. Sebaliknya, doakan agar orang yang mencela itu segera menjadi baik sehingga ending-nya kita bisa bareng dia di surga Firdaus Allah kelak. Selalu semangat menebar kebaikan, ya kawan. [MNews/YG]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *