Penulis: Najmah Saiidah
Muslimah News, KELUARGA — Ramadan memang bulan istimewa, sedemikan rupa Allah persembahkan untuk kita kaum muslim sehingga dengan bulan mulia ini keluarga muslim dapat menjalani kebersamaan yang intens. Kebersamaan dalam berbuka dan sahur saja sudah menjadi hal yang sangat kita syukuri, terlebih kita bisa tadarus dan tarawih bersama.
Tentu saja momen ini jangan sampai dilewatkan oleh setiap keluarga muslim. Karena semua amalan ini akan menjadikan kita makin dekat satu sama lain, terlebih sebagai pasangan suami istri. Tentu saja kebersamaan ini akan makin erat jika komunikasi berjalan dengan lancar di antara pasangan suami istri.
Komunikasi merupakan faktor yang sangat penting dalam membangun keharmonisan hubungan antarmanusia, baik di lingkungan keluarga, tempat bekerja, maupun di masyarakat. Banyak konflik terjadi akibat miskomunikasi antara satu dengan yang lain. Solusi untuk menyelesaikan masalah adalah melalui dialog atau komunikasi.
Pentingnya Komunikasi dalam Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga
Keharmonisan keluarga dapat tercapai dengan komunikasi yang baik. Secara umum komunikasi secara langsung atau komunikasi verbal lebih baik dilakukan—jika memungkinkan untuk dilakukan—supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
Melakukan komunikasi ini akan membuat hubungan makin baik karena didasari oleh rasa percaya, jujur, dan terbuka. Utarakan apa yang ingin kita sampaikan atau tanyakan kepada pasangan kita secara langsung. Dengan begitu akan jelas apa yang diharapkan. Selama masih bisa bertatap muka, lebih baik dilakukan. Dengan berbicara langsung juga bisa mendekatkan ikatan, tatapan mata dan sentuhan bisa menambah keharmonisan keluarga.
Pada saat muncul masalah dalam rumah tangga, kedepankan komunikasi untuk menyelesaikannya. Komunikasi merupakan hal yang penting dalam keluarga, baik di antara pasangan suami istri maupun di antara seluruh anggota keluarga.
Saling berkomunikasi di antara anggota keluarga sangat diperlukan, terlebih lagi hal ini dianjurkan oleh Islam dan dicontohkan Rasulullah saw.. Islam memerintahkan kita bergaul dengan cara yang makruf, saling menasihati dan beramar makruf nahi mungkar sehingga terjadi kehidupan keluarga yang penuh dengan ketenteraman dan persahabatan.
Ketika Allah memerintahkan seorang suami agar bergaul dengan istrinya dengan cara yang makruf sebagaimana layaknya seorang sahabat secara sempurna, sesungguhnya Allah memerintahkan kepada pasangan suami istri untuk berkomunikasi dengan makruf. Firman Allah, “ … Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”(QS An-Nisaa’: 19).
Rasulullah saw. adalah teladan terbaik, beliau bergaul secara makruf dengan keluarganya. Dari Muawiyah al-Qusyairi, Nabi pernah ditanya, “Apakah hak seorang wanita atas suaminya?” Rasulullah menjawab, “Engkau memberinya makan jika engkau makan dan engkau memberi pakaian jika engkau berpakaian. Janganlah memukulnya pada wajah, jangan mencaci maki dan jangan menjauhinya, melainkan dalam rumah.” (HR Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah)
Di sisi lain, Allah pun memerintahkan kepada para istri untuk taat kepada suami, sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nisaa: 34,
فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗ
“Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).“
Berdasarkan hal ini, sangat jelas bahwa Islam memberikan jalan seluas-luasnya kepada pasangan suami istri untuk bisa memupuk dan makin mengukuhkan keharmonisan keduanya dengan mengikuti segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Ramadan Momen Memupuk Keharmonisan Rumah Tangga
Ramadan memang momen kebersamaan dengan pasangan kita. Kebersamaan yang dilakukan di Ramadan akan makin mendekatkan diri kita kepada Allah sekaligus akan menguatkan keharmonisan pasutri . Kebersamaan ini akan menumbuhkan sikap saling sayang dan saling menghormati di antara pasutri.
Momen kerja sama keduanya sangat dibutuhkan. Momen membangunkan anak-anak sahur saja menjadi keseruan tersendiri, berbagi tugas antara suami istri bisa mendekatkan hati. Saling menyemangati dan tentu saja akan makin besar perhatian satu sama lain. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan ini.
Di tengah suasana Ramadan, bertambahnya kualitas dan kuantitas ibadah Ramadan juga akan meningkatkan komunikasi kita dengan pasangan karena memang intensitas pertemuan menjadi lebih lama. Lantas, apa aktivitas yang bisa kita lakukan bersama dengan pasangan sehingga keharmonisan rumah tangga pun makin baik?
1. Tarawih bersama.
Walaupun merupakan amalan sunah, tarawih saat Ramadan sangat dianjurkan. Untuk itu, setiap malam setelah berbuka puasa dan shalat isya, pelaksanaan tarawih berjemaah di masjid juga sangat dianjurkan. Selain untuk salat dan ibadah menghadap Allah, tarawih bersama juga membuat kita bisa bersilahturahmi dan bertemu dengan saudara-saudara muslim lainnya yang jarang bertemu pada bulan selainnya.
Begitu pun dengan keluarga, tarawih bersama bisa menjadi hal yang meningkatkan keharmonisan dan kekeluargaan di dalamnya. Tentu saja, akan makin baik jika dilakukan secara konsisten. Akan tetapi, walau tidak bisa setiap hari, setidaknya ada beberapa waktu yang bisa dijawalkan untuk tarawih bersama karena hukum salat tarawih pada Ramadan adalah sunah, tetapi salat tarawih memiliki keutamaan yang luar Biasa.
2. Bersama menguatkan takarub dengan melaksanakan amalan sunah.
Pada Ramadan ini, kita dan keluarga diberi kesempatan oleh Allah untuk makin menguatkan dan meningkatkan takarub kita kepada Allah. Amalan sunah dan amal kebaikan lainnya bisa dilakukan bersama pada Ramadan ini yang tentu saja tidak boleh kita sia-siakan. Kita bisa memperbanyak membaca Al-Qur’an, kita bisa lakukan tadarus Al-Qur’an bersama keluarga.
Selain itu, setiap anggota keluarga bisa berlomba-lomba melakukan amalan sunah lainnya, seperti salat duha, salat hajat, ataupun salat tahajud. Pasangan suami istri, sebagai ayah dan ibu, memiliki tugas utama untuk memotivasi anggota keluarga untuk melaksanakan amal kebaikan ini. Terlebih ketika tahajud, ibu bisa membangunkan ayah, lalu keduanya membangunkan anak-anak untuk melakukan salat tahajud sebelum makan sahur. Kemudian memanjatkan doa bersama.
Selanjutnya amalan ini kita barengi juga dengan memperbanyak sedekah dan berzikir kepada Allah serta menahan diri dari berbagai hal-hal yang mengundang amarah, karena sesungguhnya Ramadan adalah benteng bagi kita. Hal penting lainnya yang harus kita lakukan adalah banyak berdoa kepada Allah agar Allah berkenan memberikan kesehatan, kemudahan, kelapangan, kelancaran, serta keberkahan bagi kita.
3. Menyiapkan makan sahur dan buka bersama.
Saat Ramadan kita bisa melakukan berbagai aktivitas yang bukan hanya terkait ibadah mahdhah, di antaranya menyiapkan makanan untuk sahur dan berbuka bersama dengan pasangan kita. Terlebih ketika sahur, bisa selalu mengerjakannya bersama.
Memasak makanan bersama adalah salah satu cara menjaga keharmonisan rumah tangga, baik hidangan berbuka ataupun sahur. Sembari memasak, suami dan istri bisa mengobrol hal-hal sederhana, atau sesuatu yang ringan, tetapi bermakna. Bahkan, kita bisa bersama membicarakan tentang kondisi dan permasalahan umat Islam saat ini
Tidak jarang dari percakapan spontan seperti ini kita dan pasangan bisa saling mengenal lebih dalam serta makin paham karakter satu sama lain. Menyiapkan masakan bersama juga bentuk kerja sama. Jadi, tidak melulu istri yang harus memasak, suami juga bisa membantu istri memasak.
Tentu berbeda pada Ramadan, sering kali sahur menjadi momen berkumpul bersama dan saling berdiskusi. Dari aktivitas kebersamaan tersebut akan muncul rasa bahagia dan keharmonisan bisa didapatkan.
4. Berbuka dan menjalankan sahur bersama.
Ramadan memang benar-benar akan menyatukan keluarga muslim, menyatukan hati pasangan suami istri dalam sebuah kebersamaan untuk saling mengasihi dan menyayangi, untuk saling melindungi dan menjaga. Betapa bahagianya bisa berbuka puasa dan makan sahur bersama di rumah.
Ketika berbuka dan sahur bersama, ayah bunda dengan anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya bisa saling bercerita, mendengarkan nasihat ataupun curhatan anak-anak kita sehingga kedekatan kita dengan keluarga akan makin terasa.
Selain itu, momen sahur menjadi momen yang selalu dinanti, karena seluruh anggota keluarga bisa berkumpul dengan lengkap. Tanpa adanya paksaan, momen kebersamaan pada pagi buta tersebut seolah-olah menjadi magnet otomatis bagi seluruh anggota keluarga untuk berkumpul di tengah waktu sahur yang terbatas dan rutinitas kegiatan di luar rumah yang belum dimulai.
Kebersamaan anggota keluarga tersebut terjalin mulai dari rutinitas saling membangunkan dan mengingatkan setiap anggota keluarga untuk bangun sahur. Biasanya ayah bertugas membangunkan anak-anak dan ibu memasak, tetapi ketika ayah tidak berhasil membangunkan salah satu anak, maka ibu turun tangan. Kerja sama antara suami dan istri untuk anak-anak mereka tentu saja akan menguatkan keharmonisan rumah tangga.
Setelah itu, momen kebersamaan pun makin terasa saat seluruh anggota keluarga berkumpul di meja makan untuk menyantap hidangan sahur yang nikmat buatan Ibu. Keberkahan akan melimpah pada keluarga kita. Sabda Rasuluah saw. dari Wahsyi bin Harb dari bapaknya dari kakeknya, “Sesungguhnya para sahabat Rasulullah saw. pernah mengadu, ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya kami makan, tetapi tidak merasa kenyang.’ Nabi bersabda, ‘Mungkin kalian makan sendiri-sendiri?’ ‘Betul,’ kata para sahabat. Nabi lantas bersabda, ‘Makanlah bersama-sama dan sebutlah nama Allah sebelumnya, tentu makanan tersebut akan diberkahi’.” (HR Abu Daud).
Esensi yang didapatkan dari berbuka puasa dan sahur bersama itu bukan hanya diisi dengan makan dan minum, tetapi diwarnai juga dengan perbincangan antara pasangan suami dan istri. Komunikasi akan terjalin dan akan menguatkan keharmonisan pasutri.
5. Saling membagi ilmu Islam.
Ramadan juga merupakan momen kita dan pasangan untuk mengkaji Islam lebih dalam. Keluarga bisa membuat program kebersamaan antaranggota keluarga. Atau ibu dan ayah bisa berbagi dan bercerita mengenai ilmu-ilmu Islam kepada anak-anak.
Hal ini bisa dilakukan di rumah setelah salat subuh berjemaah, misalnya, ayah bunda memimpin kajian ilmu secara bergantian. Jika ada anak yang sudah lebih besar, bisa juga diberi tanggung jawab. Hal ini pun akan menguatkan kedekatan suami istri, karena mau tidak mau, komunikasi keduanya akan berjalan. Dengan begitu, maka akan makin hidup ilmu-ilmu Islam dalam keluarga serta menjadikannya sebagai sumber cahaya keharmonisan keluarga.
6. Tetap mengungkapkan kasih sayang dan saling memberi dukungan.
Menjalankan aktivitas pada Ramadan bukanlah sesuatu yang ringan sehingga tetap membutuhkan dukungan dari pasangan. Seorang istri akan sangat antusias ketika suami memberikan semangat dan melontarkan kata-kata indah atau pujian yang menunjukkan kasih sayangnya kepada pasangan.
Walau ada yang bilang kasih sayang tidak harus dikatakan, pastinya pasangan akan senang mendengarnya langsung. Sesederhana mengatakan, “Waaah, masakan Umi enak sekali, jadi makin sayang.” atau “Semangat, ya!” akan membangun keintiman dan keharmonisan rumah tangga.
Demikianlah, Ramadan memang merupakan momen yang sangat istimewa. Dengan kebersamaan pasangan suami istri dalam menjalankan berbagai aktivitas di dalamnya, biidznillah akan terjalin komunikasi yang baik dan intens. Selanjutnya akan membawa kepada hubungan yang makin harmonis di antara pasangan suami istri. Wallahualam bissawab. [MNews/Rgl]
