[Kabar] Israel Melarang Pria Palestina Memasuki Masjidilaqsa Selama Ramadan

[Kabar] Israel Melarang Pria Palestina Memasuki Masjidilaqsa Selama Ramadan

Muslimah News, INTERNASIONAL—Melansir CNNIndonesia, Kamis (23-3-2023), Israel mengumumkan berbagai aturan untuk warga Palestina selama Ramadan. Salah satunya pembatasan mengunjungi Masjidilaqsa.

Perempuan segala usia, anak laki-laki sampai usia 12 tahun dan laki-laki di atas 55 tahun diperbolehkan masuk Masjidilaqsa selama Ramadan tanpa izin. Sementara itu, pria Palestina berusia 12—55 tahun dilarang memasuki masjid.

Pengecualian diberikan pada pria berusia 45-55 tahun yang diperbolehkan memasuki masjid dengan mengantongi izin khusus terlebih dahulu.

Artinya, Israel membatasi pria Palestina yang ingin menunaikan salat Jumat di Masjidilaqsa selama bulan suci Ramadan.

Menindas

Menyikapi arogansi Israel atas warga Palestina ini, pengamat politik internasional Umar Syarifuddin menilai bahwa menindas menjadi watak dasar Israel.

“Melanggar aturan dan menindas seolah menjadi watak dasar bangsa Israel ini. Salah satunya tergambar dalam berbagai aturan penjajah Israel untuk warga Palestina selama bulan Ramadan, yang melarang mengunjungi Masjidilqsa,” ungkapnya kepada MNews, Sabtu (25-3-2023).

Ia menegaskan bahwa Israel tidak punya hak untuk melarang kaum muslim beribadah di masjidnya. “Semua kecaman dan cacian untuk Israel, tidak menjadikan Israel jeda menzalimi dan menyerang yang makin membuat sempit kaum muslim,” cetusnya.

Ironisnya, Umar menyesalkan, para penguasa negeri-negeri Islam hanya diam, tidak melakukan apa-apa. “Saat Israel melakukan serangan brutal, penguasa di negeri-negeri muslim sekadar ‘berbasa-basi’ dengan menggelar pertemuan tingkat tinggi yang tak berguna, seakan itu perbuatan yang pantas dan cukup sebagai seorang pemimpin. Padahal, setiap detik nyawa manusia siap melayang di tangan Israel,” kritiknya.

Berkhianat

Umar mengatakan, kondisi ini sebagai kebangkrutan besar umat Islam saat ini. Mereka hidup di bawah asuhan para pemimpin khususnya di sekeliling Palestina yang ‘impoten’. Lebih dari itu, yang terjadi sesungguhnya, para penguasa negeri-negeri Islam itu telah berkhianat kepada Allah SWT, Rasul-Nya dan kaum muslim.

“Diamnya mereka tanpa memberikan pertolongan kepada kaum muslim Palestina adalah bentuk persengkokolan jahat mereka dengan bangsa-bangsa penjajah. Mereka seperti orang-orang munafik yang sejak awal kelahiran Islam di bumi Yasrib (Madinah al-Munawarah) bersekongkol dengan orang-orang Yahudi untuk mengeliminasi Rasul saw. dan kaum mukmin,” terangnya.

Umar menyesalkan, para penguasa negeri-negeri Islam saat ini makin menarik diri dari perannya atas nasib kaum muslim di Palestina. “Mereka lebih membela kepentingan mereka sendiri serta kepentingan imperialis modern. Bahkan, di antara mereka dinilai melatih para tentara dan pasukan keamanan hanya untuk menindas umat Islam dan bukan untuk membela kepentingan umat Islam,” ungkapnya.

Yang lebih mengerikan, lanjutnya, para pemimpin Dunia Islam itu malah sering kali mencurigai umat Islam oposisi.

“Di sejumlah negara muslim yang diktator, penguasa sibuk menangkapi aktivis Islam, bahkan memberangus para pejuang Islam. Dengan tipu dayanya, mereka menolerir warga negaranya untuk berteriak menumpahkan kekesalannya melalui berbagai aksi. Namun, pada saat yang sama mereka mengebiri aksi-aksi itu dengan berbagai alasan yang sangat tidak masuk akal. Akibatnya, solidaritas kaum muslim di berbagai negeri di luar Palestina hanya menjadi opini yang tidak berefek pada lahirnya solusi praktis,” ulasnya.

Para penguasa yang meninggalkan Palestina itu, ujar Umar, seperti yang dilukiskan Allah Swt. dalam firman-Nya surah At-Taubah ayat 67,

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian mereka dengan sebagian yang lain adalah sama. Mereka menyuruh kemungkaran, melarang kemakrufan dan menggenggam tangan mereka. Mereka telah melupakan Allah. Allah pun melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah kaum yang fasik.”

Di sisi lain, Umar menilai, ‘kerajaan besar’ yang bernama PBB terbukti telah menjadi media efektif bagi Amerika Serikat dan sekutunya untuk menguasai nasib negeri-negeri Islam melalui para penguasa yang menjadi umala’ (antek-antek)-nya.

“PBB terbukti terlibat dalam berbagai upaya pembantaian massal, seperti di Srebenica. PBB gagal dalam ‘misi perdamaian’-nya di Kongo dengan korban hampir 5 juta orang pada akhir 2000. Akibat mandulnya PBB, pada 1994 pembantaian massal di Rwanda menelan korban hampir 1 juta jiwa. PBB pun hanya menjadi alat legalisasi bagi kepentingan-kepentingan AS, sebagaimana ditunjukkan dalam tragedi Gaza-Palestina saat ini,” jelasnya.

Umar pun mengingatkan sikap yang seharusnya diambil oleh penguasa muslim dan umat Islam. “Walhasil, para penguasa muslim dan umat Islam harus keluar dari penjara besar sistem kapitalisme-imperialis pimpinan AS dan sekutunya. Yang tidak kalah pentingnya adalah membangun kesadaran umat, bahwa mereka sangat membutuhkan kesatuan politik yang efektif yang dibimbing wahyu.” [MNews/IA]

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *