Muslimah News, INTERNASIONAL— Melansir Middleeastmonitor (6-3/2023), saat pasukan pendudukan Israel menyerbu Kota Nablus, Palestina, akhir pekan lalu yang menewaskan 12 warga Palestina dan melukai puluhan lainnya, pejabat keamanan dari Israel, Otoritas Palestina, Mesir, Yordania, dan AS bertemu dalam Konferensi Aqaba, Yordania (26-2-2023) untuk menyelamatkan Israel dan memberinya lampu hijau dalam membunuh lebih banyak orang Palestina.
Sebuah media ideologis Yordania (27-2-2023) juga menyampaikan, konferensi tersebut menghasilkan pernyataan bersama yang merupakan konspirasi dan pengkhianatan terhadap Tanah Suci Palestina dan rakyatnya.
“Atas undangan Kerajaan Hashemite Yordania, pejabat senior dari Yordania, Mesir, Israel, Otoritas Palestina, dan Amerika bertemu di hadapan Brett McGurk, utusan Presiden AS, di Kota Aqaba, Yordania. Setelah diskusi yang komprehensif antara Direktur Dinas Intelijen Otoritas Palestina, Majed Faraj, dan Kepala Dinas Keamanan Internal atau Shin Bet dari Israel, Ronen Bar, pernyataan akhir menekankan hal berikut ,meskipun pertemuan itu disimpan dalam kerahasiaan yang ketat,” bebernya.
Pertama, tulisnya, kesiapan bersama Pemerintah Israel dan Otoritas Nasional Palestina dalam komitmen mereka untuk segera menghentikan tindakan sepihak untuk jangka waktu 3-6 bulan, termasuk komitmen Israel untuk berhenti membahas pendirian apa pun unit pemukiman baru untuk jangka waktu 4 bulan, dan menghentikan persetujuan setiap pos pemukiman baru untuk jangka waktu 6 bulan karena kedua belah pihak menegaskan komitmen mereka atas semua perjanjian sebelumnya di antara mereka.
“Kedua, para peserta pertemuan sepakat mengadakan pertemuan lagi di Sharm el-Sheikh pada Maret, untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan di Aqaba. Ketiga, pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa Amman, Kairo dan Washington menganggap kemajuan pemahaman ini menuju pengaktifan hubungan antara Otoritas Palestina dan Israel,” sebutnya.
Menghentikan Eskalasi Menjelang Ramadan
Media ini menyatakan, Raja Yordania Abdullah II telah berdiskusi dengan utusan Gedung Putih Brett McGurk tentang “ketenangan” dan pengurangan ketegangan di wilayah Palestina. “Tujuannya menghentikan eskalasi antara Israel dan rakyat Palestina, terutama dengan pendekatan Ramadan dan berhenti merusak terwujudnya peluang solusi dua negara,” cetusnya.
Perlu dicatat, rilisnya, pertemuan ini terjadi beberapa hari setelah pembantaian yang dilakukan oleh pasukan Israel di Nablus yang mengakibatkan kematian 11 syuhada dan lebih dari 100 orang terluka, sebagai bagian dari rangkaian penyerangan brutal terhadap rakyat Palestina sejak munculnya pemerintahan sayap kanan Netanyahu, dan perluasan permukiman. “Bahkan, terakhir adalah persetujuan pembangunan 3 ribu unit baru,” urainya.
Media ini mengungkapkan, pertemuan keamanan ini terjadi akibat ketakutan pihak-pihak yang berkumpul—dipimpin oleh Amerika—yang mengatur skenario pertemuan ini, ledakan situasi di wilayah pendudukan dan intifadah ketiga yang mungkin telah dimulai, sebagai akibat berlangsungnya beberapa peristiwa di bawah pemerintahan Netanyahu sehingga membutuhkan seringnya kunjungan pejabat senior politisi Amerika.
“Yang terbaru adalah peringatan Amerika terhadap pembangunan pemukiman, mengubah status saat ini, dan menggunakan kekuatan berlebihan,” jelasnya.
Terselubung
Pernyataan tersebut, sindir media ini, selalu terselubung oleh komitmen Amerika untuk Israel, tetapi dalam kerangka solusi dua negara rancangan Amerika yang sedang dirusak dan ketidakmungkinan kemunculannya di “oasis” yang tersisa di antara pemukiman.
“Pertemuan ini didahului oleh godaan, bahkan persetujuan yang memalukan dari para penguasa Arab kepada Israel, terlepas dari arogansi dan keangkuhannya, dengan harapan bisa puas dengan hal yang disebut gencatan senjata, seperti yang diberitahukan UEA kepada Dewan Keamanan bahwa itu akan terjadi saat tidak dilakukan pemungutan suara pada Senin untuk rancangan resolusi yang meminta Israel untuk segera menghentikan kegiatan pemukiman di wilayah pendudukan,” paparnya.
Media ini mengkritisi Presiden Otoritas Palestina, Mahmoud Abbas yang mencabut keputusan untuk mengutuk permukiman tersebut sebelum pemungutan suara di Dewan Keamanan.
“Imbalannya hasil pertemuan Aqaba yang berbahaya. Otoritas Palestina juga mencabut keputusannya untuk menghentikan koordinasi keamanan dengan pemerintah dan tentara pendudukan, untuk memainkan peran kotornya dalam menekan perlawanan heroik di wilayah Palestina,” kritiknya.
Media ini juga menyesalkan ketika ada yang berharap bahwa pertemuan Aqaba akan menghasilkan dimulainya kembali negosiasi politik antara Otoritas Palestina dan Israel, atau Israel akan menghentikan eskalasinya terhadap tindakan sepihak dalam agresi terang-terangannya sejak pendudukan Palestina, Al-Aqsa dan Yerusalem.
“Atau harapan bahwa eskalasi ini tidak akan menghasilkan ledakan revolusi besar-besaran melawan Israel mengerikan ini adalah harapan palsu dan fatamorgana yang tidak disadari oleh Israel maupun semua pendukungnya, atau bahkan Amerika, meskipun mensponsori utusannya McGurk selama berminggu-minggu negosiasi rahasia antara PA dan Netanyahu,” bebernya.
Bencana
Akibatnya, media ini mengingatkan, itu akan menjadi bencana bagi mereka . “Pertemuan serta koordinasi keamanan dan politik mereka akan gagal total. Telah dibuktikan kepada rakyat Palestina dan sesungguhnya kepada seluruh umat,” ujarnya.
Kemudian, imbuhnya, setelah Konferensi Aqaba dengan hasilnya yang mendukung Israel, pernyataan para pemimpin Israel itu menekankan firman Allah Swt. dalam surat Al-Maidah ayat 78,
“Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan (ucapan) Daud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.”
Media ini mengungkapkan kesombongan dan kepengecutan mereka. “Perdana Menteri Yahudi menyatakan bahwa pembangunan pemukiman dan undang-undang pos terdepan di Tepi Barat akan berlanjut tanpa perubahan apa pun. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengatakan bahwa ia tidak akan menyetujui pembekuan aktivitas pemukiman di Tepi Barat yang diduduki. Adapun yang disebut Menteri Keamanan Nasional, Ben Gvir He bahwa yang terjadi di Yordania tetap di Yordania,” ucapnya.
Solusi
Namun, media ini mengingatkan, solusi yang sah dan praktis untuk masalah Palestina, serta dalam menghadapi konspirasi terus-menerus terhadap Palestina dan rakyatnya, adalah dengan mengirimkan tentara untuk menggulingkan Israel dari akarnya.
“Rakyat Palestina membutuhkan laki-laki, untuk laki-laki, dan kehormatan besar ini hanya akan berada di tangan anak-anak Khilafah Rasyidah (kekhalifahan yang dipimpin dengan benar), yang insya Allah akan segera didirikan,” tandasnya sekaligus menutup dengan surat Al-Maidah ayat 51,
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); mereka satu sama lain saling melindungi. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” [MNews/Ruh]
